Saat jarum jam menunjukkan pukul 05.00 dini hari, lazimnya anak usia SD masih asik bergelung di bawah selimut. Namun, hal ini ternyata tidak berlaku untuk Ketut Marianta dan kawan-kawannya (yang berjumlah 18 orang). Bocah lelaki yang kini duduk di kelas VI SD Bunutan, Karangasem ini sudah menuju sekolah sesaat setelah subuh.

Iya, Ketut semangat menimba ilmu meski harus pergi pagi buta dengan membawa senter. Pergi pagi tersebut bukan tanpa alasan, semua karena jarak sekolah dengan rumahnya memakan waktu 3 jam. Kisah Ketut dan kawan-kawannya ini kemudian viral dan menggugah hati banyak orang, terutama para pemerhati Pendidikan.

Puluhan kilo ke sekolah dengan naik turun bukit

Film "Marianta" Sebuah kisah Bocah SD dari perbukitan Gulinten Karangasem Bali yang berjuang sekolah dengan berjalan kaki lebih dari 5 jam tiap hari.Yang penasaran akan kisahnya silakan di tonton. Dan silakan share untuk membantu marianta dan trman2nya mewujudkan harapannya.

Posted by Andy Karyasa Wayan on Saturday, 6 April 2019

Kisah Ketut Marianta diceritakan oleh seorang relawan, Andy Karyasa Wayan dalam sebuah film dokumenter pendek berjudul ‘Marianta’ berdurasi 12 menit yang diunggah ke Facebook. Pertemuan Andy, Ketut, serta kawan-kawannya ternyata dimulai dari keikutsertaan bocah tersebut dalam acara yang Andy selenggarakan di sekolah. Dari cerita para guru SD Bunutan, Andy penasaran dan mengikuti kegiatan pulang-pergi sekolah anak-anak tersebut. Hasilnya, Andy pun merasa lelah karena harus berjalan kaki selama kurang lebih enam jam, dengan trek naik turun bukit.

Anak yang mandiri dalam didikan alam

Ketut Marinta dan kawan-kawan [Sumber gambar]
Hati siapa yang tidak terenyuh saat menonton film yang dibuat oleh Andy. Ketut menceritakan alasannya mengapa nekat ke sekolah meski jarak yang ia tempuh sangat jauh. Hidup dalam keluarga yang kurang mampu membuat Marianta harus membantu ayah dan ibunya. Belum lagi, orangtuanya harus menghidupi delapan orang anak –termasuk dirinya. Marianta ikut andil mencari rumput, menuruni bukit mencari air, makan seadanya karena desakan ekonomi. Di sekolahpun ia tak pernah membawa uang jajan, ya, karena memang tidak punya uang. Meski singkat, narasi Marianta dalam video ini sukses membuat penulis banjir air mata. Sedih ☹.

Menginap di rumah teman demi ujian

Ketut Marianta di sekolah [Sumber gambar]
Sisi susah kehidupan Marianta ternyata tak hanya sebatas pulang-pergi ke sekolah enak jam saja, masih ada hal lain yang ia ceritakan. Menjelang ujian beberapa waktu yang lalu, ia harus mengingap di salah satu rumah temannya yang lebih dekat dengan sekolah. Hal itu ia lakukan agar tidak terlambat datang dan bisa belajar bersama teman yang lain. Musim hujan begini, jalan menjadi licin sehingga segala sesuatu bisa saja terjadi dan memperlambat langkah jika ia tetap memilih berangkat dari rumah seperti biasa. Karena bermalam, Marianta membawa bekal jagung sebagai pengganjal rasa lapar. Yang suka bolos padahal sekolah ada di samping rumah mana suaranya?

Diundang oleh stasiun televisi swasta

Film dokumenter singkat tersebut ternyata viral dan sudah 2 ribu kali dibagikan. Kesempatan baik untuk Marianta karena ia diundang ke salah satu acara talkshow Hitam Putih, bersama dengan seorang temannya yang bernama Sibang. Kepada Deddy Corbuzier ia mengatakan bahwa dirinya tak pernah sekalipun malas ke sekolah demi masa depan. Di masa yang akan datang, Marianta ingin sekali menjadi seorang guru. Jadi, naik-turun bukit bersama teman-temannya belum apa-apa bila dibandingkan dengan besarnya impian yang ingin mereka raih.

Permintaan kepada Presiden Indonesia

Satu hal yang membuat netizen bersedih lagi adalah permintaan Marianta yang ia utarakan kepada Presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo. Tak banyak menuntut, bocah 12 tahun ini hanya meminta akses jalan yang layak agar ia bisa ke sekolah serta air bersih. Karena berdasarkan pengakuannya, daerah di mana ia tinggal, kegiatan MCK hanya mengandalkan air hujan dan sumber air kecil yang jaraknya sekitar 1 kilo menuruni bukit. Saat hujan pun, air menjadi keruh dan berwarna kuning. Melalui Kitabisa.com pun, Andy sudah menggalang bantuan untuk Marianta dan kawan-kawan. Jika mungkin Sahabat Boombastis ada yang mau membantu, silakan klik linknya di sini.

BACA JUGA: Kisah Abdul, Bocah yang Rela Merangkak Sejauh 3 Km Demi Sampai ke Sekolah

Meski tak punya uang, ekonomi serba kekurangan, sekolah harus masuk keluar hutan dan naik-turun bukit, tak sedikitpun semangat anak-anak ini luntur. Mereka tetap menggebu dan memandang ke depan menatap masa depan. Marianta dan 18 kawan-kawannya adalah sosok mandiri yang tegar dalam tempahan alam. Lantas, apakah kamu, kita, yang sekolah di dekat rumah masih mau bermalas-malasan, yakin enggak malu sama mereka?