Nama pasangan capres dan cawapres fiktif Nurhadi-Aldo benar-benar menjadi perbincangan pada saat ini. Sosoknya yang dikenal dengan guyonan satire yang menyoroti kondisi politik Indonesia, akhirnya banyak menjadi idola baru di tengah-tengah masyarakat. Bisa dibilang, sosoknya menjadi ‘pendingin’ tensi politik di awal tahun 2019 ini.

Lucunya, figur Nurhadi-Aldo mengemas diri mereka seolah menjadi paslon yang maju pada pertarungan pilpres 2019 mendatang. Bahkan mereka juga memiliki sejumlah relawan, dan kerap ‘berkampanye di sosial media. Meski hanya sekedar guyonan, tak ada salahnya jika mengandaikan hal tersebut benar-benar terjadi. Namun, beberapa kekurangan di bawah ini bakal menjadi ganjalan besar bagi mereka untuk maju menjadi RI 1 dan 2 yang sesungguhnya.

Kredibilitas berpolitik yang masih dipertanyakan

Paslon Nurhadi-Aldo [sumber gambar]
Karena sedari awal ditujukan sebagai paslon fiktif untuk hiburan semata, Nurhadi-Aldo belum diketahui kemampuannya dalam hal berpolitik. Tentu saja, hal ini sangat memberatkan jika pasangan tersebut maju betulan dan mencalonkan diri sebagai capres dan cawapres. Terlebih, sosok Aldo yang menjadi partner dirinya, merupakan sosok fiktif yang benar-benar tidak ada di dunia nyata.

Rekam jejak bukan sebagai politisi

Bukan seorang politikus [sumber gambar]
Para capres dan cawapres yang hendak berlaga di arena pilpres, kebanyakan pernah mencicipi dunia politik dan menjadi politikus di dalamnya. Rata-rata dari mereka memang berangkat dari profesi yang bertolak belakang sebelum terjun ke dunia tersebut. Dilansir dari tribunnews.com, sosok Nurhadi merupakan seorang tukang pijat yang bermukim di Kudus, Jawa Tengah. Jika ingin benar-benar maju di arena pilpres, ia setidaknya harus menjadi anggota sebuah partai dan berkecimpung di dalamnya dalam untuk membangun rekam jejak di dunia politik.

Visi misi yang belum meyakinkan

Poster unik Nurhadi-Aldo yang memuat konten kampanye [sumber gambar]
Selain pengalaman sebagai politikus, visi misi merupakan sebuah keniscayaan yang memang benar-benar harus disusun secara cermat. Lihat saja, berapa banyak calon politisi di Indonesia yang gagal duduk di kursi legislatif sebagai akibat dari visi misi yang diusungnya dianggap ‘terlalu umum’. Karena dianggap tak menyelesaikan masalah yang ada, ujung-ujungnya peserta bisa terpental dari bursa pencalonan. Hal inilah yang akan dihadapi oleh Nurhadi-Aldo, di mana visi misi yang diusungnya hanyalah berupa guyonan semata.

Salah satu pasangannya merupakan tokoh fiktif

Cawapres Aldo merupakan sosok yang fiktif [sumber gambar]
Hal memberatkan lainnya bagi pasangan Nuhadi-Aldo adalah rekan setim-nya yang merupakan tokoh fiktif. Ya, paslon yang disingkat DILDO ini memilik sosok tak nyata bernama Aldo. Lucunya, Nurhadi sendiri pun mengakui bahwa ia tak mengenali sosok yang kerap bersanding dengan potret dirinya tersebut. “Saya tidak kenal siapa itu Aldo. Aldo itu hanya fiktif dan tidak ada di kehidupan nyata. Hanya Nurhadi yang ada di kehidupan nyata. Hehehe..,” tuturnya yang dikutip dari regional.kompas.com.

Hadir sebagai bentuk satire yang menyoroti kondisi perpolitikan Indonesia

Sosok paslon yang menyejukan menjelang pilpres 2019 [sumber gambar]
Sejatinya, kehadiran pasangan capres dan cawapres fiktik seperti Nurhadi-Aldo merupakan selingan humor untuk meredam suasana menjelang pilpres 2019. Terlebih, masyarakat sudah terlalu jenuh dengan tensi panas dan aroma persaingan politik yang semakin tidak sehat. Keberadaan pengusung slogan “Tronjal Tronjol Maha Asyik” itu pun, seolah menjadi oase penyegar di antara keringnya kerukunan antar dua kubu peserta pilpres 2019.

BACA JUGA: 5 Kesuksesan Cawapres Fiktif Nurhadi-Aldo yang Patut Ditiru Politikus Indonesia

Memang benar, pasangan capres dan cawapres fiktif seperti Nurhadi-Aldo di atas bukanlah murni untuk tujuan politik. Keberadaan mereka, tak lebih dari sekedar menghibur dan menawarkan alternatif untuk menikmati kondisi politik jelang pilpres 2019 dengan balutan humor yang khas. Lha wong cuma buat guyonan kok, masak sih dibuat serius…Hehehe…