Seorang sarjana yang menekuni profesi sebagai sopir taksi tentu tak banyak ditemukan. Lebih-lebih jika mereka adalah lulusan universitas di luar negeri. Namun, hal ini tak berlaku bag seorang pria bernama Peter Yan, seorang sopir taksi Eagle milik Express Group.

Kisahnya berawal dari pemilik akun Facebook Aji Prasetyo yang menyebarkan informasi tersebut. Saat itu, dirinya memang tengah menumpang taksi yang disopiri oleh Peter. Dalam tulisan di akunnya yang dikutip dari news.detik.com, Aji terheran-heran tatkala sang sopir menerima telepon dan bercakap-cakap dengan Bahasa Jerman yang cukup fasih.

Berawal dari unggahan pengguna Facebook bernama Aji Prasetyo [sumber gambar]
Selidik punya selidik, pria yang bernama Peter Yan tersebut memang mengenyam pendidikan di Jerman. Tepatnya di Technische Hochschule Darmstadt, Jerman, jurusan civil engineering. Laman news.detik.com menuliskan, Peter merupakan mahasiswa di sana dan lulus pada tahun 1977. Bukan perkara mudah, Peter bahkan harus menyelesaikan studinya selama 10 tahun sejak 1977-1987.

Bukan karena dirinya tak pandai, Peter mengaku bahwa ia juga harus kerja keras banting tulang mencari nafkah di Jerman sebagai penyambung hidup. Sementara itu , kuliahnya aman-aman saja karena gratis. Alhasil, Peter harus menunggu lama untuk lulus lantaran profesi dobel yang digelutinya selama kuliah di Jerman. “Kuliah di sana gratis. Tapi saya sambil kerja. Cari duit untuk biaya hidup di sana. Jadi lama kuliah saya,” kata Peter yang dikutip dari news.detik.com.

Saat berada di Jerman Pria asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini mengaku pernah melakoni berbagai macam pekerjaan. Alih-alih mendapatkan pekerjaan yang enak, ia bahkan sempat menjadi penjual koran hingga asisten dosen di negeri berjuluk Bavaria tersebut. Di Jerman pula, ia sempat menikah dengan seorang WNA dan melahirkan putrinya di sana. Hingga pada tahun 1988, Peter yang telah menggenggam gelar Dipl-Ing kembali ke Indonesia.

Setibanya di tanah air, Peter kemudian mempraktekkan ilmu yang didapatnya di Jerman dengan membuat berbagai desain tata kota. Bahkan, ia telah membuat desain busway pada 1991 dan sejumlah contoh jalan layang di Jakarta. Mirip seperti yang digunakan saat ini. Tak hanya itu, beberapa karya Peter juga dijadikan referensi oleh beberapa pemerintah daerah di Indonesia. Laman news.detik.com menuliskan, Pemprov DKI Jakarta kala itu belum berminat menggunakan desain yang diajukannya.

Selain di tahun 90-an, Peter juga sempat merancang desain untuk pembangunan ribuan rumah pasca gempa yang mengguncang Aceh 2004 lalu. Pria yang juga merupakan dosen program Pasca Sarjana di Universitas Tarumanegara ini, melakoni profesi sebagai sopir taksi karena memiliki tujuan mulia. Tak sekedar mencari nafkah, tapi ia juga mengamati kemacetan pada titik-titik tertentu di wilayah Jakarta.

Sembari mengantar penumpang, ia kerap membawa laptop yang digunakannya untuk menyimpan data dari kemacetan yang ia temukan. Sebagai pakar transportasi, Peter juga memberikan analisanya terhadap problem kemacetan yang dialami Jakarta. Menurut pengamatan Peter yang dikutip dari news.detik.com, ada 700 lebih simpul lalu lintas yang salah di Jakarta sehingga menyebabkan kemacetan semakin tak terhindarkan.

Oleh sebab itu, penelitian yang ia kumpulkan sedianya akan diajukan ke Pemprov DKI Jakarta agar ditindaklanjuti. Terlebih, Peter juga berencana berhenti sebagai sopir karena sempat ditentang oleh keluarga atas pilihan profesinya tersebut. Dalam sebuah video YouTube yang diunggah oleh akun Ina Koran, Peter berharap agar bisa bertemu Presiden Joko Widodo. Bukan sekedar bertatap muka, ia membawa solusi dan analisanya untuk mengatasi kemacetan yang kini tengah menjadi pekerjaan rumah bagi pemprov DKI.

BACA JUGA: Kisah Haru Lulusan Sarjana S1 yang Pilih Jadi Penyapu Jalan Daripada Kerja Kantoran

Melihat kesungguhan seorang Peter Yan di atas, pemerintah seharusnya bisa mengakomodir dan memanfaatkan keahlian anak bangsa untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Jika dulu ada lulusan Jerman bernama Habibie yang kini menjadi maestro dunia penerbangan Indonesia, kini ada sosok Peter Yan yang juga hasil didikan Jerman. Di mana ia menawarkan kemampuannya di bidang transportasi, untuk membantu pemerintah menyelesaikan ruwetnya kemacetan ibukota. Semangat ya pak!