Ojek bukanlah sesuatu yang wah lagi di era sekarang, terlebih sudah ada yang sistemnya online. Tinggal install aplikasi di ponsel pintar, kamu akan dijemput sesuai lokasimu berada sekarang. Tak hanya mengangkut manusia saja, di Indonesia juga tersedia jasa pesan-antar makanan, kirim barang, serta minta dibelikan sesuatu di pasar bisa memakai jasa sang ojek.

Namun, di benua Afrika tepatnya ada hal yang tak biasa dibawa oleh para ojek ini. Mereka tidak mengangkut manusia, melainkan jenazah yang terlihat sedikit ekstrem dan mengerikan. Lantas, seperti apakah nyali para sopir yang berani membawa orang yang sudah meninggal ini? Langsung simak ulasan Boombastis berikut ya.

Boda-boda yang terkenal di Kongo

Boda Boda [Sumber gambar]
Berita ini menjadi santer setelah seorang warganet bernama PK Kasrim mengunggah sebuah foto mayat yang berada di boncengan belakang sepeda motor di akun facebook pribadinya. Hal ini ternyata terjadi di Republik Kongo. Angkutan ojek jenazah ini sendiri disebut Boda-boda. Adapun cara membawanya yaitu dengan mendudukkan jenazah ke jok belakang, kemudian di ikatkan kepada sang pengemudi agar tak jatuh. Sebelumnya, orang tersebut dibungkus dengan kain dari ujung kaki sampai kepala seperti mereka yang sudah meninggal pada umumnya.

Upah ojek yang mahal dan menjanjikan

Upah yang menjanjikan ojek mayat [Sumber gambar]
Layaknya ojek yang sering kita temukan, mereka memilih menjalani profesi ini tak lain karena upahnya yang menjanjikan, walau tidak disebutkan nominalnya. Jenazah tersebut biasanya diangkut dari rumah duka atau kamar mayat menuju ke pemakaman. Pengemudi haruslah mempunyai nyali yang kuat dan mengantar jenazah dengan penuh tanggung jawab. Wah, cukup membuat merinding juga ya?

Praktik yang dilakukan oleh keluarga miskin

Ojek mayat di Vietnam [Sumber gambar]
Mengapa hal ini bisa terjadi? Yap, praktik antar mayat menggunakan jasa sepeda motor ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebelum ojek berpenumpang istimewa ini viral, praktik yang sama juga sering terjadi di Uganda dan Vietnam. Kebanyakan keluarga miskin yang tak mampu menyewa mobil ambulance yang mahal, mereka akan memanfaatkan jasa para ojek. Meski hal ini mengundang kontra dari beberapa pihak, namun mereka tak punya pilihan selain membawa orang yang mereka cintai dengan cara itu.

Ternyata Indonesia juga ada kejadian seperti ini

Praktik yang terjadi di Kongo dan Uganda ini juga beberapa kali digunakan oleh para masyarakat pelosok Indonesia. Seperti yang pernah dialami oleh masyarakat Sulawesi dan Kalimantan. Buruknya kondisi jalan yang tidak memungkinkan bisa dilalui mobil, membuat ojek menjadi satu-satunya alternative yang bisa membawa si mayat menuju peristirahatan terakhirnya. Di rumah sakit Ulin, Barjarmasin, Kalimantan juga sering terjadi hal serupa. Bila didapatkan keluarga mayat yang rumahnya tidak ada akses kendaraan roda empat, maka mayat akan dinaikkan ke ojek mayat.

Sebenarnya, jenazah yang sudah meninggal pun harus tetap diperlakukan sama seperti manusia yang hidup. Namun, dalam hal ini tak ada yang bisa disalahkan mengingat memang keluarga yang bersangkutan memiliki keterbatasan ekonomi serta ketersediaan fasilitas yang masih belum memadai. Semoga pelosok Indonesia yang masih menggunakan cara ini juga bisa mendapat kemudahan setara di kota ya Saboom.