Bencana banjir yang melanda DKI Jakarta beberapa waktu lalu, membuat pemerintah setempat mencari cara untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah dengan memasang memasang enam disaster warning sistem (DWS) sebagai peringatan dini saat banjir tiba.

Dilansir dari News.detik.com (17/01/2020), peringatan dini berbentuk menara dengan pengeras suara tersebut, menelan biaya sebesar Rp 4.073.901.441. Meski diklaim sebagai ‘Bukan Toa Biasa’ karena telah dilengkapi dengan teknologi yang canggih, masyarakat justru menganggapnya suaranya berisik? Selengkapnya, simak ulasan berikut ini.

Diklaim sebagai ‘Bukan Toa Biasa’ karena kecanggihannya

Ilustrasi toa peringatan banjir di salah satu wilayah [sumber gambar]
Perangkat DWS berupa menara pengeras suara yang telah dipasang, diklaim sebagai ‘bukan toa biasa’ karena telah dilengkapi teknologi canggih. Hal ini dilihat dari cara kerjanya yang efektif karena bisa dipantau dari pusat secara langsung. “Pengeras ini bukan Toa biasa karena bisa dipantau dari Pusdatin untuk langsung ke lokasi yang ada”, ucap Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Muhammad Insyaf yang dikutip dari News.detik.com (17/01/2020).

Telan anggaran hingga Rp 4,073 miliar

Ilustrasi toa telan anggaran hingga Rp4 miliar [sumber gambar]
Untuk pengadaan DWS tersebut, dana yang dikeluarkan mencapai Rp 4,073 miliar. Rinciannya, enam set radio VHF memakan biaya paling banyak, yakni sebesar Rp 3,122 miliar. Sisanya datang dari pengeras suara berupa 6 set (1 set berisi 4 speaker) 30W horn speaker buatan lokal, sebesar 7,062 juta.

Cara kerja perangkat DWS ketika banjir terjadi

Ilistrasi toa peringatan banjir DKI Jakarta [sumber gambar]
Keberadaan DWS dianggap efektif karena bisa langsung memberikan informasi terkait banjir yang terjadi. Lewat broadcasting warning station (stasiun peringatan dengan pengeras suara/speaker), informasi berupa suara petugas BPBD, kemudian disebar melalui jaringan radio VHF yang ditangkap oleh DWS, dan mampu menjangkau hingga jarak 500 kilometer.

Toa peringatan banjir yang tidak berfungsi di salah satu wilayah DKI Jakarta

Meski dianggap sebagai ‘bukan toa biasa’ karena kecanggihan teknologinya, Warga di Cipinang Melayu, Jakarta Timur (Jaktim), malah mengeluhkan bawah alat tersebut tak berfungsi dengan maksimal di daerahnya. Alhasil, warga pun mengandalkan pengalaman serta insting mereka karena telah berpengalaman menghadapi banjir sejak lama.

Keberadaan TOA malah dianggap berisik oleh warga

Ilustrasi banjir di DKI Jakarta [sumber gambar]
Meski telah dilengkapi dengan teknologi komunikasi yang canggih, beberapa warga malah keberatan dengan keberadaan DWS tersebut. Keluhan ini datang dari warga di kawasan Rawajati, Pancoran, Jaksel. Mereka justru menggunakan grup WA untuk mengupdate informasi seputar banjir. “Itu sekelurahan Rawajati punya grup. Setiap RW ada PPSU-nya, jadi kita lebih tanggap daripada toa ya. Kalau toa jadi berisik ya ke mana- mana, jadi sistemnya kaya gitu,” ucap seorang warga bernama Sari yang dikutip dari News.detik.com (18/01/2020).

BACA JUGA: Melihat Prestasi Anies Baswedan Untuk Warga Jakarta Selama Menjabat Sebagai Gubernur

Pendeteksian secara dini ketika banjir terjadi memang bukanlah perkara yang mudah. Penggunaan DWS berupa toa alias pengeras suara di atas, menjadi salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Meski pada akhirnya, menuai kritik dari warga yang merasa terganggu dengan suaranya hingga alat yang tak berfungsi secara maksimal.