Pernah denger kabar kalau netizen Indonesia itu juara banget soal cyberbully? Yup, emang nggak salah sih kalau dapet gelar kayak gitu. Sebab, kita pasti semua tahu, mayoritas warganet emang super julid. Apa aja dikomenin, apa-apa dihujat. Yang seleb dinyinyirin, bukan seleb juga belum tentu selamat dari bully. Miris kan ya?

Saat ini, Indonesia udah punya UU tentang Body Shaming loh. Meksi mungkin adanya peraturan tersebut nggak sertamerta bikin para warganet sadis sosial media jadi jinak, tapi diharapkan adanya UU tersebut bisa bikin netizen lebih hati-hati saat komen. Kira-kira, seperti inilah manfaat adanya UU tentang body shaming.

Mengurangi cyberbully

ilustrasi [sumber gambar]
Tau sendiri di jaman ini, biasanya yang cakepan dikit bakal langsung viral, bahkan dipuji-puji sampai setinggi langit. Sebaliknya, sesuatu yang dianggap kurang pas dikit juga langsung dihina-dinakan. Yang nyakitin, bahan bullyan tersebut kerap kali menyangkut bentuk fisik seseorang. Siapa sih yang nggak sakit hati saat tubuh atau wajahnya dipermalukan? Semua orang pasti bakal marah dong ya, apalagi Tuhan yang menciptakan kita dengan sempurna? Adanya UU tentang body shaming sih diharapkan bisa ngurangin cyberbully yang menyangkut soal penghinaan soal fisik seseorang. Meski niatnya bercandaan, kalian harus mulai hati-hati saat komen ya.

Bikin sosmed lebih adem

ilustrasi bersosmed [sumber gambar]
Bukan rahasia umum kalau selama ini sosial media emang mudah banget panas akibat komen-komen para netizen julid. Unggah foto satu, komen negatifnya sampai puluhan, itu pun kalau bukan artis, lha kalau artis? Wah, bisa sampai puluhan ribu komentar pedas. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semua dikomentari, mulai bibir tebal, hidung pesek, jidat lebar, duh… sosmed berubah jadi panas banget kayak medan perang. Tapi jaman ini, jangan harap bisa macem-macem ya. Orang yang dikomen negatif soal tubuhnya bisa aja lapor kalau nggak terima. Warganet yang sembrono bisa aja dijerat dengan Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 3 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik sebagaimana telah diubah oleh UU Nomor 19 Tahun 2016. Kalau udah tau hal itu, setidaknya netizen bisa nahan diri untuk nggak nulis komen yang menjurus lagi ya. Daripada mendekam di penjara.

Mengajari netizen untuk lebih mikir sebelum komentar

ilustrasi [sumber gambar]
Kalau ngomong tuh dipikir dulu! Sering kan ya kita denger ucapan atau komentar kayak gitu, tapi ternyata eksekusinya nol besar. Saat kita udah berusaha nahan diri dan berpikir sebelum berkomentar, eh, orang-orang di sekeliling kita malah ngomong seenak pusar tanpa mikirin perasaan. Kadang hal itu bikin kita kepancing. Tapi, please deh, setelah adanya UU body shaming, masih mau komen seenak puser? Nggak dong ya. Nggak perlu sampai nyoba berurusan sama pihak yang berwajib, lebih baik kita belajar untuk mikir dulu sebelum komentar.

Menyadarkan kita bahwa body shaming itu kejam

ilustrasi body shaming [sumber gambar]
Mengolok fisik teman sebagai bahan bercandaan? Pernah? Mungkin itu kita anggap lucu sampai lupa bahwa kita sudah keterlaluan. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, body shaming masuk kategory bullying. Sebab, tindakan bully bukan hanya dari kekerasan fisik, tapi juga verbal. Misalnya saja, mengatai gendut secara terus menerus, hal itu bisa mempengaruhi psikologis seseorang. Nggak cuma sekali loh, ada kasus bunuh diri karena bully di sosial madia. Makanya, kita harus tau kalau menghujat di sosial media itu tidak dibenarkan. Setidaknya, Indonesia nggak keterlaluan kalau memperbolehkan korban body shaming di sosmed diperbolehkan melapor pada pihak berwajib ya.

BACA JUGA: 5 Peraturan yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Berbagi Foto, Awas Salah Sebar Bisa Masuk Bui!

Gimana? Masih demen komen yang mempermalukan fisik? Jangan ya. Mending kita nggak usah sosmed-an kalau nggak bisa nahan diri buat komen macem-macem. Daripada dijerat sama UU tentang body shaming.