Barang rongsokan memang identik dengan hal-hal yang kotor, kumuh dan cenderung termajinalkan. Posisinya yang memang terlihat remeh, membuat benda-benda bekas pakai yang terbuang itu ibarat sesuatu yang patut dimusnahkan. Padahal, ada banyak sisi positif yang bisa diambil dari banyaknya barang rongsokan tersebut.

Sekelas Doktor ilmu ekonomi lulusan Rusia seperti Soesilo Toer pun, kini menjalani hidupnya dengan memulung barang-barang bekas di Blora, Jawa Tengah. Beberapa sosok sukses, juga banyak yang bermunculan berkat barang rongsokan yang kerap dianggap ‘haram’ bagi sebagian orang. Ah, masa sih?

Barang remeh yang sejatinya membawa manfaat

Ilustrasi barang rongsokan [sumber gambar]
Siapa bilang barang rongsokan tidak membawa manfaat? Bagi kaum berduit, hal tersebut bisa jadi benar. Namun bagi mereka yang peduli dan mau memanfaatkan, ada banyak celah keuntungan yang dapat dinikmati. Beberapa contohnya adalah memberikan peluang kerja kepada orang lain sebagai pemulung, serta adanya lahan bisnis yang menjual kembali barang rongsokan tersebut. Bisa dibilang, barang rongsokan mungkin tidak berharga di mata orang-orang kaya yang notabene lebih mampu secara ekonomi. Namun, keberadaan benda tersebut ibarat ’emas’ bagi mereka yang membutuhkan.

Mereka yang sukses berkat barang rongsokan

Mall Rongsok milik Nurcholis Agi [sumber gambar]
Salah bukti sukses berkat barang rongsokan adalah keberadaan Mall Rongsok di Depok. Bak toserba, tempat tersebut menjual segala jenis barang rongsok yang masih layak pakai. Sang pemilik, Nurcholis Agi, bahkan telah membuka cabang hingga ke Cinere, Bogor, Solo, dan Tegal. Dikutip dari megapolitan.kompas.com, pengusaha asal Banyuwangi itu saat ini mempunyai omzet senilai Rp 1,5 milyar dan sekitar 30 ribu item dagangan.

Menjadi lahan bisnis yang menguntungkan

Ilustrasi bisnis besi tua [sumber gambar]
Selain keberadaan Mall Rongsok dengan omset milyaran di atas, beberapa dari benda-benda bekas tersebut juga mempunyai nilai jual yang tinggi. Salah satunya adalah bisnis besi bekas (scrap). Karena permintaan yang begitu tinggi di antara kalangan pelaku industri besi baja nasional, keberadaan benda tersebut kerap dicari karena menjadi salah satu pasokan bahan baku. Laman finance.detik.com menuliskan, terbatasnya besi kasar yang menjadi komoditas utama, membuat para pengusaha melirik besi tua yang masih bisa digunakan. Tentu saja, hal ini bisa menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Barang bekas yang bernilai tinggi jika dilihat dari kacamata kreativitas

Ahmad Sobandi membuat robot dari barang bekas [sumber gambar]
Bagi Ahmad Sobandi, barang-barang bekas atau rongsokan merupakan berkah tersendiri bagi dirinya. Dengan modal kreativitasnya, pria yang menyandang keterbatasan fisik tersebut mampu menciptakan robot dari benda-benda seadanya. Salah satunya tercipta dalam bentuk laba-laba. Dilansir dari regional.kompas.com, Sobandi berhasil menggerakkan robat ciptaannya juga dari barang-barang bekas. “Ahmad bikin sumber listrik menggunakan baterai handphone bekas, kemudian untuk penggeraknya pakai dinamo bekas dan gear bekas,” ujar Ikbal sang sepupu yang dikutip dari regional.kompas.com.

Profesi yang mendapat tempat terhormat di kalangan Suku Madura

Ilustrasi bisnis besi tua yang sukses milik etnis Madura [sumber gambar]
Bagi etnis Madura, menggeluti profesi sebagai pengusaha besi tua atau rongsokan adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Banyak dari mereka kini telah sukses di Ibukota dengan pundi-pundi kekayaan yang melimpah. Menurut Ketua Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama, Masduki Baidlowi yang dikutip dari x.detik.com, orang Madura mulai banyak yang hijrah ke Jakarta pada 1960-an. Mereka kemudian berbisnis rongsokan atau barang bekas dan besi tua, yang oleh orang lain tak dianggap berarti. Salah satunya adalah H Muhamad Rifai, sosok sukses yang menjalankan usaha besi tua dan aneka barang bekas.

BACA JUGA: Seladi, Seorang Bintara Polisi yang Juga Berprofesi Sebagai Pemulung Sampah

Ada banyak hal dari sebuah barang rongsokan yang bisa diambil hikmahnya dalam hidup ini. Keberadaannya yang terbuang, sejatinya memaksa kita untuk berfikir keras. bagaimana agar benda-benda itu bisa mendatangkan manfaat. Bukan sekedar untuk tujuan menghasilkan lembaran rupiah semata, namun juga memberikan nilai lebih terhadap kehidupan seseorang dan lingkungan sekitar.