Bila mendengar nama Mohammad Hatta kira-kira apa yang ada di benakmu? Yaa, betul sekali salah satu tokoh besar Indonesia yang memproklamirkan kemerdekaan negara kita. Selain itu, sosok ini juga terkenal sebagai sosok yang toleran dan menyukai sepak bola. Mungkin, untuk hal terakhir tidak banyak yang tahu kalau Hatta dulunya merupakan aktor lapangan hijau.

Meski tidak menjadi pemain profesional, namun wakil Presiden pertama Indonesia dikabarkan selama hidupnya mencintai olahraga ini. Bahkan ketika turun gelanggang (bermain), dirinya adalah sosok handal dalam mengolah si kulit bundar. Menempati posisi belakang, Hatta kerap digambarkan layaknya karang yang kuat meski terjang ombak. Benarkan seperti itu? Mari kita buktikan bersama lewat ulasan berikut ini.

Lapangan alun-alun kota Padang menjadi saksi bisu kiprahnya

Plein van Rome [Sumber Gambar]
Meski sempat menerima penolakan ketika berada di Buktitinggi oleh kakeknya, namun selepas pindah ke Padang, tepatnya bersekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau sekolah menengah pertama) Hatta semakin leluasa memainkannya olahraga ini. Bahkan beberapa waktunya dihabiskan untuk mengolah si kulit bundar di Plein van Rome, sebuah lapangan yang berada di alun-alun padang. Selama waktu tersebut, dirinya kerap menempati posisi sebagai pemain bertahan dan juga sempat jadi penyerang. Hatta terkenal bukanlah pesepak bola yang kasar.

Young Fellow dan gelar juara Sumatra

Bung Hatta dengan timnya [Sumber Gambar]
Kalau kalian bertanya-tanya apakah klub sepak bola Bung Hatta kala itu? Jawabannya adalah Young Fellow. Sebuah kesebelasan yang skuadnya berisi, barisan pemain berdarah Belanda dan Bumi Putra. Berkat kemampuan hebatnya di lapangan, di tim tersebut Hatta bisa dibilang jauh dari kata miskin gelar. Tercatat dari laporan Majalah Tempo pada 18 Agustus 2001, dirinya sempat merajai kompetisi sepak bola se-Sumatra dalam jangka waktu tiga tahun berturut-turut. Dan hebatnya lagi dirinya merupakan pilar tim yang kerap dijuluki sebagai Onpas Serbaar (sulit ditembus).

Pasca Young Fellow, lagi-lagi mengondol gelar juara

Ilustrasi sepak bola dahulu [Sumber Gambar]
Selepas Young Fellow, kiprahnya di lapangan hijau seperti tidak menemui hasil buruk. Hal ini lantaran, di kesebelasan barunya yaitu Jong Sumatranen Bond (JSB) kakek Gustika ini mampu tampil gemilang. Meski tidak diketahui beberapa jumlah gol di sana, tapi lagi-lagi mendapatkan gelar juara. Tidak berhenti disitu, dikutip laman Historia, Bapak Proklamator Indonesia ini juga berganti posisi dari pemain belakang ke tengah. Dalam kisah ini, kabarnya lantaran kehebatannya dengan membawakan sepatu Bung Hatta, seseorang akan bisa masuk lapangan secara gratis.

Di pengasingan Bung Hatta tetap menendang bola

Penampakan Boven Digul [Sumber Gambar]
Cerita Bung Hatta dengan sepak bola tidak berhenti di hal-hal tadi saja. Pasalnya, olahraga ini diam-diam juga tetap dimainkannya walaupun berada di pengasingan Boven Digul, Papua. Bahkan di tempat yang disebutnya neraka itu, pria asal Bukittinggi menggelar sebuah pertandingan persahabatan. Dilansir Boombastis dari Historia, Hatta saat ini menggelar friendly match antara pendatang baru dan penghuni lama Boven Digul pada 1935. Pertandingan yang juga memunculkan tokoh-tokoh nasional seperti Sutan Sjahrir, Mohamad Bondan dan beberapa tahanan politik lainnya berakhir dengan kekalahan Tim Hatta dengan skor cukup telak 3-1.

BACA JUGA: Jasa Bung Karno Kembangkan Sepak Bola Indonesia Hingga Negara Tetangga Bertekuk Lutut

Cerita Mohammad Hatta dengan sepak bola tadi, agaknya menjadi bukti kalau olahraga ini suka digemari banyak orang dahulunya. Selain itu, juga jadi gambaran kalau si kulit budar sudah masuk Indonesia dalam waktu yang lama. Mungkin Indonesia menjadi salah satu negara Asia Tenggara tela memainkannya.