Baru-baru ini, pesawat dari maskapai Ethiopian Airlines dipaksa turun oleh dua F-16 TNI AU dan mendarat di Batam, Kepulauan Riau. Dilansir dari news.detik.com, armada udara dari benua Afrika itu ternyata tak memiliki izin untuk melintas di wilayah udara Indonesia. Tak menunggu lama, TNI AU langsung mengirimkan jet tempurnya untuk melakukan pengawalan.

Tak hanya F-16, TNI AU juga memiliki sederet alutsista canggih yang disiapkan untuk menjaga kedaulatan wilayah ruang udara NKRI. Baik dari ancaman internal maupun eksternal. Merujuk data yang dikeluarkan globarfirepower.com, Indonesia menempati urutan ke-27 dari 136 negara dengan kekuatan udara sebanyak 478 pesawat. Di antaranya adalah lima alutsista berikut ini.

Shukoi Su-35 generasi terbaru

Untuk keperluan modernisasi alutsista tempur udaranya, pilihan Indonesia jatuh pada pesawat tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia. Dilansir dari cnnindonesia.com, jet fighter pesanan TNI AU tersebut bakal tiba di Indonesia pada Agustus 2019 sebanyak 11 unit melalui skema imbal beli dagang. Keberadaan Su-35 sendiri dinilai ideal untuk menjaga kedaulatan wilayah udara RI.

Shukoi Su-35 yang telah dipesan Indonesia [sumber gambar]
Jet senilai US$1,14 itu telah dilengkapi sejumlah kemampuan, mulai dari pengintaian (reconnaisance), pertempuran udara (dog fight) hingga penyusupan. Biaa dibilang, Su-35 merupakan pesawat multi-peran (multi-role) yang cocok dengan ruang udara Indonesia.

Jet tempur F-16

Selain keluarga Shukoi, TNI AU juga mengoperasikan jet tempur F-16 untuk mengawal wilayah udara Indonesia. Seperti kejadian baru-baru ini, pesawat buatan Amerika Serikat itu digunakan untuk mengawal peswat penumpang milik maskapai Ethiopian Airlines, yang akhirnya dipaksa turun karena melanggar wilayah udara. Selain berkemampuan tempur, kekuatan F-16 TNI AU juga bertambah berkat adanya hibah dari Amerika Serikat.

F-16 yang dihibahkan AS pada Indonesia [sumber gambar]
Laman regional.kompas.com menuliskan, pesawat tempur jenis F-16 tipe CD yang sudah di-upgrade itu telah dilengkapi sistem avionik (perangkat elektronik). Fungsi bertempur air to air (antar-udara) hingga air to ground (udara ke tanah) juga bertambah berkat kapasitas angkut misilnya yang sanggup membawa beban hingga 9 ton.

Pesawat anti-gerilya EMB-314 Super Tucano

Kontur medan di Indonesia yang didominasi oleh pegunungan dan perbukitan, membuat TNI AU harus memilik pesawat serang dengan kemampuan anti-gerilya. Sumber dari tni-au.mil.id menuliskan, alutsista buatan Embraer asal Brasil ini memiliki kemampuan yang mumpuni seperti COIN (Counter Insurgency) atau pesawat anti perang gerilya.

EMB-314 Super Tucano milik TNI AU [sumber gambar]
Di mana hal tersebut sangat cocok digunakan untuk mendukung misi-misi pengintaian, close air support, dan penumpasan pemberontak. Untuk persenjataan, EMB-314 Super Tucano dilengkapi dua buah SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm jenis FN Herstal M3P yang ditempatkan di setiap sayapnya. Bom berjenis MK-81/MK-82, bom cluster, rocket pod FFAR, dan rudal berpemandu laser, sekelas Maverick, juga bisa diangkut oleh pesawat satu ini.

Helikopter SAR Tempur H225M

Selain untuk mendukung kebutuhan tempur, TNI AU juga memesan helikopter yang difokuskan untuk keperluan tugas pencarian dan pertolongan (SAR) dalam kondisi tempur. Laman news.detik.com menuliskan, alutsista tersebut berjenis H225M yang masuk dalam varian keluarga helikopter multi-peran Super Puma. Saat ini, TNI AU telah memiliki enam H225M yang difungsikan untuk penugasan SAR tempur.

TNI AU pesan helikopter SAR Tempur H225M [sumber gambar]
Memiliki bobot seberat 11 ton, H225M yang bermesin ganda ini bakal diserahkan kepada TNI AU usai melalui proses perakitan, penambahan kelengkapan, dan penyesuaian akhir oleh PTDI. Tak hanya Indonesia, sejumlah negara seperti Perancis, Brazil, Meksiko, Malaysia, dan Thailand juga merupakan pengguna setia H225M.

Drone Wing Loong

Untuk kebutuhan pesawat intai tanpa awak (drone), TNI AU menjatuhkan pilihannya pada Wing Loong I buatan China. Dilansir dari international.sindonews.com, Indonesia membeli empat unmanned aerial vehicle (UAV) yang merupakan besutan perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan milik negara Aviation Industry Corporation of China (AVIC).

Drone Wing Loong I yang bakal dioperasikan dari TNI AU [sumber gambar]
Kontraksnya pembelianya sendiri telah ditandatangani pada tahun 2017 dan akan dioperasikan oleh Skadron Udara 51 TNI AU. Dengan panjang 8,7 meter, tinggi 2,8 meter, dan memiliki lebar sayap 14 meter, Wing Loong I memiliki jangkauan maksimum sekitar 200 km dan daya tahan terbang sekitar 20 jam.

BACA JUGA: 5 Fakta F-16, Jet Baru Paling Mematikan Indonesia yang Ternyata Hasil Lungsuran

Meningkatkan kualitas alutsista sesuai kebutuhan dari tahun ke tahun, memang diperlukan agar tak kehilangan kemampuan tempur saat dibutuhkan. Terkhusus ruang udara Indonesia yang menjadi wewenang TNI AU, penambahan sejumlah pesawat tempur, intai hingga penyelamat menjadi sebuah keharusan demi menjaga tegaknya kedaulatan Indonesia di angkasa. NKRI harga mati!