Kalau orang kaya dermawan, itu mah sudah biasa. Beda lagi kalau orang yang masih sangat kekurangan lantas rajin bersedekah, baru istimewa namanya. Karena kadang kala, yang banyak harta saja masih enggan berbagi, memilih menumpuk kekayaannya lebih banyak lagi dan lagi. Tapi di sisi lain, yang tak berharta malah lebih terpanggil untuk bersedekah.

Kisah nyata kaum papah yang gemar bersedekah datang dari Kota Purwakarta. Dialah Mak Eri, nenek 70 tahun yang selalu menyimpan kepedulian bagi sesamanya. Meski didera himpitan ekonomi dan harus bertahan hidup dengan susah payah, tak membuat nurani Mak Eri mati dan lupa pada sesamanya. Berikut ini rangkuman Boombastis.com terkait kisah hidup Mak Eri yang bakal membuatmu yang jarang bersedekah bakal tertampar.

Rutin memberikan beras pada warga lain yang tak beruntung

Ilustrasi kebiasaan berbagi beras [Sumber Gambar]
Sejak dulu, bukan rahasia lagi jika Mak Eri suka berbagi. Meski hanya tinggal di gubuk kecil, warga RT 16 RW 7 Kelurahan Purwamekar, Kecamatan Kota Purwakarta, Kabupaten Purwakarta itu tak pernah absen mengumpulkan beras parelek untuk warga lain yang kurang beruntung. Beras perelek sendiri merupakan kebijakan yang digagas Bupati Dedi Mulyadi untuk membantu sesama dengan media beras. Caranya, warga yang mampu mengumpulkan satu gelas beras setiap satu minggu. Beras-beras ini kemudian dikumpulkan oleh petugas desa untuk kemudian dibagikan kepada warga kurang mampu.

Memberikan beras dua kali dalam seminggu

Mak Eri [Sumber Gambar]
Siapapun yang melihat, tentu setuju kalau Mak Eri masuk kategori warga kurang mampu yang tak perlu ikut menyumbang. Tapi kembali lagi, berbagi diakui Mak Eri adalah suatu kesenangan bukan beban. Diam-diam, beberapa orang melihat Mak Eri tak hanya sekali, tapi perempuan ini dua kali mengisi beras perelek ke ruas bambu yang disediakan petugas di depan rumahnya. Biasanya hari Sabtu dan Minggu Mak Eri mengisi beras perelek. Dan yang membuat terharu, jika terpaksa tak ada beras untuk dimasukkan ke dalam bambu, Mak Eri menggantinya dengan uang sebesar Rp 2000.

Hanya berprofesi sebagai penjual uli ketan dan gorengan

Ilustrasi gorengan [Sumber Gambar]
Beras yang disumbangkan nenek tiga anak ini diperoleh dari bekerja sehari-hari sebagai pembuat gorengan. Gorengan yang Mak Eri buat, ia titipkan ke warung-warung yang berada di sekitarnya. Hasil penjualan gorengan sebagian digunakan untuk modal untuk berjualan lagi, sebagian disisihkan untuk membeli beras termasuk yang ia gunakan untuk menyumbang tiap Sabtu-Minggu. Meski memiliki anak, Mak Eri tak mau menyusahkan anaknya dan berjuang sendiri menyambung hidupnya.

Karakter Mak Eri menggugah hati Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi

Mak Eri dan Bupati Purwakarta [Sumber Gambar]
Keseharian Mak Eri yang suka berbagi membuat orang-orang tak henti-hentinya kagum. Setiap hari, kebaikan Mak Eri menjadi buah bibir orang di sekitarnya hingga sampailah pada Bupati Dedi Mulyadi. Menurut Dedi, karakter Mak Eri bagus untuk ditiru semua orang, terkhusus kalangan berada. Memang di zaman sekarang ini, sangat susah mencari orang yang benar-benar peduli sesama  dengan tulus.

Rumah hampir roboh, pemerintah bantu pembangunan ulang

Rumah Mak Eri yang dirobohkan [Sumber Gambar]
Tinggal seorang diri di gubuk berukuran 4 x 5 meter dengan pondasi semi permanen tentu tidak aman bagi Mak Eri. Karena itu, pemerintah melalui bantuan rumah tak layak huni (rutilahu) merobohkan rumah Mak Eri dan membangnnya kembali. Sambil melihat langsung proses pembangunan rumah tersebut, Bupati Dedi juga memberikan bantuan modal untuk Mak Eri suaya bisa mendirikan toko untuknya berjualan gorengan.

BACA JUGA: 5 Kisah Keajaiban Sedekah yang Bikin Kita Ikhlas Kosongkan Dompet

Percaya nggak percaya, kebaikan buahnya adalah kebaikan yang lebih besar. Contohnya saja kisah Mak Eri yang dengan rela berbagi di tengah kesempitan, dan siapa sangka pertolongan Tuhan lantas datang kepadanya. Kini, Mak Eri bisa tinggal nyaman di rumah baru tanpa harus khawatir rumahnya roboh lagi.