Gambaran terjadinya “kiamat” karena perang nuklir dengan Korea Utara dan Rusia seolah menjadi “momok” serius yang menghantui Amerika Serikat. Di setiap waktu, militer Amerika Serikat terus bersiaga dengan senjata nuklirnya dan kerap “mencari berita” lewat mata-mata melalui negara sekutunya. Di saat yang sama, ancaman juga muncul dari moncong nuklir milik Tiongkok yang siap meluncur.

Alhasil, barisan prajurit khusus pun disiagakan hanya untuk mengontrol “tombol” nuklir milik Amerika Serikat. Tidak hanya dari kalangan pria saja yang menjadi operator nuklir, “pasukan elit” bernama Missileers yang semua anggotanya wanita ini, juga memiliki tanggung jawab yang sama. Tak pelak, hal ini pun menjadi sebuah pertanyaan besar, bagaimana mereka menjalankan tugas yang berbau “lelaki” tersebut.

Proyek pertama kali dijalankan pada 1978

Kru Titan Missile jaman “old” [image source]
Para kru Missileers tersebut mulai aktif menjadi personel pada 1978 semasa Amerika Serikat meluncurkan proyek rudal Titan II. Saat itu, sebanyak 42 personel wanita bertugas dengan sistem formasi all male atau all female. Hal ini dikarenakan karena berkaitan dengan masalah privasi, moral dan hubungan. Para wanita tersebut menjalani sistem ini hingga penonaktifan sistem rudal antara tahun 1984 hingga 1987.

Artikel Lainnya
Mengenal Delusion of Grandeur, Penyakit Langka yang Menyerang Ratu Kerajaan Ubur-ubur
Ganas di Lapangan, Pemain Ini Juga Tidak Lupakan Amalan Saat Hari Raya Idhul Adha

Turut berkolaborasi dengan kru pesawat angkatan udara Amerika

Kerjasama militer yang solid [image source]
Setelah era perang dingin berlalu, para tentara wanita tersebut secara bergiliran terus bertugas di bidang rudal aktif. Pada 2016, Angkatan Udara memegang kendali atas peran wanita-wanita “tangguh” tersebut. Total Ada 90 wanita yang berada di skuad peluru kendali ICBM ikut berperan aktif. Seperti di Pangkalan Angkatan Udara Minot, Dakota Utara, Pangkalan Angkatan Udara F.E Warren AFB, Wyoiming dan Pangkalan Angkatan Udara, Malmstrom AFB, Montana. Semuanya berada di Amerika Serikat.

250 orang wanita yang bersiaga penuh selama 24 jam

Siaga penuh 24 jam [image source]
Di era modern seperti saat ini, pihak militer Amerika Serikat telah mensiagakan sebanyak 250 personel wanita yang bertugas memegang kendali “mainan” digital milik Negara. Para wanita “super” tersebut bakal bertugas selama 24 jam penuh secara bergiliran. Meski hanya sebagai operator, lokasi markas yang terpencil dengan cuaca dingin yang tiba-tiba berubah menjadi sangat ekstrim, merupakan tantangan sekaligus pemandangan sehari-hari mereka.

Berusaha mengalahkan rasa “stress” dan “kejenuhan” selama bertugas

Tetap tersenyum meski tugas berat menanti [image source]
Markas militer yang berlokasi di North Dakota tersebut, tak pelak menjadi sebuah “ajang” bagi para wanita tangguh tersebut untuk bergelut dengan rasa jenuh dan stress. Meski sepanjang hari harus Disibukkan dengan beragam kegiatan yang dapat memicu “tekanan darah”, berkat pelatihan keras dan motivasi selama pendidikan di kemiliteran, membuat mereka senantiasa tabah dan melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Disediakan wahana ‘bermain” untuk mengusir kebosanan

Biar tetap fresh dan semangat [image source]
Selain menempati pos-pos yang ada di permukaan tanah, para Missiler tersebut juga Bertugas penuh waktu di sebuah pos yang berada di kedalaman 20 meter di bawah tanah. Alhasil , pekerjaan yang penuh dengan tantangan ini dapat memicu kebosanan anggotanya. Untuk itu, mereka disediakan sebuah wahana yang berisi fasilitas seperti minimarket, lapangan basket, tempat pacuan kuda, bioskop hingga fasilitas khusus untuk pertemuan keluarga.

Tentara terlatih dan menjadi “andalan” Donald Trump

Cantik dan terlatih [image source]
Melihat sekilas, tampaknya tak ada yang istimewa dari para “penunggu” tombol nuklir tersebut. Tapi jangan salah. Meski wanita, mereka juga mendapatkan pendidikan militer khusus daripada yang diterima oleh parjurit wanita biasa. Tak heran bila “emak-emak” jagoan tersebut menjadi andalan presiden Donald Trump untuk mengawal nuklir- nuklirnya.

Manusia biasa yang sudah menikah dan memiliki anak

Wanita biasa yang ingin hidup normal [image source]
Dibalik tugas “sangar” yang diemban, ternyata mereka juga adalah manusia biasa yang ingin menjalani kehidupan normal. Saat sedang off atau cuti dinas, mereka tak ubahnya wanita normal yang telah menikah dan mempunyai anak. Bahkan, masyarakat pun tidak bakal mengetahui bahwa “tetangga” mereka tersebut adalah wanita-wanita yang ahli dalam seluk beluk rudal militer.

Meski berdinas sebagai anggota militer, para bidadari “gahar” tersebut ternyata juga masih mempunyai kehidupan lain layaknya warga sipil biasa. Bergelut dengan waktu dan ancaman perang nuklir antar Negara, sosok “ibu” ini begitu patuh pada aturan dan tahan banting terhadap setiap kemungkinan terburuk yang terjadi. Semoga para “bidadari” militer ini nantinya juga bisa mencegah terjadinya perang dunia ketiga yang sering diprediksi bakal terjadi tak lama lagi.