Anggapan untuk menjadi seorang petinggi negara haruslah memiliki pendidikan yang mapan, tampaknya tak berlaku bagi sosok Mohamed Hamdan Dagolo. Dilansir dari bbc.com, pria yang dikenal dengan nama “Hemeti” itu, merupakan orang kedua di jajaran junta militer, penguasa Sudan saat ini. Dalam jabatan struktural, ia menduduki posisi sebagai wakil presiden Dewan Militer Peralihan Sudan.

Tak seperti petinggi negara yang umumnya memiliki jenjang pendidikan mumpuni atau minimal alumni universitas, Hemeti justru tak lulus sekolah di masa mudanya. Konflik berkepanjangan di Sudan yang berubah menjadi medan peperangan, membuatnya meraih popularitas luar biasa di kalangan masyarakat. Dari sinilah, ia menangkap sebuah momen yang kelak mengubah jalan hidupnya ke depan.

Tak lulus sekolah dan menjadi pedagang unta

Ilustrasi pedagang Unta [sumber gambar]
Hemeti yang lahir pada tahun 1975 dari kelompok kelompok Mahamid Arab-Sudan yang berprofesi sebagai penggembala unta, tak pernah menyelesaikan pendidikan formalnya disekolah. Hal ini terjadi lantaran ia memilih drop out dari sekolah pada umur 16 tahun dan memilih untuk berdagang unta. Aktifitas niaganya saat itu mengekspor unta dari Darfur ke Chad bagi pelanggan di Libia dan Mesir.

Memandang konflik sebagai jalan untuk meraih kejayaan

Milisi Janjaweed yang didukung oleh Hemmeti [sumber gambar]
Saat konflik pecah, Hemeti yang cerdas melihat peluang usaha lain yang menjanjikan dengan memberikan jasa pengamanan bagi para pedagang. Dari sinilah, ia mulai dikenal dan kaya raya atas usahanya tersebut. Tak lama, Hemmeti juga mulai terlibat konflik dengan menyokong milisi lokal bernama Janjaweed. Perang dan konflik yang terjadi, dipandang olehnya sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan, baik materi maupun kekuasaan.

Membangun lewat jalan uang, perang dan kekuasaan

Perang dan uang menjadi jalan yang lebar untuk meraih kekuasaan [sumber gambar]
Hemmeti yang sukses mengorganisir para milisi bersenjata, berubah menjadi Pasukan Pendukung Cepat (RSF) pada 2013. Menurut Small Arms Survey (2016) yang dikutip dari bbc.com mengatakan, RSF diperkirakan beranggotakan 10.000-20.000 orang, hingga sekitar 50.000 dan memiliki 15 sampai 20 kamp pelatihan. Selain pasukan, kekuasaan Hemmeti juga ditopang dengan dana ekitar US$350 juta atau Rp4,9 triliun untuk keuangan Sudan, juga didukung 67 pimpinan suku dan 50 mantan perwira pemberontak.

Jadi Wakil Presiden yang memiliki pengaruh besar di Sudan

Sukses jadi Wakil Presiden Dewan Militer Sudan [sumber gambar]
Lengkap sudah sosok Hemmeti di panggung kekuasaan Sudan. Didukung dengan milisi dan dana yang besar, ia menjadikan konflik di negaranya sebagai jalan untuk meraup popularitas sebagai pejabat publik. Saking berpengaruhnya, banyak diplomat Barat mengantre agar dapat berjabat tangan, bukan dengan presiden dewan militer, Abdel Fattah al-Burhan – tetapi dengan wakilnya, Hemeti.

BACA JUGA: Khalifa Haftar, Jenderal Pemberontak Muammar Gaddafi yang Bisa Bikin Libya Banjir Darah

Perang memang hanya mendatangkan nestapa dan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Namu di sisi lain, hal tersebut bisa dijadikan sebagai momen atau tonggak yang tepat untuk meraih popularitas maupun kekuasaan. Meski bukan sebagai contoh yang baik untuk ditiru, setidaknya kecerdikan Mohamed Hamdan Dagolo di atas dalam melihat peluang dari sebuah peristiwa, bisa kita ambil hikmahnya. Mungkin untuk melihat kesempatan lain dalam banyak hal di kehidupan ini. Asal jangan perang-perangan ya Sahabat Boombastis.