Ramai soal penolakan gaji Rp 8 juta oleh seorang sarjana lulusan Universitas Indonesia (UI) saat interview kerja beberapa waktu lalu, mengingatkan kita akan sosok pemuda cerdas bernama Adamas Belva Syah Devara. Pria yang akrab disapa atau Belva Devara itu, menjadi pembicaraan di Indonesia atas keberhasilan dirinya berinovasi di bidang pendidikan lewat startup RuangGuru yang ia dirikan.

Dikenal sebagai sosok yang cerdas, pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1990 itu selalu meraih ranking di semasa menempuh pendidikan. Baik di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga ke jenjang universitas. Tak tanggung-tanggung, ia tercatat pernah mengenyam pendidikan di tiga perguruan tinggi berbeda yang dikenal sebagai kampus terkemuka di dunia. Bukan sosok sembarangan, inilah figur Belva Devara yang dikenal lewat prestasinya.

Sosok cerdas yang sukses meraih prestasi hingga ke negara tetangga

Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Presiden, sosok Belva yang memang dikenal cerdas, banyak meraih prestasi di kelas. Salah satunya adalah beasiswa penuh yang membuatnya menempuh studi tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Berbekal prestasi akademik dan ranking yang tinggi, Belva melanjutkan pendidikannya ke Nanyang Technological University (NTU) di Singapura.

Dikenal sebagai salah satu kampus teknik terbaik di Asia, Belva bahkan mengambil gelar ganda dalam studinya, yakni program studi Ilmu Komputer dan Manajemen Bisnis. Belva pun membuktikan dirinya sebagai mahasiswa cerdas dengan raihan tiga penghargaan di kampus tersebut, yakni Lee Kuan Yew Gold Medal, Infocomm Development Authority of Singapore Gold Medal, dan Accenture Gold Medal. Berkat prestasinya itu, ia juga mendapat kesempatan menjalani program pertukaran studi di Inggris.

Menempuh studi di tiga universitas bergengsi dunia

Namun pada 2013, Belva memilih untuk melanjutkan studinya ke Amerika Serikat. Dilansir dari kinibisa.com, ia tercatat sebagai mahasiswa di tiga universitas berbeda. Semua ditempuhnya secara bertahap rata-rata selama dua tahun. Pertama adalah Stanford Graduate School of Business, tempat di mana Belva mengambil gelar Master of Business Administration disana selama dua tahun.

Berkuliah di tiga univeristas elite dunia [sumber gambar]
Kedua, Belva mendaftarkan dirinya ke Harvard Kennedy School of Government untuk mengambil pendidikan pascasarjana di Administrasi Publik, sesaat menjelang setahun masa studinya di Stanford berakhir. Di Harvard, ia sempat terdaftar sebagai peneliti tamu di Ash Center for Democratic Governance and Innovation.Terakhir, namanya juga terdaftar sebagai mahasiswa Studi Perencanaan Kota di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 2015.

Sempat berkarir secara profesional hingga merevolusi bidang pendidikan

Usai menamatkan seluruh pendidikannya, Belva memilih bekerja sebagai konsultan untuk perusahaan ternama, McKinsey & Co. Di sana, ia menangani beragam klien yang datang dari berbagai bidang usaha seperti minyak dan gas, pendidikan, kesehatan masyarakat, barang konsumsi sampai telekomunikasi. Tercatat, Belva bekerja selama dua tahun di McKinsey & Co.

Hingga saat dirinya tengah menghadapi tes untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang pascasarjana, Belva sempat kesulitan mencari mencari guru privat online yang sesuai dengan kebutuhannya. Saat itu, ia juga bersama sahabatnya yang bernama Iman Usman. Dari pengalaman itu, mereka berdua menyadari betapa sulitnya hal tersebut. Dari sinilah, keduanya kemudian mendirikan RuangGuru, yang kemudian menjadi sebuah terobosan di Indonesia. Khususnya di bidang belajar dan mengajar secara digital.

BACA JUGA: Kisah Pemuda Boyolali yang Sukses Menembus Persaingan di Perusahaan Teknologi Dunia

Muda, cerdas dan berprestasi, membuat sosok Belva Devara banyak mendapat pujian di tanah air. Terlebih, ia juga berhasil membuat terobosan di bidang pendidikan dengan mendirikan sebuah platform belajar secara digital yang bernama RuangGuru. Hebat ya Sahabat Boombastis.