Meski namanya tak setenar Daud ‘Cino’ Jordan dan Chris ‘The Dragon’ Jhon, sosok Maxi Nahak Rodrigues mempunyai keistimewaan tersendiri. Sebagai bukit, petinju asal Kabupaten Malaka, NTT ini berhasil merebut sabuk kejuaraan tinju Asia kelas menengah (middleweight) versi WBC.

Kesuksesan Maxi merengkuh gelar bergengsi itu bukannya datang dalam waktu sekejap. Ada sebuah harga mahal yang harus dilaluinya saat diawal merintis karir sebagai petinju profesional. Pria berusia 32 tahun itu sempat merasakan susahnya kehidupan keras kota besar dengan menjadi supir angkutan umum. Selama enam bulan, ia menekuni profesi tersebut dengan tabah.

Maxi Nahak bersama Chris jhon dan Daud Jordan [sumber gambar]
Mujur, ia lantas diajak oleh salah seorang temannya untuk berlatih tinju. Bak gayung bersambut, Maxi mengiyakan tawaran tersebut. Terlebih, saat itu angkutan yang dikemudikannya sedang sepi penumpang. Ia pun merapat ke Sasando Boxing Camp (SBC) untuk berlatih. Minimnya fasilitas di tempatnya tak membuat semangatnya luntur. Ia kerap terlihat berlatih di dekat kandang ayam, angsa, burung elang, anjing, monyet.

Tetap giat berlatih meski dekat kandang ayam [sumber gambar]
Tak sekedar bertinju, Maxi ternyata juga dikenal sebagai sosok multitalenta dengan beragam kemampuan. Di antaranya sebagai atlet muay thai. Di mana ia sempat menjadi juara nasional tahun 2013 di Bali dan masih menjadi pemegang rekor nasional di kelas 64 kg. Juga sebagai pemain wushu amatir yang membela Provinsi Banten. Hidup sebagai atlet tinju, tak membuat Maxi berpuas diri. Untuk menambah pemasukan, ia juga bekerja sebagai kepala keamanan di salah satu perusahaan swasta di Tangerang

Ilustrasi sempat jadi sopir angkot [sumber gambar]
Iya betul, saya juga bekerja sebagai security aktif. Saya bersyukur punya atasan yang selalu mendukung karier saya sebagai atlet” ujarnya yang dilansir dari indosport.com.

Hingga pada puncaknya, Maxi berhasil memukul K.O lawannya yang berasal dari Korea Selatan itu. Padahal, dirinya saat itu sedang menjaga sang adik yang tengah terbaring sakit. Selain itu, Maxi juga sangat minim persiapan berlatih dan buta tentang teknis pengetahuan dari lawannya. Sejak saat itu, ia menjadi semakin terpacu untuk berlatih agar sukses seperti kedua seniornya di atas.

Berhasil kalahkan lawannya [sumber gambar]
Saat ini, Maxi masih fokus untuk berkarir sebagai petinju profesional. Kelak, jika tenaganya tak lagi dipakai di dalam ring tinju, ia pun tak ingin secepatnya meninggalkan dunia tinju. Maxi menyimpan asa agar ia bisa menjadi pelatih, di samping menekuni pekerjaannya sebagai petugas keamanan.

Menyimpan asa sebagai pelatih [sumber gambar]
Harapan saya dengan pengalaman berlatih dan bertanding di luar negeri, saya ada keinginan jadi pelatih untuk membagi pengalaman dengan adik-adik muda di NTT”. pungkasnya yang dilansir dari indosport.com.

Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Sepanjang terus berusaha, suatu saat Tuhan pasti akan menunjukan kebesaran-Nya. Bukan hanya kesuksesan, tetapi makna hidup yang telah dilalui mulai dari susah hingga menggapai keberhasilan. Selama masih ada kesempatan, kenapa tidak?