Sudah bukan menjadi rahasia lagi, Indonesia yang kaya akan SDA dan sederet potensi lainnya, banyak mengundang decak kagum dari negara-negara asing di seluruh dunia. Tak sekedar mengagumi belaka. Lebih dari itu, mereka juga berupaya untuk menguasai kekayaan tanah air dengan beragam cara. Belakangan, Amerika Serikat berusaha menebar pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara.

Dilansir dari cnnindonesia.com, negeri Paman Sam itu mengumumkan menjalin kerja sama dengan Australia untuk membangun pangkalan angkatan laut baru di Papua Nugini. Ini berarti, lokasinya begitu dekat dengan perairan Indonesia dan Papua Barat yang masih menjadi wilayah NKRI. Tak hanya AS dan Australia, sejumlah negara ini juga dianggap ‘mengepung’ wilayah Indonesia dan berpotensi menjadi ancaman di masa depan.

AS Australia bangun pangkalan militer di Papua Nugini

Pangkalan militer AS di Filipina [sumber gambar]
Australia dan Amerika Serikat yang telah lama menjalin persekutuan militer, akan mengajak kerjasama dengan Lombrum Naval Base atau pangkalan angkatan laut milik pertahanan Papua Nugini. Laman cnnindonesia.com menuliskan, aliansi tiga negara itu sejatinya bertujuan untuk melindungi kedaulatan dan hak maritim di Kepulauan Pasifik atas pengaruh China. Di sisi lain, Indonesia juga harus mewaspadai kerjasama militer tersebut. Mengingat, Papua Nugini yang bertetangga dengan Papua Barat milik Indonesia bisa saja menjadi sebuah ‘jalan masuk’ bagi kepentingan asing (AS dan Australia) untuk ikut campur dalam konflik TNI dan OPM.

Konflik laut China Selatan yang melibatkan militer Tiongkok

Konflik laut Cina Selatan yang bisa mengancam wilayah Indonesia sewaktu-waktu [sumber gambar]
Selain dari sebelah Timur Indonesia, konflik laut Cina Selatan yang semakin memanas juga harus disikapi secara serius oleh Indonesia. Meski tidak terlibat secara langsung, hal tersebut merupakan sinyal bahwa negeri tirai bambu itu menunjukkan keseriusannya menebarkan pengaruh di kawasan Asia Tenggara maupun pasifik. Seperti yang ditulis oleh bbc.com, Indonesia pernah ‘bergesekan’ dengan Cina dalam insiden di Laut Natuna pada 2016 silam. Setidaknya, ada tiga pelanggaran yang terjadi seperti kapal penjaga pantai melanggar hak berdaulat dan yurisdiksi Indonesia di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)melanggar penegakan hukum yang sedang dilakukan aparat Indonesia di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), dan melanggar kedaulatan laut teritorial Indonesia. Hal ini merupakan salah satu bentuk ancaman atas kedaulatan negara meski tidak dalam skala besar.

Indonesia berada di antara Five Power Defence Arrangements (FPDA)

Five Power Defence Arrangements (FPDA) yang bisa menjadi ancaman serius Indonesia [sumber gambar]
Sebagai negara yang berada pada garis khatulistiwa, Indonesia juga rawan terkena ancaman dari negara-negara persemakmuran Inggris atau biasa disebut Five Power Defence Arrangements (FPDA) seperti Australia, Singapura, Malaysia, Inggris dan Selandia Baru. Seperti yang diungkapkan oleh Jenderal TNI (.Purn) Gatot Nurmantyo yang dikutip dari republika.co.id, dua negara melayu yang statusna merupakan commonwealth (persemakmuran Inggris), pernah berkonflik dengan Indonesia. “Singapura kita pernah konflik soal reklamasi, Malaysia Ambalat, Australia soal penyadapan. Mereka juga menggelar latihan militer bersamaan. Ini yang patut diwaspadai,” ujarnya yang dikutip dari republika.co.id.

Ancaman terorisme negara asing

Kelompok teror seperti ISIS juga mengancam Indonesia [sumber gambar]
Tak hanya ancaman dari negeri Timur jauh dan bangsa hasil persemakmuran, Indonesia juga mendapat ancaman dari gerakan kelompok terorisme seperti ISIS dan pengikut-pengikutnya. Laman liputan6.com menuliskan, mereka melakukan propaganda pada sebuah video singkat, yang isinya memerintahkan para pengikutnya melakukan ‘pertempuran’ di Asia Tenggara. Sasaran utamanya adalah Indonesia dan Malaysia. Dalam hal ini, posisi tanah air tergolong sangat rawan. Selain dikenal sebagai mayoritas berpenduduk muslim terbesar, ISIS yang menjadikan Filipina Selatan sebagai basis di Asia Tenggara juga menargetkan Poso yang wilayahnya dianggap berdekatan.

Perang proxi yang dilancarkan secara diam-diam

Seminar tentang bahaya perang proxy [sumber gambar]
Istilah proxy war semakin mengemuka kala diungkapkan oleh Jenderal TNI (.Purn) Gatot Nurmantyo beberapa waktu silam. Ternyata, tak hanya dirinya saja yang kerap menggunakan kata-kata tersebut. Sejumlah tokoh berpengaruh di negeri ini seperti Megawati dan Menhan Ryamizard Riacudu juga mengungkapkan hal yang sama. Dilansir dari tirto.id, hal-hal yang membahayakan seperti LGBT, kejahatan keuangan internasional, perdagangan manusia, peredaran narkotika, dan terorisme lintas negara sebagai proxy war. Hampir kesemuanya telah dialami oleh Indonesia.

BACA JUGA: Ngeri, 5 Negara Besar ini Terobsesi Menguasai Indonesia

Meski saat ini belum terbukti, tak ada salahnya jika Indonesia harus mempersiapkan diri untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Terlebih, negara-negara tersebut tak hanya menggunakan pedekatan secara hardpower untuk menunjukkan kekuatannya, tapi juga melalui jalur softpower berupa diplomasi politik yang menyangkut isu-isu tertentu. Tak ada opsi lain kecuali harus memperkuat pertahanan darat, laut dan udara NKRI.