Membahas soal memancing keributan karena omongan, ternyata bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat biasa saja. Mereka yang notabene memiliki gelar berderet-deret dan berpendidikan, kadang juga tak luput dari khilaf semacam ini. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, pernyataan Menristekdikti, M Nasir, yang menyebut profesor tua manfaatnya kecil untuk negara, menjadi sorotan bagi banyak pihak.

Dilansir dari News.detik.com, Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Koentjoro, turut mengecam dan mengatakan bahwa hal tersebut tak bijak. “Kalau menurut saya iya (M Nasir tidak bijak),” jelas Koentjoro. Padahal jika dilihat ke belakang, para profesor yang terbilang menjadi sesepuhnya negeri ini sejatinya banyak memiliki sumbangsih yang besar pada Indonesia. Nggak percaya? Coba lihat kiprah mereka di bawah ini.

Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie yang membuat pesawat untuk Indonesia

BJ Habibie yang merancang pesawat N-250 Gatot Kaca [sumber gambar]
Sebagai orang yang cerdas di bidang teknik kedirgantaraan, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie mewujudkan keahliannya tersebut dalam bentuk pesawat yang nyata. Hasilnya, Pesawat N-250 Gatot Kaca yang merupakan karya anak bangsa bisa terbang untuk pertama kali. Saat itu, profesor kelahiran 25 Juni 1936 itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknolog (Menristek).

Prof. Dr. Ir. R. M. Sedyatmo dan pondasi cakar ayamnya yang mendunia

IR Sedyatmo dan konstruksi cakar ayam yang legendaris [sumber gambar]
Siapa yang tidak kenal dengan konstruksi cakar ayam yang digunakan pada bangunan. Di balik kokohnya teknik tersebut, ada sosok Prof. Dr. Ir. R. M. Sedyatmo sebagai penciptanya. Dilahirkan di Solo, 24 Oktober 1909, Sedyatmo merupakan seorang insinyur yang banyak melahirkan struktur bangunan yang luar biasa. Sebagaimana pondasi sistem cakar ayam, karya lama Sedyatmo juga telah diterapkan secara sukses dan mendapatkan 17 hak paten negara besar. Pemerintah Perancis bahkan telah mengangkatnya menjadi Chevaller de la Legion d’Honnoeur.

Ir. Dr. Giri Suseno MSEME yang pernah bekerja untuk NASA

Ir. Dr. Giri Suseno yang pernah kerjakan proyek milik NASA [sumber gambar]
Tak banyak orang Indonesia yang pernah bekerjsama dengan NASA di era 60-an selain sosok Ir. Dr. Giri Suseno MSEME. Dilansir dari Historia.id, ia mendapat beasiswa S2 ke Amerika Serikat melalui program USAID (United States Agency for International Development) pada Juni 1964. Di sana Giri bertugas melakukan analisis terhadap kemampuan material dalam menerima beban berulang seperti yang terjadi bila material itu menerima getaran hingga material itu patah. “Belakangan baru saya ketahui bahwa material itu digunakan dalam pesawat ruang angkasa Apollo Space Craft,” kata Giri.

Prof. Josaphat T. S. Sumantyo penemu radar 3 dimensi

Prof. Josaphat T. S. Sumantyo yang karyanya mendunia [sumber gambar]
Dikenal sebagai salah satu perangkat yang penting, teknologi tentang radar selalu dibutuhkan di era modern seperti saat ini. Untuk Indonesia, tanah air memiliki sosok Prof. Josaphat T. S. Sumantyo yang ahli di bidangnya. Saat berkiprah di Jepang, ia sukses mengembangkan synthetic aperture radar (SAR) dan menciptakan microsatellite. Alhasil, temuannya ini dipuji oleh lembaga antariksa dunia seperti NASA (Amerika Serikat), JAXA (Jepang), ESA (Eropa), dan KARI (Korea Selatan), karena kecanggihan yang dimiliki.

BACA JUGA: Cerita Profesor RI yang Bakal Bikin Panik Eropa Karena Sukses Ubah Sawit Jadi Bensin

Baru ngeh kan kalau kita ternyata memiliki profesor senior yang mampu membuat dunia mengakui kehebatan mereka. Secara tidak langsung, orang-orang cerdas ini juga membawa nama Indonesia ke panggung internasional. Soal omongan ‘profesor tua’ yang katanya dianggap manfaatnya kecil untuk negara, kamu pasti punya jawaban dan komentar sendiri ya Sahabat Boombastis.