Sosok Dipa Nusantara Aidit atau D.N Aidit, menjadi tokoh sentral atas peristiwa G30S/PKI yang menorehkan sejarah kelam di Indonesia. Hingga saat ini, namanya identik dengan pemberontakan berdarah yang berujung terbunuhnya para Jenderal dan perwira Angkatan Darat. Tak banyak yang tahu, pria kelahiran 30 Juli 1923 itu sempat melarikan diri usia peristiwa penculikan para petinggi Angkatan Darat meletus.

Dilansir dari Tirto, Letkol Untung Syamsuri mengumumkan pengambilalihan kekuasaan melalui RRI. Sayang, upayanya itu sia-sia karena berhasil ditumpas oleh pasukan yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Kocar-kacir karena gerakannya dilumpuhkan, para pemimpin pemberontakan pun ambil langkah seribu. Termasuk Aidit yang kabur entah kemana. Perburuan pun mulai diatur untuk melacak keberadaannya.

Terbang ke Jawa Tengah usai lolos dari sergapan pasukan RPKAD

DN Aidt saat bertemu pemimpin China, Mao Zedong [sumber gambar]
Pada suatu subuh yang masih gelap, Aidit bergegas berangkat ke suatu tempat agar dirinya tidak tertangkap. Dalam buku Kronik ’65 (2017) susunan Kuncoro Hadi dan kawan-kawan menuliskan, pada 2 Oktober sekitar pukul 01.00, Aidit telah terbang menuju Yogyakarta dengan pesawat Dakota T-443 (hlm. 290). Saat itu, ia bukan merencanakan untuk kabur, tetapi mengonsolidasikan kekuatan. Jawa Tengah menjadi provinsi pertama yang dipilih setelah pemberontakan G30S/PKI meletus.

Sempat berkeliling Jawa Timur untuk menggalang dukungan

Sempat keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk meredakan situasi internal PKI [sumber gambar]
Setibanya di Yogyakarta, Aidit malah menuju Semarang untuk menemui beberapa petinggi PKI yang ada di sana. Sayang, internal partai terpecah menjadi dua kubu. “PKI pun terbelah dalam sayap radikal dan sayap moderat yang menjerumuskannya dalam kekacauan,” tulis sejarawan Peter Kasenda dalam Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016: 135) yang dikutip dari Tirto. Aidit pun lantas berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur, mencoba menyatukan mereka yang tengah bertikai.

Sosok Aidit semakin misterius dan Soeharto menetapkan G30S sebagai pemberontak

Sosok Aidit pun semakin dicari setelah PKI ditetapkan sebagai dalang G30S [sumber gambar]
Sementara itu di Jakarta, Soeharto selaku panglima AD yang baru mengumumkan secara resmi bahwa PKI adalah dalang peristiwa G30S pada 1 Oktober. Sebagai pelarian, Aidit pun tak jelas rimbanya. Agar tak mudah terlacak, ia kerap berganti-ganti lokasi persembunyian. Untuk melacak jejak sang pemimpin, Soeharto menunjuk Kolonel Jasir sebagai pemimpin perburuan Aidit. Saat itu, ia dilantik sebagai Pelaksana Kuasa Perang (Pekuper) Daerah Surakarta pada 9 November.

Posisi Aidit telah terlacak dan diburu oleh Pelaksana Kuasa Perang

Aidit yang akhirnya tertangkap oleh satuan yang dipimpin Koloner Jasir [sumber gambar]
Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. Hal inilah yang kemudian dialami oleh Aidit. Dilansir dari Tirto, Kolonel Jasir melibatkan Sri Harto, seorang intel AD yang disusupkan ke serikat buruh pengecoran logam di Surakarta yang berafiliasi dengan PKI. Lewat sosok inilah akhirnya posisi persembunyian Aidit di Desa Sambeng berhasil terkuak. Pelarian panjangnya pun berakhir.

Kota Boyolali menjadi akhir dari drama pelarian Aidit

Pidato-pidato yang pernah dilakukan oleh D.N Aidit [sumber gambar]
Dini hari pada 22 November 1965, Aidit digelandang ke Loji Gandrung untuk diproses verbal, dan rencananya akan dibawa menuju markas Kodam Diponegoro di Semarang, Jawa Tengah. Sayang, kakinya tak pernah datang ke tempat tersebut. Oleh Koloner Jasir, Aidit di bawa ke sebuah sumur tua di daerah Boyolali dan ia dipersilahkan untuk menyampaikan pesan terakhirnya. Setelah pidato berapi-api, Jasir meletuskan senjatanya. Ketua partai berlambang palu arit itu pun tewas terjungkal ke dalam sumur.

BACA JUGA: Mengulik Kisah Hidup D.N. Aidit, Pria Agamis yang Jadi Petinggi PKI

Setelah dibereskan, nama D.N Aidit pun ditetapkan oleh pemerintahan Orde Baru sebagai sosok pemberontak berbahaya bagi negara. Lewat sebuah film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI, jelas digambarkan bahwa Aidit mengatur sebuah persekongkolan jahat yang kelak tercatat dalam lembaran hitam sejarah bangsa. Semoga tidak terulang lagi di masa depan.