Membudidayakan ikan seperti nila memiliki banyak keuntungan. Selain adaptif terhadap perubahan iklim, hewan tersebut bisa dikembangkan lewat teknik Bioflok. Hasilnya pun sangat potensial dari sisi ekonomi. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin membudidayakan ikan nila dengan teknik Bioflok.

Salah satu hal penting adalah persiapan flok sebagai sumber bahan pakan tambahan bagi ikan, yang bisa diracik sendiri dengan bahan-bahan dasar yang mudah ditemukan. Benih ikan nila yang unggul juga menjadi faktor sukses budidaya dengan teknologi Bioflok. Seperti apa carannya? Simak ulasan Boombastis berikut ini.

Siapkan bahan dan racikan Bioflok terlebih dahulu

Ilustrasi racikan Bioflok [sumber gambar]
Sebelum memulai, ada baiknya jika membuat Bioflok yang akan digunakan terlebih dahulu. Bahan yang dibutuhkan adalah garam krosok 1 kg per meter kubik, kapur dolomit (kapur pertanian) 50 gram per meter kubik, molase sebanyak 100 ml/m3, dan probiotik dengan kandungan bacilus. Bahan di atas kemudian dimasukkan ke dalam bak berdiameter 4 meter yang sudah diisi air secukupnya dan diamkan selama 4-7 hari.

Perhatikan kualitas air

Ilustrasi kualitas air [sumber gambar]
Kualitas air menjadi perhatian utama ketika budidaya telah dijalankan. Salah satunya mengisi air dengan bakteri (Bacilus) yang bersifat non pathogen. Fungsi bakteri tersebut merangsang pertumbuhan mikroorganisme untuk mengolah limbah. Jangan lupa, pastikan bak diberi aerator untuk menyuplai atau menyediakan oksigen agar mikroorganisme bisa tercampur dengan air kolam.

Pilih benih ikan nila yang baik

Ilustrasi bibit nila [sumber gambar]
Setelah didiamkan selama 4-7 hari, bibit nila bisa ditebar secara merata dalam wadah tersebut. Usahakan agar jangan diaduk dan terkena benda-benda asing dari luar seperti air hujan dan polusi. Pilih bibit nila yang bersifat aktif di air, ukuran dan warna seragam, serta memiliki anggota tubuh yang lengkap. Ciri-ciri tersebut merupakan bibit nila yang bagus.

Perhatikan perawatan sehari-hari

Ilustrasi memperhatikan perawatan [sumber gambar]
Perawatan yang rutin secara teratur mampu memberikan hasil yang terbaik pada ikan. Mulai dari memantau kesehatannya, memastikan alat yang digunakan tetap berfungsi, kebersihan wadah dari gangguan benda-benda asing, hingga pemberian pakan dalam porsi yang seimbang yang disesuaikan dengan ukuran ikan.

Budidaya nilai yang menghasilkan hingga Rp20 jutaan

Dirjen Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebijakto (tiga dari kiri) melihat teknologi Bioflok pada budidaya ikan nila di Kabupaten Sukabumi [sumber gambar]
Salah satu contoh sukses dari budidaya nila dengan teknik Bioflok adalah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Indra Makmur Sukabumi. Menurut Syamsul Bahari selaku ketua, nila yang dihasilkan selama 3 bulan sebanyak 270 kg dengan bobot panen 200 gram/ekor. Keuntungan bersihnya per kolam mencapai Rp3,1 juta per siklus. Total ada 10 unit kolam, 2 bak tandon dan 8 kolam budidaya yang menghasilkan pendapatan bersih Rp24,8 juta.

BACA JUGA: Viral Cara Mudah Ternak Lele Sekaligus Tanam Kangkung Sendiri dalam Satu Tempat di Rumah

Teknologi Bioflok terbukti memberikan banyak manfaat pada budidaya ikan nila. Tak hanya nilai secara ekonomis, tapi juga sangat efisien pada biaya operasional dari sisi pakan, hemat penggunaan air, dan ramah lingkungan karena tidak menimbulkan bau. Gimana Sahabat Boombastis? Tertarik mencoba?