Sebagai salah satu makhluk paling misterius di muka bumi, keberadaan Yeti yang dipercaya mendiami sebagian wilayah bersalju di lereng pegunungan Himalaya, senantiasa diburu oleh mereka yang penasaran. Tak jarang, para pencari fakta ini kerap menggelar sebuah misi khusus untuk mencari tahu keberadaan Yeti yang sebenarnya.

Sesuai cerita yang dipercaya turun temurun hingga saat ini, sosok Yeti digambarkan sebagai makhluk berbulu tinggi besar dan menyerupai seekor kera. Medan sulit, ditambah dengan badai salju yang menutupi pandangan mata, membuat sebagian para pencari fakta kesulitan menemukan jejaknya. Namun, tantangan alam tersebut akhirnya sirna setelah sosok asli Yeti terungkap.

Mitos yang menjadi dongeng hingga diwariskan dari generasi ke generasi

Bagi masyarakat Nepal dan Tibet yang tinggal di sekitaran Himalaya, sosok Yeti yang dalam bahasanya disebut Bonmanche yang berarti “manusia liar” atau “Kanchanjunga rachyyas” yang bermakna “Iblis Kanchanjunga”, merupakan legenda yang telah menjadi kearifan lokal setempat.

Meski belum terungkap secara jelas, cerita yang ada akhirnya berkembang ke mana-mana dengan banyak versi dan diwariskan dari generasi ke generasi. Hal inilah yang memicu orang-orang barat, tertarik untuk memulai penelitian secara individu maupun dalam kelompok besar.

Berawal dari penampakan oleh seorang penjelajah saat berada di pegunungan Himalaya

Catatan resmi mengenai Yeti, pertama dituliskan oleh seorang penjelajah Inggris yang bernama B. H. Hodgson. Saat Journal of the Asiatic Society of Bengal yang dikutip dari bbc.com menerbitkan laporannya pada 1832 mengatakan, Ia mengatakan melihat seekor makhluk yang penuh bulu panjang dan gelap yang menurutnya adalah seekor orangutan.

Ilustrasi penampakan diduga Yeti [sumber gambar]
Di tahun 925, fotografer N. A. Tombazi mencatat pengalamannya melihat Yeti, di mana ia melihat sesosok makhluk tinggi dan telanjang yang menarik-narik tanaman rhododendron di ketinggian 4.500 meter. Fenomena ‘penampakan’ ini pun akhirnya dipakai menjadi dasar digelarnya berbagai misi untuk mencari keberadaan Yeti.

Misi penelitian dikerahkan untuk mencari keberadaannya

Sebagai imperium terbesar pada zamannya, Pemerintah Third Reich pimpinan Hitler lewat Nazi-nya juga ikut terjun menyelidiki hal tersebut. Laman bbc.com menuliskan, mereka bergerak ke dengan sebuah ekspedisi ke Nepal, sesaat sebelum dimulainya Perang Dunia Kedua. Surat kabar Daily Mail Inggris, juga tak ingin kalah dan mengirim tim untuk menjelajah ke sana pada tahun 1953.

Potret jejak kaki diduga Yeti yang difoto oleh Eric Shipton pada 1951 [sumber gambar]
Hingga pada suatu saat, kesimpulan seorang penjelajah yang bernama Ernst Schäfer, berpendapat bahwa Yeti hanyalah seekor beruang. Teori Schäfer inilah, yang kemudian berkembang dan dipercaya oleh generasi pada tahun-tahun berikutnya. Tepatnya di medio 80-an.

Hasil temuan yang mengungkap sedikit dari teori yang ada tentang sosok Yeti

Salah seorang pendaki gunung asal Italia Reinhold Messner, mengaku telah membunuh sesosok makhluk yang selama ini diduga banyak orang sebagai Yeti pada tahun 1986. Dikutip dari bbc.com, ia mengklaim bahwa makhluk misterius itu adalah spesies beruang yang terancam punah-entah itu beruang coklat Himalaya atau beruang biru Tibet – yang bisa berjalan dengan kaki belakang mereka.

Reinhold Messner, yang mencetuskan bahwa Yeti kemungkinan adalah beruang [sumber gambar]
Hingga pada akhirnya, Profesor Denmark Dr Charlotte Lindqvist menguatkan dugaan dari peristiwa tersebut. “Temuan kami mengukuhkan bahwa dasar-dasar biologis legenda Yeti dapat ditemukan dalam beruang-beruang setempat,” kata Charlotte, dari University of Buffalo, New York yang dikutip dari bbc.com.

Penyelidikan lanjutan masih akan terus dilakukan

Meski Charlotte memiliki kesimpulan atas teorinya, pendapatnya itu masih diragukan lantaran ia dan timnya terbukti menggunakan sisa-sisa jasad beruang tua yang mati. Laman bbc.com menuliskan, hal ini diketahui dari tes DNA dan membuat hipotesanya masih bisa dikoreksi dengan fakta lain yang lebih relevan. Meski temuan tersebut masih dipegang hingga saat ini, tak menutup kemungkinan Yeti yang asli dipercaya masih berkeliaran di lereng Himalaya.

Pendaki di Himalaya [sumber gambar]
Saya pikir masih ada kemungkinan bahwa ada spesies primata atau yang lebih canggih dari primata yang belum dikenal, yang masih harus diselidiki keberadaannya di Asia Tengah,” kata Jonathan Downes, direktur Center for Fortean Zoology, kepada Guardian yang dikutip dari bbc.com.

BACA JUGA : 5 Makhluk Mitologi ini Kemungkinan Ada Berdasarkan Teori Evolusi yang Dikembangkan Manusia

Yeti dan makhluk sebangsanya, telah terlanjur menjadi mitos dan diceritakan secara turun-temurun. Pun dengan gambaran sosoknya yang dicitrakan sebagai monster menakutkan, juga belum sepenuhnya benar. Alhasil, banyak yang mempercayai keberadaannya tanpa pernah tau kebenaran dari informasi tersebut. Tapi yang jelas, ada atau tidaknya Yeti di pegunungan Himalaya akan tetap menjadi misteri tersendiri, yang entah sampai kapan untuk terus dipercayai. Kalau kamu percaya gak Sahabat Boombastis?