Kita nggak akan mengetahui akan menjadi apa dan bagaimana hidup kita nantinya, dari banyaknya rencana yang kita miliki semua tergantung lagi apa rencana Tuhan. Kadang juga kita nggak akan bisa menebak perjalanan hidup orang lain, bisa jadi anak pemalas yang kita kenal saat sekolah kini jadi sukses dengan usahanya. Itulah kenapa dalam menjalani hidup wajib yang namanya selalu berusaha sebaik-baiknya. Setuju nggak?

Ngomongin tentang nasib manusia yang nggak kita tau bagaimana kisahnya, ada satu cerita tentang orang berkulit putih yang pernah menjadi raja di Papua Nugini! Dengan badan yang kekar dan matanya yang biru, pria bernama Carl Emil Pettersson ini mencatat sejarah yang unik dalam dunia perdagangan dan juga pelayaran di dunia. Bagaimana faktanya? Simak dibawah ini yuk!

Tak kenal rasa takut, berlayar sendirian sejak 17 tahun

Inilah gambaran para penduduk pulau Tabar saat Carl terdampar di pulau ini [Sumber Gambar]
Kecintaannya pada dunia pelayaran membuat Carl yang masih berusia 17 tahun selalu berada di kapal untuk berpetualang mengarungi lautan, walaupun jauh meninggalkan Swedia ia menggunakan keahliannya untuk mencari pekerjaan. Sampai pada tahun 1898 sebuah perusahaan Jerman yang berlokasi di area Papua Nugini mempekerjakan Carl untuk memperluas area perdagangan.

Berawal dari terdampar di pulau Tabar, ia hampir jadi korban kanibalisme

Carl bersama Singdo, putri dari Raja Lamy [Sumber Gambar]
Nasib tak dapat ditolak, saat tengah bekerja justru kapalnya karam dan ia pun terdampar di Pulau Tabar pada tahun 1904. Saat itu penghuni pulau ini masih banyak yang menganut kanibalisme alias memakan daging manusia. Karena perawakannya yang berbeda dengan kulit putih dan mata yang biru justru warga pulau ini terpesona, bahkan anak raja Lamy yang berkuasa saat itu pun jatuh hati.

Sukses dengan bisnis kopra bersama dengan keluarga barunya

Perawakannya yang kekar membuat para penduduk segan [Sumber Gambar]
Memanfaatkan kondisi yang ia alami, Carl memutuskan untuk menetap dan menikahi sang tuan putri Singdo. Mereka mempunyai 8 anak dan mengembangkan bisnis perkebunan, para pekerja yang saat itu banyak membantu pun diperlakukan dengan baik sehingga Carl pun mendapatkan julukan ‘Strong Carl’.

Menjadi raja karena ayah mertuanya meninggal

Keluarga Carl bersama Singdo [Sumber Gambar]
Sayangnya kebahagiaan ini tidak berlangsung lama, pada tahun 1921 tuan putri Singdo meninggal dunia karena penyakit malaria yang pada saat itu mewabah. Karena garis keturunan kerajaan masih berlaku pada Carl, otomatis ia menjabat sebagai raja di pulau ini. Namun karena ia banyak mengambil keputusan yang tidak baik, justru saat ia menjadi raja banyak konflik yang terjadi menyebabkan ia sampai harus pulang kampung ke Swedia tahun 1923.

BACA JUGA: Mengenal Port Moresby, Kota ‘Paling Berbahaya’ yang Bertetangga Dengan Indonesia

Siapa yang menyangka akan ada orang Barat yang menjadi raja di belahan dunia sebelah Timur seperti Carl? Walaupun kisahnya ini seperti dongeng ternyata beneran terjadi lho! Kira-kira kalau sekarang ada bule yang terdampar di kepulauan Indonesia apa yang terjadi ya?