Bergulirnya sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia di masa lalu, banyak meninggalkan beragam kisah tragis. Salah satunya ada pada sebuah gerbong barang kereta api milik kolonial Belanda. Dari rekam jejak sejarah yang tertulis, ada banyak masyarakat sipil dan sebagian pejuang Indonesa yang menjadi korban di dalamnya. Peristiwa berdarah itupun akhirnya diabadikan dalam sebuah nama, yaitu Gerbong Maut. Sebuah kejadian tragis yang mewarnai perjalanan Sejarah RI.

Saya pun melakukan wawancara sekaligus observasi kepada Bapak petugas Museum Brawijaya Malang, dan mencari data-data valid terkait dengan peristiwa yang ada. Kisah ini, nantinya akan disajikan menjadi tiga babak. Di mana tiap ceritanya memiliki alur peristiwa yang berkaitan satu dengan lainnya. Semua kejadian itu, berawal dari aksi polisionil Belanda yang menangkapi para gerilyawan dan penduduk sipil. Mereka dianggap membantu para pejuang dan kemudian menjebloskannya ke penjara.

Para tahanan dikumpulkan di halaman stasiun [sumber gambar]
Kebanyakan dari warga sipil merupakan pedagang, guru, dan pegawai perkebunan. Jumlah mereka lebih dominan pada saat itu dibanding dengan para pejuang. Karena napi yang ditangkap cukup banyak, petugas penjara terpaksa memindahkan sebagian orang yang dianggap sebagai gerilyawan sebanyak 100 orang. Proses itu terpaksa dilakukan untuk mencegah para ekstremist melakukan penyerangan terhadap petugas. Mengingat, keamanan penjara tak seketat di markas pertempuran. Hingga pada Sabtu sore tanggal 22 November 1947, nama ke-100 pejuang yang akan bernasib nahas itu dipanggil oleh sipir untuk diberangkatkan ke penjara Bubutan, Surabaya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kuswari (salah satu pelaku Gerbong Maut) yang dikutip dari jurnal skripsi Suhartoko berjudul Peristiwa Gerbong Maut (1999) , dirinya saat itu sedang ditahan di markas Veiliqheids dienst Mariniers Brigade (VDMB), untuk dilakukan proses interograsi. Pada jam 17.00, ia dikumpulkan bersama tahanan lainnya di kamar 17.

Ilustrasi tahanan gerbong maut [sumber gambar]
Tanggal 22 November 1947, Kuswari bersama 100 orang lainnya dipindahkan dan berkumpul menjadi satu di ruang nomor 10. Keesokannya pada 23 November 1947, mereka dibangunkan pukul 3.30 oleh sipir guna diberi penjelasan singkat dan disuruh mandi. Beranjak ke 4.30, terdengar panggilan agar para tahanan mengambil barang-barang pribadi mereka di kantor.

Komandan VDMB, Van Der Doord, kemudian datang pada pukul 5.00 WIB. Saat itu, para tawanan disuruh berbaris di muka rumah penjara untuk diabsen. Mereka selanjutnya digiring menuju stasiun dengan berjalan kaki. Pemindahan tahanan ini sejatinya bukanlah hal yang baru dan seringkali dilakukan saat kapasitas penjara telah penuh. Alhasil, saat proses pemindahan dilakukan, para penduduk setempat sering bergerombol di sekitar stasiun untuk melihat-lihat.

Ilustrasi penumpang gerbong maut [sumber gambar]
Berdasarkan brosur yang dikeluarkan oleh Panitia Peringatan peristiwa Gerbong Maut (1958) di halaman 4 menjelaskan, Banyak penduduk yang hadir di stasiun untuk sekedar ingin tahu. Apakah kerabat, sanak saudara, dan familinya ada yang diangkut pada saat itu. Belanda pun tak kalah cerdik. Mereka mengubah jadwal keberangkatan menjadi pukul 22.00 malam sampai 05.00 pagi. Alhasil, para penduduk tak bisa melihat karena saat itu sedang diberlakukan jam malam.

Pengiriman tahanan pada 23 November itu sendiri, merupakan yang paling nahas dan memakan banyak korban. Hal ini sejalan dengan pengakuan Singgih (salah satu penumpang selamat) yang termuat dalam brosur Peristiwa Gerbong Maut (1958) di halaman 1. Saat itu, para tawanan telah dipersiapkan sejak pukul 4.50 pagi. Di mana mereka semua dimasukan ke dalam gerbong barang yang terkunci rapat.

Ilustrasi kereta mulai diberangkatkan [sumber gambar]
Gerbong tersebut terdiri dari tiga rangkaian. Pertama Gerbong GR No. 5769 berisi 32 orang. Kedua, Gerbong GR No. 4416 berisi 30 orang. Yang ketiga, Gerbong GR No. 1052 yang berisi 38 orang. Semua rangkaian akan diberangkatkan sembari menunggu kedatangan kereta api dari jurusan Situbondo menuju Kalisat, Jember, Jawa Timur.

Sayang, kereta yang ditunggu agaknya datang terlambat. Sementara itu situasi di dalam rangkaian gerbong semakin gaduh. Riuh tak terkendali. Hal ini disebabkan udara yang ada semakin pengap dan panas karena terkunci rapat. Belum lagi ditambah dengan puluhan orang yang saling berdesak-desakan karena ukuran gerbong yang sempit. Semakin membuat panik situasi.

Ilustrasi perjalanan gerbong maut akan dimulai [sumber gambar]
Dari sini saja kita bisa bayangkan ya Sahabat Boombastis. Sebelum mulai perjalanan, para tahanan sudah mulai merasakan hawa panas dari akibat terkunci rapat di dalam gerbong. Konstruksi rangkaian yang tak memiliki jendela itu, semakin membuat mereka tersiksa setiap jamnya. Bayangkan jika dirimu ada di dalam bersama para tahanan. Sungguh merupakan peristiwa horor yang sangat menakutkan. Setelah kereta datang, Gerbong pun perlahan mulai bergerak. Dari sini, kisah para penumpang akan berlanjut pada episode Neraka di Tengah Perjalanan.