Pasang surut sebuah karir dalam pekerjaan, memang lumrah terjadi di sela-sela kehiupan manusia. Agaknya, hal inilah yang dialami oleh Jenderal TNI (Purn.) Wiranto. Sebelum terjun ke dunia politik, dirinya merupakan seorang tentara cerdas dengan karier kemiliteran yang sangat cemerlang. Beberapa posisi strategis di tubuh TNI pernah dijabatnya.

Dilansir dari tirto.id, Wiranto pernah jadi Kepala Staf AngkatanDarat (KSAD) dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada Maret 1998. Bahkan saat terjadi chaos yang menuntut lengsernya Soeharto, ia telah menjelma menjadi figur terkuat di seluruh Indonesia pada saat itu. Lepas dari militer, ia mencoba menapaki karir sebagai politikus. Pasang surut yang terjadi, nyatanya tak menyurutkan langkah sang Jenderal untuk menjadi yang terbaik.

Berkarir cemerlang di satuan TNI Angkatan Darat

Wiranto memiliki rekam jejak yang cemerlang di dunia militer [sumber gambar]
Memulai karir militer sebagai Taruna Angkatan Darat pada 1968, Wiranto dikenal sebagai perwira yang brilian. Dilansir dari tirto.id, dirinya yang kala itu berpangkat Letnan Dua Infanteri setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang , sempat ditugaskan ke luar Pulau Jawa. Wiranto juga pernah menempuh pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada 1984.

Sempat menjadi Ajudan Presiden Soeharto

Wiranto bersama Soeharto [sumber gambar]
Berbekal kecakapannya di militer, Wiranto pun diangkat menjadi Ajudan Persiden Soeharto selama emapt tahun. Dilansir dari tirto.id, kariernya sebagai Perwira mulai menanjak setelah menjadi orang terdekat Presiden RI ke-2 itu. Mulai dari dari Kasdam (1993) hingga Panglima di KODAM Jaya (1994), lompatan itu berlanjut hingga dirinya dilantik sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada 1996 hingga mencapai KSAD. Tahun 1998, dirinya ditunjuk oleh Presiden Soeharto menjadi Panglima ABRI (kini TNI). Saat terjadi kerusuhan Mei 1998, Wiranto telah menjadi orang terkuat di Indonesia hingga era Presiden B.J Habibie.

Menjadi orang terkuat kala terjadi kerusuhan Mei 1998

Wiranto dan Prabowo [sumber gambar]
Saat pecah kerusuhan berskala besar pada bulan Mei 1998, Wiranto yang telah menjadi Jenderal penuh mendapat mandat khusus dari Soeharto. Dilansir dari cnnindonesia.com, dirinya diberitahu tentang pengunduran dirinya sebagai presiden. Kedua, Wiranto diserahi dokumen yang juga dikenal Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 1998 yang berisi pengangkatan saya menjadi Panglima Komando Kewaspadaan dan Keselamatan. Saat Habibie naik ke tampuk kekuasaan, dirinya diminta oleh Presiden ke-3 itu mencopot jabatan Pangkostrad yang dijabat oleh Prabowo.

Meniti karir di dunia politik dengan mendirikan Partai Hanura

Wiranto dirikan Partai Hanura [sumber gambar]
Setelah meninggalkan dunia militer, Wiranto mencoba menapaki karir di dunia politik. Dilansir dari viva.co.id, ia menjadi kandidat presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan Salahudin Wahid pada 2004. Sayang, dirinya kalah dengan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Tak patah arang, dirinya kembal menyusun strategi dengan mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) sebagai kendaraan politiknya. Tak tanggung-tanggung, ia sempat menggandeng bos MNC Group, Harry Tanoe pada pilpres 2014. Lagi-lagi Wiranto kurang beruntung karena pasangannya memutuskan untuk berpisah sebelum pemilihan Presiden digelar.

Sukses menjadi Menteri di beberapa era Presiden Indonesia

Wiranto diagkat sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan [sumber gambar]
Meski sempat gagal sebanyak dua kali, membut Wiranto tetap ikut berkecimpung di arena Pilpres 2014. Bukan sebagai kandidat, melainkan menjadi pengusung calon lain yakni Joko Widodo. Dilansir dari viva.co.id, ia akhirnya diminta menyodorkan nama-nama kadernya untuk dipilih Presiden Joko Widodo untuk menjadi menteri di Kabinet Kerja periode 2014-2019. Saat adanya reshuffle kabinet, ia diangkat menjadi Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan. Sebuah jabatan yang serupa di era pemerintahan Habibie. Dilansir dari tirto.id, Wiranto juga sempat menduduki posisi tersebut saat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden RI.

Rekam jejaknya yang cemerlang saat di kemiliteran, menjadi batu loncatan bagi seorang Wiranto untuk menjajaki dunia perpolitikan. Meski sempat gagal mencalonkan diri sebagai Presiden, toh dirinya tetap dipercaya menempati berbagai posisi strategis di pemerintahan. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?