Banyak sekali kampung di Indonesia yang punya legenda, kutukan, serta hal yang berkaitan dengan sesuatu yang kadang di luar nalar manusia. Keberadaan kampung-kampung ini bukan hanya mitos belaka melainkan sudah terbukti, bahkan banyak wisatawan yang mengunjunginya hanya untuk membuktikan kebenarannya.

Salah satu kampung yang punya mitos berbahaya adalah Kampung Pitu. Letaknya ada di puncak timur situs gunung api purba Nglanggeran, Yogyakarta di ketinggian 740 meter di atas permukaan laut. Sesuai dengan namanya, tempat ini hanya bisa dihuni oleh tujuh keluarga saja. Kenapa ya kira-kira? Nah, untuk membuktikan hal tersebut mari kita simak ulasan di bawah ini!

Sejarah awal berdirinya Kampung Pitu

Juru kunci kampung [sumber gambar]
Eksis hingga saat ini, siapa sangka dulu Kampung Pitu hanyalah wilayah hutan yang ada di Puncak Gunung Nglanggeran. Dikisahkan bahwa ada seorang abdi dalem –sekarang dikenal dengan nama Eyang Iro Kromo—yang pergi ke sana dan menemukan pohon besar yang di dalamnya ada sebilah keris. Keris ini kemudian dikenal dengan nama keris sakti, si abdi dalem mendapat perintah untuk menjaga keris tersebut. Tak hanya itu, ia juga diberi tanah sebagai tempat tinggalnya dan anak keturunannya kelak. Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan Kampung Pitu.

Kampung Pitu adalah tanah bertuah yang hanya bisa dihuni 7 keluarga

Keluarga di Kampung Pitu [sumber gambar]
Dalam bahasa Jawa, pitu artinya tujuh. Itulah mengapa, Kampung Pitu hanya bisa dihuni oleh 7 keluarga saja. Menurut legenda, kampung ini merupakan tempat bertuah, ia hanya memilih orang-orang tertentu saja untuk bisa bertahan di tanahnya. Bahkan, orang yang punya kesaktian pun banyak yang tak sanggup ‘tinggal’ di sana. Mereka yang berhasil bertahan hidup benar-benar merupakan pilihan alam.

Masalah yang menimpa saat Kampung Pitu lebih dari 7 keluarga

Rumah di Kampung Pitu [sumber gambar]
Kampung ini tampaknya memang mengundang rasa penasaran banyak orang, termasuk mereka yang mengaku kuat dan sakti. Tak heran, jika banyak wisatawan yang ingin melihat langsung lokasinya. Ada pula yang kemudian memutuskan untuk tinggal. Tapi, bagi saat jumlah keluarga di Kampung Pitu melebihi 7 KK, siap-siap saja dengan bencana yang akan datang. Mulai dari sakit, terkena musibah, hingga meninggal dunia. Ya, seolah ada yang sudah mengatur hukum yang berlaku di sini.

Bisa tinggal di sana jika menikahi orang asli Kampung Pitu

Bisa tinggal jika menikahi dengan orang sana [sumber gambar]
Saat ini, Kampung Pitu dipimpin oleh juru kunci Redjo Dimulyo, penghuni tertua yang umurnya sudah mencapai 102 tahun. Ia mengatakan bahwa, selama berdiri kurang lebih 600 tahun (dari tahun 1400-an), kampung ini hanya punya empat juru kunci. Meski mustahil, hal ini bisa diterima karena memang usia orang dahulu lebih panjang dari penduduk sekarang. Mbah Redjo bahkan mengisahkan jika kakeknya meninggal di tahun 1925, dalam usia 210 tahun. Satu-satunya cara agar bisa tinggal di Kampung Pitu adalah dengan menikahi anggota keluarga yang 7 itu. Mereka yang menikah dan menetap di sana tidak akan celaka seperti kebanyakan orang yang sudah mencoba sebelumnya.

Pantangan lain yang tidak boleh dilanggar

Makam leluhur [sumber gambar]
Seberapa banyakpun anggota keluarga, KK di kampung ini harus tetap 7 saja, tak lebih dan tak kurang. Selain itu, ada lagi pantangan yang tidak boleh dilanggar, yaitu menggelar pertunjukan wayang, apalagi dengan lakon Raden Ongko Wijaya. Mbah Redjo sebagai juru kunci mengisahkan hal tersebut pernah terjadi saat ia masih kecil. Dan hasilnya, leher warga digorok oleh ‘pelaku misterius’ ketika kepala desanya menggelar wayangan untuk memperingati ulang tahun, seperti dilansir dari vice.com.

BACA JUGA: Fakta Desa Wadon di Jawa Timur yang Konon Tak Boleh Ditinggali Laki-laki, Ini Sebabnya

Semua aturan yang berlaku di Kampung Pitu adalah ketetapan alam. Sekuat apapun warga ingin mendobrak adat, mereka tak akan bisa karena bisa berakhir celaka. Oleh karena itu, saat ini di Kampung Pitu hanya ditinggali oleh 7 KK dengan 30 penduduk. Wah, unik sekaligus seram ya~