Banyak dari prestasi anak bangsa yang membanggakan Indonesia. Namun, banyak pula yang tak kita ketahui keberadaannya, karena kurang mendapat dukungan dari pemerintah. Sehingga para generasi penerus bangsa yang cerdas tersebut mengirimkan hasil penelitiannya kepada negara lain.

Hal yang sama dialami oleh Yudi Utomo Imardjoko. Meskipun kini ia sudah menjalani hidup sejahtera sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM), penelitiannya soal nuklir pernah menjadi perhatian di Amerika, loh. Kok bisa, ya? Simak perjalanan lengkapnya dalam ulasan berikut.

Menemukan Kontainer Limbah Nuklir yang Bertahan Hingga 12 Ribu Tahun!

Seperti yang kita tahu, nuklir merupakan permasalahan dunia terbesar selama berabad-abad. Hal tersebut benar-benar membahayakan bagi hidup manusia, serta bisa memicu perang dunia ketiga. Apalagi negara pemilik nuklir yang tak segan-segan menembakkan senjatanya itu adalah Amerika Serikat serta Korea Utara, kebayang kan seremnya?

Kontainer Limbah Nuklir [image source]
Maka dari itu, pemerintah Amerika Serikat membuka sebuah kompetisi untuk membuat kontainer limbah nuklir yang bisa bertahan hingga sepuluh ribu tahun. Kabar ini pun sampai pada telinga Yudi Utomo Imardjoko. Ia pun bersama 5 orang dalam timnya memutar otak untuk menciptakan alat tersebut. Pada akhirnya, Yudi cs malah berhasil membuat kontainer yang bisa bertahan hingga dua belas ribu tahun, seperti yang dilansir dari goodnewsfromindonesia.id.

Menolak Tawaran Amerika Demi Almamater Tercinta

Kontainer berbentuk silinder dari bahan titanium ciptaan Yudi dan kawan-kawan itu ternyata berhasil memenangkan tender dari Pemerintah AS. Tak hanya menang, negara yang dikuasai Donald Trump itu pun memuja penemuan Yudi. Atas kerja kerasnya, 2 perusahaan besar AS menawarkan pekerjaan pada Yudi dengan gaji tinggi.

Menolak Tawaran AS [image source]
Namun sayang, tawaran mereka ditolak mentah-mentah oleh peneliti hebat sekaligus Ketua Jurusan Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, UGM ini. Hal tersebut dikarenakan, ia lebih ingin mengabdi pada Indonesia terutama sang almamater tercinta yaitu UGM. Menurutnya, profesinya yang sekarang lebih bisa mengantarkan generasi muda Indonesia untuk menempati tawaran yang diberikan oleh perusahaan AS tersebut.

Dosen Sekaligus Peneliti Teknologi Nuklir yang Teladan

Meskipun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) belum begitu digalakkan di Indonesia, namun sudah banyak para peneliti di bidang tersebut yang mulai memberikan masukan-masukan untuk negeri ini. Dilansir dari republika.co.id, dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi, ketersediaan listrik 35 ribu megawatt (MW) merupakan salah satu tujuan yang harus dipenuhi.

Peneliti Nuklir [image source]
Namun, sumber tenaga listriknya belum ada yang menggunakan jasa dari PLTN. Sebagai peneliti teknologi nuklir, sosok yang memiliki gelar Dr. Ir. Yudi Utomo Imardjoko ini memberikan saran terhadap pemerintah agar segera memanfaatkan PLTN, sebagaimana banyak negara maju yang sudah mulai menggunakan hal tersebut. Ia juga menyarankan tentang pemanfaatan thorium sebagai tenaga pembangkit listrik, daripada uranium.

Pesan Dr. Ir. Yudi Utomo Imardjoko Bagi Generasi Muda

Dilansir dari wawancara republika.co.id dengan pakar nuklir Indonesia ini, beliau mengatakan masih banyak PR yang harus dikejar oleh bangsa kita untuk bisa menstabilkan keadaan di dalam negeri, utamanya masalah PLTN. Hingga sekarang belum ada PLTN dengan standar yang mumpuni, sehingga mimpi Yudi untuk menggalakkan PLTN berbahan bakar thorium masih belum bisa tercapai.

Ilustrasi Generasi Penerus Bangsa [image source]
Ia memberikan pesan pada generasi muda penerus bangsa untuk menanggung jawabi masalah limbah akibat PLTN berbahan bakar thorium itu nantinya, jika bisa terealisasi. Namun, Yudi menggaris bawahi hal tersebut bukan semata-mata memojokkan generasi sekarang untuk menanggung beban atas apa yang dilakukan generasi mereka. Maka dari itu, Yudi pun menegaskan bahwa dirinya telah mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi agar tidak terjadi perpecahan antar generasi.

Menjadi anak bangsa yang berprestasi ternyata tidak gampang. Makanya banyak dari mereka yang akhirnya membawa penelitiannya ke luar negeri agar bisa direalisasi serta bukan jadi tanggung jawab pemerintah sendiri untuk menindak lanjuti, karena nyatanya setelah penelitian itu berhasil, sang peneliti pun harus pintar-pintar memutar otak untuk mengaplikasikan inovasinya serta memprediksikan dampak buruk yang bisa terjadi ke depannya.