Keberadaan Haghia Sophia yang merupakan bangunan bersejarah rupa-rupanya membuat Turki dan Yunani berseteru. Hal ini terjadi setelah pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan memutuskan untuk menjadikan Hagia Sophia menjadi sebuah masjid. Sebelumnya, bangunan situs Warisan Dunia UNESCO itu merupakan bekas gereja katedral Bizantium

Setelah beberapa abad berlalu, Hagia Sophia sempat menjadi museum hingga untuk beberapa waktu kemudian status tersebut dicabut oleh Turki. Perubahan status tersebut sekaligus menjadi jalan beralih fungsinya Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Lantas, kenapa hal tersebut membuat Turki ditentang Yunani dan negara-negara Barat?

Sejarah Hagia Sophia yang berubah fungsi dari gereja menjadi masjid

Bangunan Haghia Sophia di masa lalu [sumber gambar]
Hagia Sophia berasal dari bahasa Yunani yakni Ayasofya yang bermakna “Holy Wisdom (Kebijaksanaan Suci)”, merupakan bangunan Katedral Kristen Kekaisaran Romawi Timur atau dikenal sebagai Bizantium pada tahun 537. Setelah takluk oleh Kekaisaran Ottoman, Hagia Sophia bersalin rupa menjadi masjid.

Sempat diubah menjadi museum oleh Mustafa Kemal Ataturk

Hagia Sophia sempat dijadikan sebagai museum [sumber gambar]
Saat Mustafa Kemal Ataturk membentuk Republik Turki menggantikan sistem kekhalifahan Ottoman, Hagia Sophia diubah menjadi museum pada 1935 sebagai salah satu kebijakannya yang menganut reformasi sekuler. Selama menjadi museum, bangunan bersejarah tersebut menjadi obyek wisata terpopuler di Turki.

Perubahan besar terhadap status Hagia Sophia di era Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Dukungan dari masyarakat Turki saat Hagia Sophia diubah menjadi masjid [sumber gambar]
Turki yang kini berada di bawah kendali Presiden Recep Tayyip Erdogan, kemudian berusaha mengembalikan Hagia Sophia menjadi sebuah masjid seperti era kekhalifahan Ottoman. Bersama Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang mendukung pemerintah, Erdogan berusaha mendukung rencana yang juga diserukan oleh publik Turki tersebut.

Keputusan yang dikecam Yunani dan Amerika Serikat

Masyarakat melaksanakan shalat di luar Hagia Sophia [sumber gambar]
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan secara resmi menandatangani dektrit presiden soal status Hagia Sophia yang difungsikan kembali sebagai masjid. Hal tersebut juga diikuti dengan pencabutan status bangunan tersebut yang sebelumnya menjadi museum oleh Pengadilan tinggi Turki. Negara-negara seperti AS, Yunani, dan organisasi PBB UNESCO sempat protes dengan keputusan tersebut.

Bangunan bersejarah yang membuat Turki dan Yunani berseteru

Hagia Sophia bangunan bersejarah bagi dunia [sumber gambar]
Sebelumnya, pemerintah Turki dan Yunani sempat bersitegang soal status Hagia Sopia. Hal ini terjadi setelah Menteri Pertahanan (Menhan) Yunani Nikos Panagiotopoulos menegaskan kesiapannya melakukan intervensi militer, jika Turki terus melakukan provokasi. Selain soal Hagia Sophia, negeri para dewa itu juga meradang setelah Turki mendapat lisensi eksplorasi minyak dan gas di dekat kepulauan Yunani.

BACA JUGA: Perbandingan Kekuatan Militer Turki dan Yunani yang Kini Tengah Memanas

Keputusan final pemerintah Turki tampaknya tak bisa diganggu gugat. Meski menuai protes dari negara-negara Barat, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan bahwa Hagia Sophia bisa digunakan untuk ibadah shalat pada 24 Juli 2020, di mana pada hari itu pelaksanaan shalat Jum’at akan menjadi ritual keagamaan pertama di Hagia Sophia setelah sekian tahun lamanya.