Selama ini, banyak orang beranggapan jika koneksi internet di Indonesia dikenal lelet dibanding negara Asia lainnya. Hal tersebut tak sepenuhnya salah, tapi juga belum tentu benar secara mutlak. Dikutip dari survei Speedtest Global Index 2017 yang dilansir dari viva.co.id, Indonesia berada di peringkat 93 dengan kecepatan unduhan melalui kabel 13,38 Mbps dari total 133 negara dunia. Sementara lewat jaringan mobile, menempati peringkat 106 dari 122 negara dengan kecepatan hanya 9,73 Mbps.

Sebernarnya, ada banyak faktor yang tentu mempengaruhi hal tersebut. Mulai dari kualitas jaringan, infratruktur yang tersedia hingga masalah area yang banyak terdapat lembah dan gunung, bisa menjadi kendala tersendiri. Jangan lantas menyalahkan pemerintah kita jika koneksi jaringan internet di Indonesia termasuk lambat. Sebagai masyarakat, kita tentu harus membuka pemikiran dan wawasan. Termasuk mencari tahu kenapa hal tersebut menjadi bisa terjadi.

Kuranganya infrastruktur yang memadai

Kurangnya infrastruktur yang memadai [sumber gambar]
Untuk mendapatkan koneksi internet yang cepat dan nyaman, tentu dibutuhkan infrastruktur pendukung seperti tower Basic Transceiver System (BTS) yang memadai. Tentu saja, tidak gampang membangun perlengkapan tersebut di Indonesia yang notabene adalah negara kepulauan. Belum lagi, jumlah penduduk yang termasuk lima besar di seluruh dunia dengan jumlah 266.872.775, tentu membutuhkan biaya yang mahal untuk mendirikan BTS yang layak.

Faktor geografis yang menjadi tantangan tersendiri

Kondisi geografis Indonesia yang sebabkan internet lemot [sumber gambar]
Seperti yang kita tahu, Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh pegunungan dan lembah. Tembok alam inilah yang menjadi salah satu hambatan terbesar untuk membangun infrastruktur internet seperti kabel maupun teknologi serat fiber optic. Selain masalah dana, tantangan alami inilah yang juga membuat pemerintah harus berpikir realistis berdasarkan fakta yang ada di lapangan. jadi, wajar jika kalah dengan Singapura atau Malaysia yang jumlah penduduk dan tantangan lingkungannya yang terbilang sedikit.

Besarnya pengguna internet di Indonesia

Ilustrasi tingginya pengguna internet di Indonesia [sumber gambar]
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII) pada 2017 yang dilansir dari tekno.kompas.com, ada sekitar 143 juta orang telah terhubung ke jaringan dunia maya. Mayoritas pengguna datang dari kawasan urban dengan presentase sebanyak 72,41 persen. Dengan penetrasi yang luar biasa tersebut, pengguna internet di Indonesia menduduki peringkat keenam di seluruh dunia. Tentu saja, semakin banyak user yang terhubung, koneksi yang dibutuhkan pun sangat besar. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa koneksi di Indonesia terasa lambat.

Koneksi lemot di mata CEO Facebook, Mark Zuckerberg

Mark Zuckerberg ungkap lemotnya koneksi internet di Indonesia [sumber gambar]
Saat berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu, CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengungkapkan pandangannya tentang lambatnya koneksi internet di Indonesia. Menurutnya, pemerintah harus melakukan efisiensi. Terutama menerapkan strategi khusus yang bisa menekan penggunaan data bandwith. Utamanya pada perangkat mobile seperti ponsel.

“Di sini (Indonesia), salah satu masalah paling besar adalah efisiensi. Makanya fokus kami adalah persoalan ekonomi dan efisiensi data. Contohnya saja, ukuran file aplikasi Facebook di Android telah menyusut 50 persen sehingga menghemat bandwidth,” kata Zuck yang dilansir dari tekno.kompas.com

Tingginya Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHPF)

Ilustrasi tingginya biaya internet [sumber gambar]
Tak melulu soal teknologi dan strategi khusus, salah satu yang patut diperhatikan dsri lambatnya internet di Indonesia adalah tingginya Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHPF). Dilansir dari inet.detik.com, Smartfren Telecom harus membayar sebesar Rp 543 miliar kepada pemerintah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Operator lain seperti Telkomsel bahkan harus membayar sekitar Rp 3,021 triliun dengan rincian penggunaan 30 MHz frekuensi 2,3 GHz. Nilai di atas disesuaikan dengan besaran bandwidth dari masing-masing provider.

Memang, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, Indonesia masih kalah jauh. Bahkan tak ada seujung kukunya. Mudah-mudahan, dengan semakin berkembangnya teknologi internet yang ada, Indonesia bisa memperbaiki jaringan agar lebih cepat secara efisien. Semoga saja ya Sahabat Boombastis.