Keganasan para penghuni Pulau Sentinel sudah didengar oleh telinga banyak orang. Suku yang sangat primitive ini sangat menolak adanya campur tangan orang luar dalam kehidupan mereka. Tak heran jika nyatanya tak ada satu manusia pun yang berani menjamah kehidupan di tempat terasing kepulauan Andaman itu.

Tak perduli dengan kabar menakutkan yang tersebar, seorang warga Amerika bernama John Allen Chau punya keyakinan kuat untuk mendatangi Sentinel dan melihat kehidupan di dalamnya. Walaupun awalnya semua berjalan mulus, nasib malang pada akhirnya tetap menghampiri pria muda tersebut. Begini kisah lengkap perjalanan John Chau di Snetinel.

Caranya berhasil masuk ke Pulau Sentinel

Pulau Sentinel Utara adalah wilayah terjauh India. Karena kawasan tersebut sangat berbahaya, Sentinel dijaga oleh pihak berwenang India  dan terlarang untuk dikunjungi. Bukan hanya demi keselamatan si pelancong, tetapi juga sebagai upaya menjaga budaya aslinya. Angkatan Laut India berpatroli di perairan sekitarnya, memastikan tidak ada orang yang mendekat.

Sambutan tak ramah suku Sentinel [Sumber gambar]
Namun, jiwa petualang Chau membuat ia rela melakukan segala cara demi sampai ke Sentinel. Ia lolos dari para penjaga karena membayar 5 nelayan sebesar 325 dolar AS atau sekitar Rp4 juta. Berangkat dari Port Blair, pelabuhan utama pulau Andaman, Chau menggunakan perahu untuk berlayar hingga bisa mendarat di tanah para suku Sentinel tersebut.

Misi John Chau pergi ke Pulau Sentinel

John Allen Chau merupakan pria berumur 26 tahun lulusan Oral Roberts University. Dirinya dikenal sebagai petualang yang sangat ambisius. Mendaki gunung, berkemah di tempat terpencil, berkano, dan menjelajah setiap sudut indah dunia memang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Jhon Allen Chau [Sumber gambar]
Dilansir dari Grid.id, Chau mengunjungi Sentinel dengan membawa misi menyebarkan ajaran Kristen kepada para penduduknya. Berdasarkan pengakuan teman-temannya, ia juga sudah merencanakan hal tersebut selama bertahun-tahun. Dalam misi ini, Chau bahkan membawa Alkitab dan memastikan buku tersebut tahan air.

Kronologi terbunuhnya John Chau

Ketika menyewa nelayan, Chau sebenarnya tidak sepenuhnya dilepas untuk menjelajahi Sentinel. Ia diawasi oleh nelayan dan teman yang menemani perjalanannya dari jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga mereka bisa melihat apa yang dilakukan oleh Chau. Chau juga membawa sebuah jurnal untuk menulis semua hal yang dia alami saat berjumpa dengan para penghuni Sentinel, mulai dari sapaan yang tidak ramah, ancaman dengan panah, sampai kehadiran sang Kepala Suku mereka.

Jhon Chau dibunuh suku sentinel [Sumber gambar]
Bahkan saat pertama kalinya tiba ia sudah dipanah –yang untungnya terkena Alkitab yang ia bawa. Beberapa hari diawasi oleh para nelayan, pada 16 November, Chau memberanikan diri berangkat sendiri dan menyuruh mereka pergi. Nahasnya, saat para nelayan meninggalkan Chau, saat melewati pulau keesokan paginya, mereka melihat tubuh Chau sudah diseret di pantai dengan tali.

Catatan terakhir untuk keluarga

Sebelum menyuruh para nelayan pergi, Chau menitipkan jurnalnya (berisi sekitar 13 halaman) untuk diberikan kepada temannya. Isi dari jurnal itu adalah pengamatan budaya, arah, jarak, dan rincian dari dari perlakuan dari orang-orang Sentinel selama beberapa hari Chau mencoba singgah di sana. Sebelumnya nelayan yang mendampingi Chau melihat bagaimana tubuhnya diseret, dipanah dan ditombak, kemudian dikuburkan dalam pasir oleh para penghuni sentinel.

Catatan tangan John Allen Chau [Sumber gambar]
Mengetahui Chau telah tewas, para nelayan memberi tahu polisi. Walaupun mengatakan akan mengambil jasadnya, helicopter yang diterbangkan nyatanya takut dan tidak menginjakkan kaki di pantai. Satu potongan terakhir dalam surat Chau berbunyi : “Tolong jangan marah pada mereka atau pada Tuhan jika saya terbunuh. “Saya cinta kalian semua. “John Chau. Tulisnya, seperti video yang diunggah oleh waynedailynews.com.

BACA JUGA: 5 Fakta Ngeri Sentinel, Suku Primitif Paling Sadis yang Pernah Ada

Hingga saat ini, tak ada satupun orang yang bisa kembali dengan selamat jika mengunjungi Sentinel. Mereka memakai cawat, berburu hewan, dan tinggal di gubuk, populasinya sekitar 50-100 orang, selain itu tak ada informasi lengkap lain yang bisa didapat. Para antropolog meyakini bahwa selama berabad-abad mereka hidup sendirian di pulau tersebut. Kemungkinan, mereka adalah nenek moyang orang pulau itu mungkin bermigrasi dari Afrika lebih dari seribu tahun yang lalu.