Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendekatkan diri pada saat usia senja tiba. Selain ibadah rutin, mengabdikan diri sebagai pengurus masjid alias Marbot seperti yang dilakukan sosok bernama Suyono ini juga bisa dilakukan. Niat tersebut mantap tersembul dari dalam hatinya setelah ia memasuki masa purnatugas dua tahun silam.

Momen pada bulan suci ramadan, menjadi sebuah fase terpenting dalam hidup Suyono. Keinginan untuk mengabdikan diri di jalan kebaikan semakin menggebu di dalam dadanya. Terlebih, saat ia sadar betapa kering keimanan dirinya semasa masih aktif bertugas sebagai anggota Polisi. Seiring dengan waktu yang bergulir, Suyono pun memulai cerita perjalanan spiritualnya hingga memilih menjadi seorang marbot masjid.

Berawal dari kesibukaannya pada urusan duniawi

Ilustrasi Polisi [sumber gambar]
Bukannya tanpa sebab. Hidayah yang diterima Suyono justru berasal dari kebiasannya yang kerap meninggalkan ibadah wajib. Bertugas sebagai penegak hukum, ia senantiasa disibukkan bekerja dengan tuntutan kebutuhan duniawi dan kerap meninggalkan kewajibannya untuk menyembah Tuhan. Praktis, batinnya pun terasa kering dan hampa. Mungkin, Sahabat Boombastis ada yang pernah merasakan hal yang demikian. Jika ya, segeralah berubah dan bertaubat!

Tersadar setelah melihat rekannya meninggal muda

Ilustrasi Polisi Meninggal [sumber gambar]
Kematian rekannya sesama anggota Polri di usia yang masih relatif muda, menjadi momen bagi Suyono untuk merubah jalan hidupnya. Ia juga pernah menjumpai beberapa orang yang tiba-tiba sakit tanpa sebab. Alhasil, dirinya pun semakin merasa galau dan ketakutan. Suyono pun lantas memilih untuk sepenuhnya mengabdikan diri pada agama. Di sinilah ia akhirnya memilih sebagai marbot masjid sebagai kegiatannya sehari-hari.

Setelah melihat itu semua, saya tergugah. Lo, saya masih diberi kesehatan ini untuk apa, ya? Tidak lain ya hanya untuk beribadah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca yang dilansir dari news.detik.com.

Menolak menerima honor sebagai marbot

Ilustrasi menolak honor [sumber gambar]
Suyono menjadi salah satu warga yang diserahi tugas untuk menjadi petugas pemelihara Masjid Nurul Iman yang terletak di Lingkungan Ngampel, Ploso, Pacitan. Untuk membayar jerih payahnya sebagai pengurus Masjid, warga pun mulai menggalang dana. Namun, Suyono dengan tegas menolak uang lelahnya tersebut saat akan diserahkan oleh warga. Ia bahkan akan mengancam akan berhenti bertugas sebagai marbot masjid jika masih dipaksa untuk menerima honor.

Mengabdikan diri sepenuhnya sebagai marbot masjid

Mantan Polisi Suyono pilih menjadi marbot [sumber gambar]
Setelah resmi pensiun sebagai petugas kepolisian, Suyono pun mulai menikmati kegiatan barunya sebagai marbot masjid. Mulai dari Bersih-bersih, mengepel lantai, hingga menyiram halaman masjid, telah menjadi rutinitas yang ia jalani sehari-hari. Saat waktu shalat tiba, suara Suyono-lah yang terdengar nyaring lewat adzan yang dikumandangkannya. Bahkan jika ada warga meninggal, ia adalah orang pertama yang menyiarkan berita duka tersebut lewat toa masjid.

Mantan Polisi yang ringan tangan dan kerap membantu warga

Mantan Polisi yang datangkan manfaat pada warga [sumber gambar]
Praktis, ada begitu banyak perubahan yang dirasakan oleh Suyono. Selain pengalaman spiritual, dirinya juga telah bermanfaat banyak bagi masyarakat. Di lingkungan tempat tinggalnya, Suyono selalu berada di depan untuk kegiatan yang bersifat kewargaan. selain di bidang peribadahan sebagai marbot masjid, pria kelahiran Kecamatan Pringkuku tersebut juga dikenal rajin membantu kegiatan lingkungan. Seperti kerja bakti maupun membantu warga yang berduka.

Kesempatan untuk berubah, akan senantiasa hadir dalam kehidupan seorang anak manusia. Asal, ia mau membuka lebar-lebar mata, hati dan batinnya agar mudah menerima sinyal-sinyal hidayah. Dari kisah singkat Suyono di atas, kita bisa mengambil hikmahnya. Bahwa pintu untuk berubah menjadi lebih baik, akan senantiasa terbuka hingga nafas kita terhenti. Bukan begitu Sahabat Boombastis?