Kasus e-KTP adalah problematika klasik yang buntut masalahnya terus terasa sampai sekarang. Dari awal keberadaannya, anggaran proyek e-KTP jumlahnya mencapai Rp 5,9 triliun. Nyatanya dana sebesar itu disalahgunakan oleh pejabat dan dipakai untuk kepentingan pribadi, Setya Novanto adalah nama yang dikenal khalayak karena korupsi dana e-KTP.

Akibatnya, banyak masyarakat yang mengeluh belum bisa mendapatkan tanda kependudukan resmi itu. Saat datang dan melapor ke Discukcapil, pihak terkait mengatakan bahwa mereka kehabisan atau kehilangan blangko. Nah, baru-baru ini muncul lagi kasus bahwa blangko e-KTP ini dijual bebas di situs belanja online. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Berikut fakta yang akan Boombastis.com rangkum untuk Sahabat semua.

Identitas penjual yang merupakan anak pejabat

Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fikrulloh [Sumber gambar]
Blangko e-KTP merupakan dokumen negara yang bersifat rahasia dan dilarang diperjualbelikan. Beredarnya blangko ini sendiri termasuk hal yang ilegal. Dilansir dari kompas.com, beredar di toko online, pihak Dukcapil sudah menggali informasi lebih jauh terkait pelaku, seperti alamat, nomor telepon, dan foto. Hasilnya, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebutkan, penjual tersebut merupakan anak dari mantan Kepala Dinas Dukcapil di Tulangbawang, Lampung. Si penjual mencuri 10 blangko e-KTP yang ada dan menjajakannya.

Pelaku mengatakan tindakannya hanya ‘iseng’

Barang bukti e-KTP [Sumber gambar]
Lebih lanjut, Zudan Arif Fakrulloh selaku Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengungkapkan, pelaku mengatakan hal tersebut hanya sebatas keisengan belaka. Ia mencuri beberapa blangko tersebut saat orangtuanya masih menjabat sebagai petugas Disdukcapil, bulan Maret lalu. Dari hasil penjualan di salah satu situs online (Tokopedia), ia hanya mendapat uang 500 ribu saja.

Selain di Tokopedia, blangko dijual di Pasar Pramuka

KTP palsu yang dijual di pasaran [Sumber gambar]
Selain dijual secara online, kasus lain lagi menyebutkan bahwa ditemukan blangko yang beredar di pasaran. Hal ini terkuak setelah adanya investigasi dari salah satu tim media nasional. Mereka menemukan ada oknum yang menjual blangko asli di Pasar Pramuka Pojok, Jakarta Pusat. Sayangnya, setelah ditinjau ulang oleh Kemendagri, si penjual sudah tidak ada lagi di tempatnya. Hal tersebut mungkin karena mereka sudah menyelamatkan diri, mengingat kabar ini sudah tersebar dengan cepat.

Blangko tak dapat digunakan

Blangko e-KTP [Sumber gambar]
 Untuk kasus e-KTP yang dijual bebas di Pasar Pramuka, Kemendagri mengatakan bahwa blangko tersebut tak bisa digunakan layaknya KTP yang asli. Chip yang ada tidak terkoneksi dengan pusat data yang dimiliki Kemendagri. Blangko e-KTP tersebut tidak bisa digunakan untuk transaksi karena hanya kosongan saja, tindakan ini termasuk penipuan. Sedangkan anak pejabat atau ayahnya yang tersandung kasus e-KTP ini sudah diamankan di Polda Metro Jaya. Sesuai dengan pasal 96 UU Nomor 24 Tahun 2013, tindakan ini bisa dijerat pidana paling lama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

BACA JUGA: 4 Negara Pemilik e-KTP Tercanggih, Indonesia Nggak Ada Apa-Apanya

Mungkin inilah yang dinamakan keisengan yang berujung bui. E-KTP adalah barang milik pemerintah yang tidak boleh diperjualbelikan karena sudah diatur oleh UU tentang Administrasi Kependudukan. Jadi, jangan coba konyol berbuat iseng bermain dengan e-KTP ini ya, Sahabat.