Sejak beredar beberapa waktu lalu, film Sexy Killer yang sarat dengan konflik industri pertambangan yang ada di Indonesia, sempat membuat mereka yang menontonnya terhenyak pada saat itu. Sedemikian masifnya industri batu bara yang ada di Indonesia, hingga menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat.

Yang menarik, industri pertambangan batu bara ternyata menjadi komoditi yang menjanjikan bagi para pengusaha. Pun demikian untuk masyarakat, di mana mereka dapat menikmati untung dengan aliran listrik dari pembangkit-pembangkit raksasa yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya. Seperti apa bentuknya?

Batu bara menjadi bahan bakar yang tepat sebagai pembangkit listrik

Karena tersedia langsung di alam, batu bara menjadi favorit bagi para pengusaha dan pemerintah untuk memenuhi ketersediaan energi yang tengah dibutuhkan masyarakat. Dilansir dari wartaekonomi.co.id, posisi batu bara telah menjadi sebagai energi primer bagi pembangkit listrik. Jika dibandingkan dengan energi alternatif lain seperti gas alam yang polusinya relatif sedikit, masih rentan dengan fluktuasi harga dunia.

PLTU Lombok Timur sebagai pembangkit listrik bertenaga batubara [sumber gambar]
Berdasarkan data outlook energi tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Dewan Energi Nasional (DEN), Indonesia memiliki daya batu bara sebesar 119,82 miliar ton dan cadangan batu bara sebesar 28,97 miliar ton. Tak heran jika akhirnya para pengusaha memanfaatkan momen ini dengan banyak mendirikan perusahaan tambang yang mengelola batu bara di dalam negeri. Hal ini turut menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari 10 negara penghasil batu bara terbesar di dunia.

Menjadi sumber utama sebagai pembangkit listrik

Dengan jumlah yang demikian, batu bara memiliki peranan yang vital bagi penyediaan energi listrik pada masyarakat. Laman wartaekonomi.co.id menuliskan, sedikitnya 27% dari total output energi dunia dan lebih dari 39% dari seluruh listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga batu bara. Hal ini cukup dimaklumi karena selain ketersediaannya yang terbilang cukup, juga cukup mudah diusahakan lewat jalur pertambangan.

Jadi sumber utama untuk pembangkit listrik [sumber gambar]
Tak heran jika batu bara menjadi usaha favorit yang dapat menghasilkan keuntungan besar, salah satunya adalah persyaratan-persyaratan infrastruktur yang lebih murah dibanding sumber daya energi lainnya. Selain kemudahan untuk memiliki konsesi penambangan, para pengusaha juga diuntungkan dengan tingkat upah tenaga kerja di Indonesia yang juga relatif rendah dibanding negara-negara lain. Harga yang dihasilkan dari batu bara Indonesia pun terbilang sangat kompetitif di pasar internasional.

Memberikan untung pada negara dan pengusaha

Jika bicara soal untung, jelas batu bara adalah salah satu usaha yang menguntungkan bagi para pebisnis lewat perusahaan tambang mereka. Terlebih, Indonesia juga memiliki pasar ekspor batu bara di luar negeri seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan selain untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Pasar yang jelas dan hasil tambang yang nyata, memberikan banyak keuntungan, tidak hanya untuk para pengusaha, tapi juga negara.

Berikan keuntungan pada pengusaha dan negara [sumber gambar]
Sayang, keberadaan batu bara juga tak selamanya membawa kebaikan. Laman economy.okezone.com menuliskan, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang lingkungan hidup menginginkan penggunaan batu bara sebagai sumber energi, harus dihentikan karena tidak sebanding dengan dampak kerusakan yang dihasilkan oleh komoditas pertambangan tersebut, seperti banjir, longsor, pencemaran air dan udara. Hal ini bisa dilihat pada sebuah film dokumenter besutan Watchdog Image yang berjudul Sexy Killer, di mana perusahaan tambang memberikan dampak serius pada masyarakat dari aktivitasnya.

BACA JUGA: Kalimantan HANCUR Karena Tambang Batu Bara, Fotonya Akan Membuatmu Menangis

Menurut data yang dikutip dari industri.kontan.co.id, kebutuhan batubara untuk kelistrikan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) mengalami peningkatan. Sepanjang tahun 2019, kebutuhan batubara PLN diperkirakan sebesar 96 juta ton. Terlebih, penambahan PLTU baru dari proyek 35.000 megawatt (MW), semakin membuat batu bara dibutuhkan sebagai konsumsi rutin.