Sebagai pencipta kapal induk kelas dunia, militer AS memiliki begitu banyak alutsista pengangkut itu di jajaran armada lautnya. Di antara nama-nama tenar seperti USS Kitty Hawk dan USS Harry’s Truman, terselip nama USS Makassar Strait yang begitu melegenda. Tak hanya bagi awak AL AS, tapi nama khas Indonesia yang disandangnya juga memiliki kisah tersendiri.

Meski kini tak lagi menghuni pos Angkatan Laut AS, keberadaan USS Makassar Strait begitu bermakna bagi mereka. Terutama saat-saat era Perang Dunia ke-2, di mana armada laut Amerika Serikat sempat terlibat berbagai pertempuran yang mencekam melawan tentara Jepang saat berada di perairan Indonesia. Seperti apa sepak terjang USS Makassar Strait di masa lalu?

Kapal induk legendaris yang ditugaskan untuk menyokong perang pasifik AL AS

Saat pertama dibangun, kapal induk ringan ini dipoyeksikan untuk tugas pertempuran di palagan pasifik melawan AL Jepang. Dilansir dari navsource.org, kapal yang memiliki kode CVE-91 ini awalnya dinamai Ulitka Bay, yang diambil dari sebuah teluk di wilayah perairan Alaska, barat laut Pulau Noyes, Kepulauan Alexander. Dengan bobot 7.800 ton, USS Makkassar Strait memiliki panjang 156,1 meter, lebar 32,9 meter dan draft 6,9 meter.

Ditugaskan ke pasifik untuk menyokong armada laut AS [sumber gambar]
Oleh personil AL AS, kapal induk tersebut dijuluki sebagai The “Mighty Mak”, yang terkuat, karena jasanya melayani militer Amerika Serikat selama Perang Dunia melawan Jepang. USS Makassar Strait sendiri diluncurkan oleh galangan Kaiser Shipbuilding di Oregon pada 22 Maret 1944. Karena peresmiannya bertepatan dengan keterlibatan Amerika Serikat di Perang Dunia II, ia langsung ditugaskan berlayar di medan pasifik.

Nama USS Makassar Strait yang terkait dengan sejarah perang di Indonesia

Penamaan kapal induk AS dengan salah satu selat di perairan Indonesia itu, bukanlah sebuah kebetulan belaka. Ada sebuah sejarah penting di balik pemilihan nama tersebut. Dilansir dari indomiliter.com, kontak senjata yang terjadi pertama kali antara kapal perang AS dengan armada Jepang di kawasan Pasifik, berlangsung di Selat Makassar pada tanggal 24 Januari 1942.

Terlibat pertempuran di perairan Indonesia [sumber gambar]
Pada saat kejadian, kapal perusak DesRon 29 melakukan tembakan torpedo pada malam hari kepada target konvoi kapal Jepang yang tengah berlabuh di Balikpapan, dengan catatan empat kapal perang Jepang dilaporkan berhasil dihancurkan. Adapun, misi AL AS di sana bertujuan untuk membantu pasukan Belanda dan Australia yang tengah mendapat tekanan dari invasi Jepang di Kalimantan.

Dipensiunkan usai PD II berakhir dan dijadikan sasaran tembak

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, USS Makassar Straits yang telah menjelajah lebih dari 15.000 mil laut, akhirnya di-non aktifkan pada 9 Agustus 1946. Dikutip dari navsource.org, kapal induk kelas Cassablanca ini mengalami serentetan peristiwa penting selama berkiprah di palagan pasifik, seperti mendukung pendaratan dan invasi secara langsung, mengangkut banyak pesawat ke pos-pos penting, bolak-balik antara pulau-pulau Pasifik dan Pantai Barat membawa para veteran pulang saat perang berakhir.

Dikaramkan dengan cara menjadi sasaran tembak [sumber gambar]
Keberadaan USS Makassar akan menjadi sejarah lantaran dikaramkan dengan cara menjadi kelinci percobaan untuk uji coba rudal anti kapal Tartar / Terrier yang ditembakkan secara langsung. Tak hanya itu, kapal yang dipersenjatai 1 meriam 5 inchi, delapan kanon Bofors 40 mm dan 12 kanon PSU kaliber 20 mm in juga dihapus dari daftar alutsista AL AS pada 1 September 1958.

BACA JUGA: F-16 Turunkan Pesawat Ethiopia, Inilah Sangarnya 5 Alutsista TNI AU yang Jaga Langit

Meski bukan spesifik berhubungan langsung dengan kepentingan Indonesia, keberadaan USS Makassar Strait menjadi bukti penting bahwa kawasan perairan negeri ini pernah menjadi ajang pertempuran bagi negara-negara kuat di era PD II. Tak hanya AS, AL Australia juga pernah memakai nama Indonesia yakni Balikpapan Class LCH untuk armada laut mereka. Penamaan ini pun juga berkaitan erat dengan aktivitas militer negeri kanguru itu di Indonesia semasa PD 2.