Semakin bergengsinya sebuah sepak bola di suatu negeri, ditandai dengan makin banyaknya para pemain asing yang singgah di sana. Apalagi kalau para pemain asing tadi sempat merasakan kompetisi Eropa, berarti makin terbukti kualitasnya. Nah di Indonesia pun ternyata demikian, buktinya banyak para pemain Belanda yang rela hijrah ke bumi pertiwi, yang mungkin sekarang sudah banyak jumlahnya.

Artikel Lainnya
Bukan Inggris atau Tiongkok, Bangsa Inilah yang Dipercaya Pertama Kali Memainkan Sepak Bola
Jangan Dilakukan! Tidur Tengkurap Memiliki Efek Buruk Bagi Kesehatanmu

Namun di balik semua itu, selain masalah kompetensi, ternyata masih banyak beberapa alasan mengapa pemain Belanda datang ke Indonesia. Mulai dari masalah keturunan hingga finansial. Bahkan mereka tak ragu jika harus meninggalkan klub ternamanya. Lalu kenapa bisa seperti itu? Simak ulasan berikut.

Adanya darah Indonesia, membuat mereka kembali “Kampung halaman”

Tidak dapat dipungkiri, kebanyakan para pemain Belanda yang ngebet buat dinaturalisasi adalah memang adanya darah Indonesia yang mengalir dalam dirinya. Ya, rasa rindu rumah tempat nenek moyangnya lahirlah yang umumnya jadi alasan utama mereka kembali.

erza walian di indonesia

Selain itu, dengan kembali ke bumi pertiwi, bukan hanya bisa mengharumkan nama bangsa, namun juga mampu ikut meningkatkan kualitas sepak bola di Indonesia. Oleh sebab itu, pemain sekelas Erza Walian dan Stefano Lilipaly jadi lebih merumput dan membela timnas ketimbang negara tempat mereka dilahirkan, meskipun mereka bakal banyak berkorban. Namun itulah bukti cinta pemain Belanda keturunan Indonesia pada negeri ini.

Mantan Rekannya jaya di Indonesia, jadi ingin ikut ke Indonesia

Mungkin nama lapangan hijau Indonesia benar-benar sudah jadi ladang emas bagi para pesepak bola Belanda. Buktinya beberapa pemain Belanda yang mantan rekan setimnya di naturalisasi oleh Indonesia, ngebet pingin pindah ke bumi pertiwi juga.

Jordy Turtuarima dan Kyle Jeffrie

Tidak usah jauh-jauh, kita lihat saja Jordy Turtuarima teman Stefan Lilipaly dan Kyle Saffrie sahabat Erza Wilian yang menyatakan pingin banget agar dinaturalisasi juga. Padahal kalau ditengok karir mereka, para pemain itu punya masa depan sangat cerah di negara kincir angin itu. Kembali lagi, di mata mereka kompetisi di negeri ini mungkin dianggap sebagai tantangan baru.

Kompetisi yang berbeda jadi sebuah pengalaman baru

Hal lain yang membuat para pemain asal Belanda kepincut main di Indonesia, ya karena adanya keinginan merasakan sebuah kompetisi yang berbeda. Ya, hal itulah yang diucapkan oleh para pemain naturalisasi saat ditanya alasan mereka pindah negara. Ya siapa sangka di balik persaingan yang hanya berkutat di Asia Tenggara, namun kesulitan yang dihadapi sama dengan saat mereka berada di Eropa.

Stefano Lilipaly ngebet ke Indonesia [image source]
Ini membuktikan kalau sejatinya sepak bola di Indonesia dan Asia tenggara punya kesempatan yang untuk go internasional, namun hanya karena satu dan beberapa hal lainnya yang membuatnya jadi stagnan di keadaan itu saja.

Bayaran yang menjanjikan, bikin mereka ingin bertanding di Indonesia

Hal terakhir yang sering jadi alasan utama para pemain Belanda terutama keturunan Indonesia main di negeri ini ya karena adanya bayaran yang sangat menggiurkan. Memang sih, kadang untuk beberapa pemain gaji yang ditawarkan lebih rendah ketimbang klub lama, tapi ya kalau biaya hidupnya murah meriah ya lain lagi ceritanya.

Van Beukering yang dulu sempat ke Indonesia [image source]
Nah apalagi kalau ditambahi ada testimoni seperti alasan kedua, makin ngebet lah para pemain itu ke Indonesia. Meskipun nantinya, ada yang berhasil jadi pemain bintang di negeri ini, namun ada pula yang malah melempem tidak sesuai dengan yang dicita-cita kan, alias Indonesia jadi rugi bandar.

Sejatinya banyaknya para pemain naturalisasi yang merumput di Indonesia itu menjadi bukti bagaimana bergengsinya kompetisi di negara ini. Bukanya pemain lokal tidak berkompeten, mereka tetap hebat dan gak kalah dengan yang lainnya. Bisa dibilang pemain naturalisasi dan lokal itu ibarat dua sayap sang garuda, keduanya saling melengkapi dan mengantarkan Indonesia ke puncak dunia.