Setelah mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai dataran tinggi Golan beberapa waktu lalu, kini Israel kembali berulah. Dilansir dari dunia.tempo.co, PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan akan menganeksasi permukiman di Tepi Barat, Palestina, jika dia menang pemilu untuk masa jabatan kedua.

Terang saja, pernyataan ini memicu reaksi keras di berbagai pihak. Salah satunya dari pihak Turki yang mengajukan protes atas hal tersebut. Tak hanya itu, pejabat Hamas di Gaza, Sami Abu Zuhri, menyatakan rencana Netanyahu untuk mencaplok Tepi Barat tak akan terwujud. Sedari dulu, wilayah tersebut memang telah menjadi rebutan bagi Israel dan Palestina. Kedua negara bahkan kerap terlibat bentrok berdarah demi kekuasaan atas Tepi Barat.

Dianggap sebagai ‘tanah yang dijanjikan’ sebagai alasan Israel untuk berkuasa di sana

Wilayah Tepi Barat dianggap penting bagi Israel lantaran kawasan tersebut memiliki nilai historis bagi negeri Bintang Daud tersebut. Laman britannica.com menuliskan, tempat yang dalam bahasa Ibrani disebut sebagai Ha-Gadah Ha-Maʿaravit itu, dikenal di Israel dengan nama-nama alkitabiahnya, Yudaea dan Samaria.

Oleh sebab itu, Israel merasa berhak untuk menduduki wilayah yang juga dihuni oleh kaum Arab Palestina. Setelah perang Arab Israel pertama yang terjadi pada 1948-1949, negeri Zionis itu hanya berhasil menguasai beberapa wilayah di sana. Sementara, Yordania mengambil alih Tepi Barat dan Mesir menduduki Jalur Gaza.

Sempat menjadi rebutan kedua negara dalam konflik berdarah

Konflik antara Israel dan negara-negara Arab kembali berlanjut dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967, di mana negeri Bintang Daud itu keluar sebagai pemenang. Dilansur dari laman britannica.com, Israel mengambil kendali atas Jalur Gaza dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, ketika tentara Mesir dan Yordania mundur. Palestina yang menginginkan tanah yang berdaulat, melancarkan pemberontakan pertamanya lewat organisasi Palestine Liberation Organization (PLO).

Hingga pada tahun 1987, orang-orang Palestina yang hidup di bawah pemerintahan Israel memulai suatu pemberontakan, yang dikenal sebagai intifadah pertama. Hal tersebut sempat mendapat tindakan keras dari PM Yitzhak Rabin dalam upayanya untuk menekan pemberontakan. Hingga terbitnya Perjanjian Oslo II, Tepi Barat dan Jalur Gaza dibagi menjadi tiga wilayah: Di bawah administrasi dan keamanan Palestina (“Area A”), tempat di bawah administrasi Palestina tetapi gabungan Keamanan Israel-Palestina (“Area B”), dan wilayah di bawah administrasi dan keamanan Israel (“Area C”).

Diklaim sepihak oleh Israel dengan mendirikan bermacam bangunan di atasnya

Tanpa mengindahkan kesepakatan, Israel disebut-sebut telah mempercepat rencana pembangunan sedikitnya 2.200 rumah di wilayah Palestina, yakni Tepi Barat yang diduduki negara tersebut. Dilansir dari laman cnnindonesia.com, Peace Now yang menjadi lembaga pemantau pemukiman Israel di wilayah Palestina menyebutkan, sedikitnya 1.159 pengajuan pembangunan rumah telah mendapat persetujuan final sebelum izin dikeluarkan.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Saeb Erekat, menganggap percepatan pemukiman yang dilaksanakan sebagai pencurian tanah Palestina. Tak hanya itu, pendirian permukiman Israel di wilayah Palestina, dinilai ilegal oleh hukum internasional. Hal juga dianggap bisa mengancam proses perdamaian kedua belah pihak yang masih berkonflik sejak puluhan tahun silam.

Menjadi target berikutnya setelah Dataran Tinggi Golan

Hiruk pikuk soal Tepi Barat kian bertambah runcing setelah PM Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan yang kontroversial. Laman cnnidonesia.com menuliskan, dalam kampanyenya menjanjikan bakal mencaplok wilayah pemukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat, Palestina yang saat ini mereka duduki jika ia terpilih. Tak tinggal diam, Turki pun bereaksi keras menentang hal tersebut.

Pernyataan itu disampaikan oleh politikus yang sempat terjerat kasus korupsi sejak 2017 tersebut, dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Israel, Channel 12. Bukan apa-apa, Israel kerap jumawa dengan dunia internasional atas klaim mereka terhadap wilayah-wilayah yang disengketakan karena adanya dukungan dari AS. Seperti pada beberapa waktu silam,Donald Trump mendukung klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan yang dianggap masuk wilayah negeri Zionis itu.

BACA JUGA: Dataran Tinggi Golan, Tempat ‘Keramat’ yang Bisa Memicu ‘Kiamat Kecil’ di Timur Tengah

Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, memang akan terus terjadi hingga permasalahan wilayah negara antar keduanya mencapai satu titik temu yang bisa diterima. Sama seperti Dataran Tinggi Golan yang disengketakan dengan Suriah, wilayah Tepi Barat juga bisa menjadi sumber konflik mematikan bagi Israel dan Palestina jika tidak segera ditemukan solusi lainnya.