Sosok Kim Jong Un kini tengah menjadi sorotan lantaran kesehatannya dikabarkan menurun usai dioperasi beberapa waktu lalu. Saking misteriusnya keadaan sang pemimpin Korea Utara tersebut, spekulasi dan isu bahwa Kim Jong Un meninggal dunia mulai merebak di seluruh dunia.

Sebagai penguasa Korea Utara, sosok Kim Jong Un memang selalu menarik perhatian dunia. Sejarah kepemimpinan keluarganya sedari awal di balik berdirinya negara tersebut juga penuh dengan lika-liku. Tak hanya itu, Uni Soviet (Rusia saat ini) juga diketahui memiliki andil besar bagi rezim komunis tetangga Korea Selatan tersebut.

Berawal dari seorang pejuang gerilya yang berjasa dalam perang melawan Jepang

Berdirinya Korea Utara bermula dari sosok Kim Il-sung, yang berjuang melawan pasukan Jepang yang menduduki Semenanjung Korea. Tokoh kelahiran 15 April 1912, Mangyongdae, Pyongyang, Korea Utara itu bergabung dengan pasukan partisan muda Korea yang melancarkan perang gerilya. Jepang saat itu memang menjadi musuh utama di daratan Korea.

Kim Il-sung bersama para gerilyawan melawan pasukan Jepang [sumber gambar]
Dilansir dari Ozy (10/04/2018), ia kemudian membangun kepercayaannya dengan Soviet dari tahun 1940 hingga 1945. Sebelum membangun aliansi dengan Uni Soviet, Kim Il-sung telah berperang melawan Jepang di Manchuria pada tahun 1930-an. Negeri Beruang Merah sendiri ingin menjadikan Kim Il Sung sebagai “internasionalis,” dengan ideologi mengikuti teori Marxisme-Leninis dan praktik Soviet.

Rusia turut andil berada di balik berdirinya Korea Utara

Jalinan hubungan antara Kim Il-sung yang mewakili Korea Utara dengan Uni Soviet mulai berjalan secara perlahan. Kedua belah pihak saling ‘mengisi’ satu sama lain. Di mana Kim Il-sung mendapat kesempatan mempelajari ilmu kemiliteran dari para perwira-perwira Uni Soviet. Dari sana, ia kemudian ditempatkan di sebuah unit militer bernama Brigade Ke-88 sebagai perwira senior.

Dari kiri, Kim Il-sung, A.I. Mikoyan, Andrei Gromyko saat berada di Moskow [sumber gambar]
Pada September 1945, Uni Soviet telah membuat kesepakatan dengan menentukan zona pendudukan antara utara dan selatan. Menurut sejarawan Andrei Lankov yang dikutip dari Russia Beyond (21/02/2019), Kim Il-sung ditugaskan untuk memastikan kelancaran komunikasi antara militer Uni Soviet dan penduduk lokal di Pyongyang, kota terbesar yang dikuasai oleh pemerintah negeri Beruang Merah.

Terapkan ideologi bernama ‘Juche’ yang jadi dasar negara hingga saat ini

Hingga pada 14 Oktober 1945, Jenderal Soviet Ivan Chistyakov menganugerahkan gelar “pahlawan nasional” pada Kim Il-sung di depan ribuan rakyat yang memadati Stadion Pyongyang. Pada 1949, Kim Il-sung mendeklarasikan berdirinya Korea Utara dengan menggunakan ideologi bernama Juche sebagai dasar negara sejak tahun 1950-an.

Terapkan ideologi Juche sebagai dasar negara [sumber gambar]
Juche sendiri merupakan ideologi yang berdasarkan pemahaman Marxisme-Leninisme namun disesuaikan dengan kondisi Korea Utara. Dari sinilah, berkembang tradisi penghormatan kepada keluarga Kim dan keturunannya lewat kultus secara individu. Di mana masyarakat begitu menghormati mereka layaknya ‘dewa’ yang melindungi mereka di pemerintahannya. Hal inilah yang kemudian diwariskan hingga era Kim Jong-un.

Keluarga Kim turun temurun mewarisi kepemimpinan di Korea Utara

Setelah era Kim Il-sung berlalu, tampuk kepemimpinan Korea Utara dilanjutkan oleh anaknya, Kim Jong-il dan kini diteruskan oleh Kim Jong-un. Sama seperti pendahulunya, pria yang kini kondisi kesehatannya masih dipertanyakan itu juga menerapkan pemerintahan khas Korea Utara yang militeristik dengan prinsip Juche, sebagai wajah Korea yang bernafaskan aliran kiri khas Marxisme.

Kim Jong Un dalam sebuah parade di Korea Utara [sumber gambar]
Sebuah opini berjudul “The Twisted Logic of the N.Korean Regime”, yang dikutip dari The Chosunbilo (13/08/2013) menulis, Korea Utara menggunakan 10 prinsip pendiri (the 10 founding principle), klausul 2 Pasal 10 yang menyatakan bahwa partai dan revolusi harus dijalankan “secara kekal” oleh “garis keturunan Baekdu,”-  yang mengacu pada keturunan Kim Il-sung. Ini artinya, pemerintahan Korea Utara akan terus dipegang oleh dinasti keluarga Kim.

BACA JUGA: 5 Hal Ini Diprediksi Akan Terjadi Jika Kim Jong Un Tak Lagi Menjadi Pemimpin Korea Utara

Saat Kim Il Sung Wafat, kota Pyongyang berubah menjadi lautan air mata yang mengucur dari mata masyarakatnya yang merasa kehilangan. Meski terlihat berlebihan, hal ini dianggap wajar oleh rakyat Korea Utara karena mereka menganggap sosok Kim Jong Il sebagai ‘Dewa’ yang melindungi mereka lewat pemerintahannya. Hal ini yang kemudian diwariskan secara turun temurun dari era Kim Il-sung hingga Kim Jong Un sebagai pemimpin Korea Utara.