in

4 Alasan Kenapa Driver Ojol Tidak Layak Menjadi Korban Iseng Youtuber dalam Konten Prank

Belakangan, banyak YouTuber yang membuat konten prank dengan menjadikan pengemudi ojek online (ojol) sebagai korbannya. Meski sempat ramai dan sukses mendatangkan jutaan views, hal tersebut dinilai tidak pantas karena dianggap mempermainkan driver ojol yang bekerja keras untuk mencari nafkah.

Bahkan, hal ini sempat dikomentari Reza Oktovian atau yang lebih dikenal dengan nama Reza Arap. Dilansir dari Merdeka.com, ia mengaku jika dirinya mengecam konten prank ojol karena konten tersebut hanya ‘menjual’ rasa kasihan. Tak hanya itu, beberapa alasan di bawah ini adalah sebab, kenapa kita tidak perlu mempermainkan driver ojol dalam balutan konten prank.

Pertama, mereka bekerja keras dengan usaha yang bisa dibilang tidak mudah

Seorang driver ojol wanita tampak membawa kedua anaknya saat bekerja [sumber gambar]
Menekuni profesi sebagai driver ojek online bukan perkara yang mudah. Berada di jalanan sepanjang hari dengan berbagai resiko yang ada, tentu ada tanggung jawab besar yang dipikulnya seperti keluarga, anak, istri dan sebagainya. Belum lagi jika ada pesanan yang di-cancel atau masalah lainnya, jelas mempermainkan mereka saat menjalankan pekerjaannya bukanlah hal yang etis.

Kedua, bayangkan jika yang jadi target ternyata memiliki masalah pribadi yang belum terselesaikan

Ilustrasi ojol yang sempat kena order fiktif [sumber gambar]

Tak semua ojol berangkat bekerja dengan hati yang sumringah dan berbunga-bunga. Bisa saja saat itu mereka tengah memendam masalah, yang sewaktu-waktu bisa meledak jika beban dalam pikirannya telah menumpuk. Terlebih jika mereka kena prank dari para oknum YouTuber yang sempat marak belakangan ini, hal tersebut justru akan semakin memperparah kondisi psikologisnya.

Ketiga, tidak menghargai kerja keras ojol dengan cara yang pantas

Ilustrasi ojol yang bekerja mencari nafkah [sumber gambar]
Memang sih, para ojol pada konten prank tersebut berakhir happy ending alias bahagia karena diberi reward. Tapi, apakah hal tersebut dinilai pantas? Setelah sekian jam harus meredam emosi karena orderan ditolak dengan segala macam alasannya, wajah memelas ojol inilah yang kemudian menjadi klimaks dari konten prank yang ada. Setelah kesedihan dirasa cukup, barulah drama disudahi dengan setumpuk hadiah yang diberikan. Tapi apakah pantas hal tersebut harus dimulai dulu dengan nge-prank si ojol?

Keempat, konten hanya mementingkan adsense semata

Kasihan jika mereka harus dipermainkan hanya demi adsense semata [sumber gambar]
Memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh Reza Arap. Konten-konten prank seperti mengerjai ojol yang sempat ramai beberapa waktu lalu, hanyalah ‘menjual’ rasa kasihan demi mendulang views , yang ujung-ujungnya mengharapkan pemasukan dari adsense. Yang diuntungkan? Ya pemilik akun tentu saja. Bisa dibilang, mereka yang melakukan hal ini ibarat menari di atas kesedihan orang lain sebagai jualan utama, meski ujung-ujungnya happy ending karena dikasih surprise.

BACA JUGA: Tren Prank Ojol yang Tuai Komentar Negative, Netizen: Gaada Konten yang Lebih Bermanfaat

Konten-konten prank yang menjadikan ojol sebagai korbannya, tak lain adalah adalah upaya dari para YouTuber untuk mendulang views yang ujung-ujungnya bermuara pada pendapatan dari adsense. Yah, mungkin hal itulah yang mimin rasakan setelah melihat prankprank yang demikian. Kalo menurutmu gimana Sahabat Boombastis?

Written by Dany

Menyukai dunia teknologi dan fenomena kultur digital pada masyarakat modern. Seorang SEO enthusiast, mendalami dunia blogging dan digital marketing. Hobi di bidang desain grafis dan membaca buku.

Leave a Reply

Omari McQueen, Chef 11 Tahun yang Sudah Punya Restoran Sendiri Berkat Belajar dari YouTube

5-Tempat Makan Unik di Jogja yang Tak Cuma Beri Makanan Enak tapi juga Nuansa Tak Terlupakan