Sebagai negeri yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, tentu Indonesia dihuni oleh masyarakat dengan berbagai suku, salah satunya adalah Masyarakat Asmat yang berada di Papua Barat. Sayangnya, letak yang susah dijangaku sepertinya membuat provinsi yang berada di ujung timur Indonesia ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah.

Bisa dibuktikan dengan masih kurangnya fasilitas umum pelayanan kesehatan. Baru-baru ini bahkan wabah penyakit campak yang menyerang anak-anak, namun belum mendapat penanganan serius, akibatnya, korban berjatuhan tak bisa dihindari. Dari sekian masalah di atas, masih ada lagi potret miris kehidupan masyarakat Asmat yang akan membuatmu ikut sedih melihatnya.

Wabah campak terus memakan korban karena imunisasi belum merata

Selama ini masyarakat suku Asmat sebenarnya dikenal kebal penyakit dan terbebas dari Kejadian Luar Biasa (KLB) campak pada 2006 lalu. Namun, 12 tahun berlalu virus campak kembali menjadi momok di tahun 2018, mirisnya ada banyak anak-anak Asmat yang tidak terselamatkan. Dilansir dari liputan6.com, menurut Mantan Direktur Rumah Sakit Umum wabah campak ini menyebar dengan cepat ketika diadakannya pergelaran pesta budaya yang berlangsung pada akhir 2017.

Wabah campak Asmat [Image source]
Di saat semua masyarakat Asmat bertemu di satu titik kumpul, virus campak menyebar cepat melalui kontak fisik dan transmisi melalui udara. Sejauh ini sudah terhitung 59 anak meninggal karena wabah penyakit campak ini. Wabah penularan penyakit campak ini disebabkan juga karena imunisasi yang belum merata. Karena alasan jarak, imunisasi yang hanya dilakukan sebulan sekali ini tidak menjangkau masyarakat yang akses tempat tinggalnya susah.

Darurat gizi buruk ikut menjadi dilemma di masyarakat

Tidak hanya campak saja, gizi buruk juga  menjadi dilemma yang tidak kalah menakutkan. Terhitung dari September 2017 lalu, sudah 24 anak yang meninggal akibat karena alasan gizi buruk. Penyebab utama dari gizi buruk ini karena belum adanya asupan pangan yang yang layak untuk warga Asmat. Masyarakat belum bisa mendapat makanan yang bergizi, ikan saja tidak setiap hari didapat, sayur-sayuran juga terbatas. Selain itu kesadaran akan pentingnya kesehatan masih belum mendarah daging di masyarakat.

Anak Gizi buruk Asmat [Image source]
Tidak hanya anak-anak saja sebenarnya, gizi buruk juga turut mempengaruhi kualitas air susu para ibu di Asmat. Penanganan yang sudah dilakukan oleh presiden Jokowi sejauh ini adalah mengirimkan sejumlah bantuan pangan, hanya saja kendala akses membuat bantuan tak datang tepat waktu.

Pemerintah yang lamban menangani masalah

Masalah gizi buruk dan wabah campak yang menyerang anak-anak di Papua ini tentu bukan menjadi PR bagi pemerintah Papua saja, tapi seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu yang geram dengan kasus ini adalah Nihayatul Wafiroh, salah satu anggota anggota Komisi IX DPR RI. Dalam unggahan di twitter pribadinya, Ninik menegasakan sikap lamban dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap kondisi masyarakat Asmat juga menjadi pangkal masalah kasus ini.

Cuitan Nihayatul Wafiroh [Image source]
Seharusnya pemerintah Indonesia bertindak cepat agar tidak ada lagi korban berjatuhan. “Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Indonesia tidak pernah mencapai 100%, paling tinggi sekitar 91%, berarti masih banyak anak Indonesia yg tidak mendapat imunisasi,” kicau Nihayatul lewat Twitter @ninikwafiroh

Kurangnya fasilitas kesehatan dan tenaga medis

Tidak bisa membayangkan jika saat kita sakit, namun tempat berobat sangatlah jauh untuk ditempuh, seperti yang dialami masyarakat Asmat ini. Ada banyak wilayah di Asmat yang tidak punya akses jalan darat, sehingga pergi ke puskesmas harus lewat transportasi air 2-3 jam. Disamping itu belum ada jangkauan jaringan komunikasi antarwarga, sehingga saat datang ke puskesmas, kadang petugas medis sedang tidak ada di tempat. Bagaimana perasaanmu jika menjadi mereka?

Pelayanan kesehatan masih kurang [Image source]
Jika ditilik dari layanan medis, fasilitas kesehatan dan tenaga medis masih sangat kurang. Asmat yang ditinggali oleh 90 ribu jiwa hanya memiliki 1 RS dan 13 Puskesmas, mustahil bagi masyarakat untuk bisa maksimal mendapatkan pelayanan kesehatan. Tapi, presiden Jokowi sejauh ini sudah mengirimkan tenaga medis, bantuan makanan, serta pasukan dari TNI  kurang lebih 53 personel.

Anak-anak Asmat adalah asset negara yang tidak kalah penting dengan generasi muda di berbagai penjuru Indonesia, maka sudah sepantasnya mereka mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak. Dari sederet masalah di atas, walaupun bukan siapa-siapa, tetap ada yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka. Misalnya dengan meggalang bantuan dana atau menjadi relawan untuk ikut terjun ke lapangan.