Kemesraan antara Indonesia dan Rusia, memberikan dampak yang sangat luas pada Nusantara. Terutama di bidang alutsista dan pertahanan militer. Sejak era Soekarno pada tahun 1960-an, Indonesia termasuk negara yang sangat disegani oleh dunia. Hingga di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, merah putih tetap merangkul Rusia sebagai mitra strategisnya.

Embargo militer Amerika Serikat beberapa waktu lalu, membuat Indonesia memalingkan perhatiannya pada negeri Beruang Merah untuk urusan peremajaan alutsista. Meski ditentang dan akan dijatuhi sanksi oleh Paman Sam dan aliansinya, pemerintah tak bergeming dengan ancaman tersebut. Selain sukses membeli 11 jet Shukoi SU-35, beberapa hal dibawah ini bakal didapatkan Indonesia jika mau bersekutu dengan Rusia.

Kemudahan dalam membeli alutsista militer

Indonesia dimudahkan membeli Shukoi SU-35 [sumber gambar]
Seperti yang kita tahu, Indonesia menggunakan skema imbal dagang dalam pengajuan paket pembelian 11 unit pesawat tempur Shukoi SU-35. Totalnya mencapai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp 15,162 triliun (kurs Rp 13.300 pada saat itu). Skema imbal dagang sendiri memungkinkan Indonesia membeli dalam bentuk barter dengan sejumlah komoditas alam. Seperti karet olahan, kopi, kakao, tekstil, teh dan alas kaki dan produk lainnya.

Indonesia bakal menjadi negara pemakai tenaga nuklir

Ilustrasi PLTN [sumber gambar]
Dilansir dari merdeka.com, Rusia tertarik untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Karena negeri Beruang Merah itu menganggap Indonesia adalah mitra yang strategis di Asia pasifik, mereka merasa perlu untuk meningkatkan kerjasama di bidang energi. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Rusia VI Matvienko. Sayang, Indonesia ternyata belum mampu untuk menerima energi nuklir sebagai bagian dari teknologinya. Jika terealisasi, bukan tak mungkin militer Indonesia juga bisa mengembangkan senjata berbasis nuklir.

Disegani oleh dunia internasional

Indonesia bakal disegani seperti era Soekarno [sumber gambar]
Antara 1959 dan 1965, Indonesia sempat menjadi negara “adidaya” di kawasan Asia Tenggara. Kekuatan militer di era pemerintahan Bung Karno begitu kuat pada saat itu. dilansir dari jakartagreater.com, alutsista seperti 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed, 30 pesawat MiG-15, 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17, 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev dan 10 pesawat supersonic MiG-19, menjadi andalan udara Indonesia. Di laut, kapal kelas Sverdlov dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi, menjadi kekuatan yang mematikan. Jika hal ini terulang kembali, Indonesia bakal bangkit sebagai kekuatan baru kancah global.

Menjadi penyeimbang kekuatan militer di kawasan Asia Tenggara

Indonesia menjadi penyeimbang militer di kawasan Asia Tenggara [sumber gambar]
Selama ini, Indonesia dipandang sebagai negara yang unggul dari segi militer meski beberapa alutsistanya tergolong tua. Dilansir dari globalfirepower.com, merah putih menduduki peringkat 15. Jauh di atas negara Asia Tenggara lainnya. Terlebih jika Indonesia menjalin kerjasama yang erat dengan militer Rusia, tentu akan menciptakan poros kekuatan yang menjamin kestabilan di kawasan Asia Tenggara.

Alih teknologi militer yang untungkan Indonesia

Indonesia menerima hibah TOT dari Rusia [sumber gambar]
Di antara negara maju di dunia, hanya Rusia yang paling menunjukan komitmennya untuk berbagi teknologi pertahanan. Lewat sistem ofset, negara-negara berkembang seperti Indonesia akan menerima transfer teknologi (transfer of technology/TOT),untuk merakit, merancang, memodifikasi, serta memiliki lisensi untuk mengekspor kembali senjata hasil pengembangannya. Jika berjalan dengan baik, mimpi Indonesia untuk membuat persenjataan canggih bisa segera terwujud. Mungkin bisa menerapkan konsep Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM).

Bayangkan jika hal di atas terwujud sepenuhnya. Tentu kita akan segera melihat perubahan pada Indonesia. Terutama dari sisi militer. Kita doakan saja ya. Mengingat, kondisi dunia yang penuh dengan konflik bersenjata, menjalin aliansi bersama Rusia merupakan poin plus bagi Indonesia. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?