Pada kisah Neraka di Tengah Perjalanan, beberapa penumpang di dalam gerbong GR No. 5769 dan GR No. 1052, menceritakan kondisi sebagian penumpangnya yang kelelahan dan bahkan meregang nyawa. Dituliskan dalam majalah Liberty terbitan 31 Juli 1965, perjalanan mulai dari stasiun Bondowoso hingga tiba di Wonokromo, Surabaya memakan waktu kurang lebih 12 jam. Rombongan kereta api tiba pada pukul 19.00 malam.

Tak lama kemudian, para pengawal yang terdiri dari bekas anggota KNIL dan petugas VDMB yang berjumlah sepuluh orang, kemudian turun dan membuka pintu gerbong. Mereka memerintahkan agar seluruh penumpang dalam gerbong agar keluar dan berbaris untuk diabsen. Namun, mereka tidak sadar bahwa di antara para penumpang sudah yang meninggal dan sebagian lagi tergeletak lemas, sehingga tidak bisa menuruti perintah.

Ilustrasi orang-orang yang selamat dari gerbong maut [sumber gambar]
Menurut pengakuan Singgih yang termuat dalam jurnal op.cit halaman 2 mengatakan, hanya 12 orang saja yang masih mampu turun dalam kondisi sehat. Sementara yang lain, sudah tak mampu berbuat apa-apa. Meski hanya sekedar menjawab perintah dari para petugas. Saat gerbong dibuka, banyak dari para tawanan yang menggigil kedinginan karena terpapar udara malam.

Sebelumnya, mereka sempat tersiksa karena hawa panas selama perjalanan menuju ke Surabaya. Sesampainya di Wonokromo pada malam hari, para tahanan merasakan dingin yang tak tertahankan. Setelah diperintah untuk turun dan akan dihitung ulang, betapa kagetnya para penjaga tersebut. Mereka melihat, banyak tawanan yang menghilang secara tiba-tiba. Maka dari itu, mereka pun turut naik dan memeriksa di dalam kegelapan gerbong.

Situasi di dalam gerbong tempat para tahanan tewas [dok : tim Boombastis.com ]
Memang, ada beberapa gerbong yang belum diperiksa. Salah satunya yang bernomor GR No. 1052. Saat dibuka, suasananya sangat sepi dan seolah-olah tidak ada penumpang. Petugas itupun berteriak agar mereka segera turun. Namun, tak ada reaksi dari para penumpang. Rupanya, mereka tidak sadar bahwa gerbong yang berisi 38 orang itu, kesemuanya telah berubah menjadi mayat. Mereka inilah yang sempat disinggung pada kisah Awal Mula Malapetaka Terjadi.

Gerbong kedua, GR No. 4416 yang berisi 30 orang, ditemukan 8 di antara telah dipastikan meninggal di tempat. Sedangkan pada gerbong pertama, kondisinya lebih baik daripada yang lain. Hal ini dikarenakan kondisinya yang telah berlubang, sehingga para tahanan di dalamnya masih bisa berebut celah lubang untuk menghirup udara. Pada saat hujan pun, mereka juga sempat merasakan sedikit air yang tiris.

Ilustrasi korban lemas dari gerbong maut [sumber gambar]
Hal ini sejalan dengan pengakuan Sudibyo yang termuat dalam brosur Sekelumit Sejarah Kepahlawanan : Kisah Perjalanan Kereta Api Gerbong Maut, terbitan 29 Desember 1976 di halaman 4. Ia menuturkan, “semua yang ada di gerbong pertama masih bertahan hidup, namun dalam kondisi yang sangat lemah sekali”.

Senada dengan Sudibyo, Moh. Tayib juga bersaksi atas keadaan para tawanan, baik yang hidup maupun meninggal. Berdasarkan hasil wawancara dirinya pada 4 Juli 1980, Sebanyak 46 orang yang telah meninggal dunia. Karena tertutup dalam ruangan panas dalam waktu yang lama, kulit mereka rata-rata mudah terkelupas.

Ilustrasi korban tewas gerbong maut [sumber gambar]
Semuanya kemudian diangkut dengan truk dan dimakamkan di sebuah desa di Sidoarjo, Jawa Timur. Yang sakit, akhirnya mendapatkan perawatan di rumah sakit Angkatan Laut Belanda di Karangmenjangan. Sementara sisanya yang masih sehat, termasuk Moh.Tayib, dijebloskan ke dalam rumah tahanan Koblen, Kab. Surabaya. Ia dibebaskan tahun 1949, setelah sebelumnya dipindahkan ke penjara Lowokwaru, Malang, Jawa Timur.

Penjara Lowokwaru Malang di zaman Belanda [sumber gambar]
Sementara bagi mereka yang bukan anggota tentara, seperti tokoh politik, petani, pedagang, termasuk Kuswari yang seorang anggota Polri, dikirim ke penjara Bubutan, Surabaya. Dirinya sendiri sempat dinyatakan sakit dan masuk di rumah sakit AL Belanda Karangmenjangan selama kurang lebih 8 bulan. Setelah sehat, ia dipenjara di Bubutan hampir 15 tahun lamanya. Hingga akhirnya, Kuswari dibebaskan pada 18 Juli 1949, namun ia dikenai wajib lapor di kantor RAF (Polisi Reserse Belanda) yang terletak di Bondowoso, Jawa Timur.

Sungguh, peristiwa gerbong maut membuka mata dan hati kita. Bahwa betapa kejamnya realitas sebuah penjajahan di masa lalu. Semua tergambar dan tercatat dengan jelas. Agar kita sebagai generasi penerus, dapat memetik hikmah dari setiap kejadian. Sama seperti kisah gerbong maut yang kita simak mulai awal hingga akhir. Pelajaran apa yang bisa Sahabat Boombastis ambil?