Meski jumlahnya nggak sebanyak penggemar drama Korea, namun ternyata penggemar anime di Indonesia juga terbilang lumayan. Penggemar kartun Jepang bukan datang dari kalangan anak-anak saja, tak sedikit orang dewasa juga menyukai animasi asal Negeri Sakura tersebut.

Memang sih, menyukai anime bisa dianggap sebagai hobi yang remeh. Tapi, siapa sangka jika penggemar anime dengan kadar terlalu ekstrim juga bahaya. Dampaknya bisa mengganggu psikologi. Buat kalian yang merasa jadi penggemar anime garis keras, mending waspada, jangan sampai kalian kena penyakit psikologi berikut ini:

Weeaboo

weeaboo

Weeabo juga biasa disebut Wapanese, singkatan dari want yo be Japanese atau Japanese wannabe alias orang Jepang jadi-jadian. Penggemar anime sendiri belum tentu disebut Weeaboo. Orang yang bisa disebut Weeaboo adalah gemar mempertontonkan dirinya yang sangat Jepang, bahkan melebihi orang Jepang asli. Sebenarnya, mereka sangat terobsesi dengan Jepang hingga bertingkah seolah sedang tinggal di Jepang, bersifat seperti orang Jepang, bahkan berbicara dengan gaya Jepang. Weeaboo juga tipe yang akan mengamuk jika ada yang berani menjelek-jelekan junjungannya (Jepang). Fenomena Weeaboo sendiri sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Chuunibyou

Chuunibyou

Penyakit atau sindrom satu ini biasanya ditemukan pada remaja atau usia puber seperti anak SMP. Namun, ada juga beberapa anak-anak SMA yang mengalami hal serupa. Gejala dari sindrom ini adalah ketika seseorang bersikap seolah-olah dia memiliki kekuatan supranatural. Penderita Chuunibyou biasanya sombong, atau kerap meremehkan orang-orang di sekitarnya. Contoh orang yang mengidap Chunibyou adalah mereka yang suka meniru atau bergaya seperti tokoh anime, kamen rider atau power ranger, serta sekitaran tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan di atas manusia biasa.

Hikikomori

Hikikomori

Hikikomori Adalah tindakan menarik diri dari kehidupan luar. Mereka tidak pernah keluar dari kamar atau rumah. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa Hikikomori merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh faktor keluarga, seperti ayah yang terlalu sibuk atau ibu yang memanjakan anak. Namun, maraknya video game di Jepang juga diyakini jadi penyebab adanya fenomena Hikikomori. Puncak dari fenomena tersebut dari tahun 1999-2000, setidaknya ada 2 juta remaja yang terkenal sindrom Hikikomori. Yang bahaya, semakin tua usia Hikikomori, semakin kecil pula kemungkinan orang tersebut bisa kembali kompeten dengan dunia luar, seperti bekerja bahkan menikah.

Nijikon

Nijikon

Bagi penggemar anime, tentu ada rasa ketertarikan khusus pada tokoh-tokoh dua dimensi yang sejatinya tidak nyata. Tokoh anime hanyalah kertas atau sebatas layar. Nijikon sendiri merujuk pada orang yang sangat terobsesi pada tokoh dua dimensi, alias tokoh anime, manga atau game. Seorang Nijikon laki-laki, biasanya sangat mencintai karakter perempuan di anime. Parahnya, seorang Nijikon baik itu perempuan atau laki-laki, bisa kehilangan minat seksual terhadap manusia lawan jenis di kehidupan nyata. Kasusnya sendiri sudah terjadi pada pemuda Korea bernama Lee Jin Gyu, dia menikahi sebuah bantal besar yang menampilkan tokoh anime favoritnya Fete Testarossa.

BACA JUGA: Inilah 10 Kelakuan Nyeleneh Fans Fanatik Anime yang Bikin Tepok Jidat, Jangan Ditiru Ya!

Bisa jadi selama ini kita memandang para penggemar anime itu biasa saja, hobi tersebut hanya salah satu jenis dari banyaknya kegemaran orang-orang di seluruh dunia. Namun, menyukai apa pun, jika sudah kelewatan memang nggak baik. Semoga kita bisa mengontrol rasa suka hingga nggak sampai terjangkit penyakit psikologi tersebut.