Dampak dari situasi yang belum kondusif di Papua dan Papua Barat, pemerintah tampaknya masih tetap memblokir sambungan internet hingga ujung-ujungnya mati secara total. Alhasil, dampak yang dirasakan pun terasa sangat memberatkan. Aktivitas ekonomi mulai dari ojek online (ojol) hingga pelayanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) tak bisa berfungsi.

Jika dilihat lebih jauh, tak semua wilayah di Papua yang bisa merasakan koneksi internet dengan kecepatan stabil. Salah satunya di Di distrik Agats, ibukota Asmat. Dilansir dari tirto.id, jaringan nirkabel di wilayah tersebut bahkan terasa sangat lambat meski telah ditopang oleh sebuah provider kenamaan Indonesia. Bahkan, sinyal 4G yang tertulis tak ubahnya hanya hiasan semata. Lantas, seperti apa wajah koneksi internet di sana?

Kekuatan sinyal 4G yang tak sesuai dengan namanya

Ilustrasi sinyal 4G yang kecepatannya tak sesuai nama [sumber gambar]
Meski berlabel 4G, fakta di lapangan ternyata jauh berbeda. Terutama di Di distrik Agats, ibukota Asmat, koneksi jaringan terasa lemot meski internet telah masuk di wilayah tersebut. Menurut Johanis Gabriel Fofid, salah seorang warga Agats menyatakan bahwa hal tersebut benar adanya. Koneksi yang katanya sudah 4G, ternyata tak sama seperti yang dibayangkan. “Telkomsel dominan di sini. (Sayangnya, internet di sini) lola alias ‘loading lambat’. 4G, tetapi rasa 2G.” ujarnya yang dikutip dari tirto.id.

Bergantung pada sinyal WiFi gratisan

Warga bergantung pada WiFi gratis milik pemerintah [sumber gambar]
Beruntung, warga Agats dapat merasakan enaknya menjelajah dunia maya melalui jaringan WiFi gratis yang disediakan oleh BAKTI Kominfo. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk mendukung kelancaran sistem pendidikan di sekolah-sekolah. Yang cukup mengejutkan, Warga Agats ternyata membayar biaya internet yang sama dengan Jakarta. Padahal, kekuatannya hanya 512 kilobita per detik. Sementara itu, Jakarta harus puas dengan kekuatan 7 megabita per detik. Aneh memang, koneksi bak ‘langit dan bumi’ tapi tarifnya disama ratakan.

Harus Bayar mahal untuk gunakan jasa penyedia internet swasta

Ilustrasi warga Papua mengakses internet via ponsel [sumber gambar]
Alternatif lainnya yang bisa dicoba adalah dengan cara memanfaatkan penyedia jaringan internet swasta. Namun demikian, ada harga mahal yang harus ditebus. Ya, diperlukan biaya sekitar Rp1,5 juta untuk pemasangan internet pribadi di dalam rumah. Itu baru pasang saja. Pelanggan masih harus merogoh kocek hingga Rp700 ribu per bulan. Miris memang. Papua dengan penuh dengan kekayaan Sumber Daya Alam, ternyata masih harus berjuang untuk sebuah teknologi yang bernama internet.

Jaringan internet di Papua dan Papua Barat kembali diblokir

Kerusuhan yang dipicu pemblokiran internet [sumber gambar]
Di tengah-tengah mirisnya kondisi internet di Papua, pemerintah kembali menerapkan pemblokiran akses ke dunia maya tersebut. Alhasil, hal tersebut memicu kerusuhan yang berujung pada pembakaran. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, massa yang terprovokasi karena pemblokiran jaringan internet, kemudian melampiaskan kekesalannya dengan cara membakar kantor Telkom Indonesia di Jayapura.

BACA JUGA: Setelah Dilanda Kerusuhan, Inilah 4 Peristiwa Penting yang Sempat Terjadi di Papua

Kemudahan yang kita rasakan saat mengakses internet pada saat ini, ternyata berbanding terbalik dengan mereka yang ada di Papua sana. Masih ada banyak hal yang harus diperjuangkan hanya untuk sekedar menikmati akses internet yang stabil layaknya di kota besar Pulau Jawa. Belum lagi jaringan internet di Papua dan Papua Barat yang kini diblokir oleh pemerintah. Miris ya Sahabat Boombastis.