in

Melihat Uniknya Pemakaman Hewan di Bangkok, Bayar Mahal Ratusan Juta untuk Apa?

Proses penyiraman dengan air suci [Sumber gambar]

Tradisi pemakaman mahal memang dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Ngaben, Rambu Solo, Mangokal Holi, atau Tiwah dalam adat Suku Dayak. Pemakaman mahal ini adalah bentuk penghormatan terakhir kepada para arwah yang akan menemui sang pencipta. Singkatnya, kematian disambut dengan sukacita layaknya kelahiran.

Nah, di Bangkok, Thailand, tradisi ini juga berlaku loh. Hanya saja, objeknya bukan manusia seperti di Indonesia. Pemakaman mahal diberikan kepada binatang kesayangan yang meninggalkan tuannya. Jika dipikir, kamu mungkin akan bertanya, apa ya manfaatnya memberikan pemakaman eksklusif kepada peliharaan? Inilah yang akan Boombastis.com jawab, terus ikuti ulasannya sampai akhir ya!

Sebagai penghormatan terakhir

Proses penyiraman dengan air suci [Sumber gambar]
Rupanya, praktik ini maknanya saja seperti penguburan mahal yang ada di Indonesia. Kegiatan ini merupakan simbol bahwa segala sesuatu yang berasal dari alam, maka ia kelak akan kembali ke alam (kematian). Dalam kepercayaan Buddha, saat binatang dimakamkan dengan cara tradisional (kremasi), maka kelak ia akan mendapat karma baik. Hal tersebut sama baiknya dengan seseorang bersedekah kepada para biksu. Si pemilik juga menyelipkan harapan peliharaan mereka be-reinkarnasi dalam bentuk manusia yang lebih baik, atau mencapai nirwana (surga).

Biaya yang sangat mahal

Biaya pemakaman yang mahal [Sumber gambar]
Walaupun hanya hewan, biaya yang dikeluarkan untuk praktik ini sangat mahal, tergantung dari sebesar apa selebrasi yang ingin diadakan oleh si tuannya, dari ratusan ribuan hingga ratusan juta. Melansir Vice.com, seorang pengusaha di Bangkok pernah melakukan kremasi untuk anjing kesayangannya dan menghabiskan uang 180 juta Rupiah. Ia mengundang kurang lebih 80 orang, 60 biksu, mengadakan iring-iringan, serta memesan peti emas untuk anjingnya. Jasad peliharaan akan disiram air suci dan didoakan oleh para biksu. Selanjutnya nanti biksu menghibur keluarga yang ditinggalkan.

Sudah menjadi tradisi di Bangkok

Pemakaman ikan [Sumber gambar]
Tren royal terhadap peliharaan yang meninggal ini sudah menjadi tradisi. Tak hanya anjing atau kucing saja yang dihormati. Hewan lain seperti ikan, babi, kuda, kera, atau bahkan kadal juga diperlakukan sama. Beberapa kuil di sana kadang menawarkan jasa pemakaman bagi yang tidak melakukan kremasi. Di Bangkok sendiri ada perusahaan bernama Pet Funeral Thailand yang melayani kremasi dan pernak-pernik seputar kematian hewan. Menurut pemiliknya, perusahaan ini sudah berdiri selama sepuluh tahun dan tak pernah sepi pegunjung.

Lalu, bagaimana dengan orang yang kurang mampu atau binatang liar?

Kematian dan sebar abu hewan yang sudah dikremasi [Sumber gambar]
Nah, sekarang timbul pertanyaan, bagaimana dengan peliharaan orang yang tidak punya cukup uang untuk melakukan kremasi? Seperti yang sudah dijelaskan di atas, pemakaman ini bisa dimulai dengan ratusan ribu, sehingga tak akan membuat jatuh miskin jika memang bukan keluarga yang kaya raya. Sedangkan hewan liar, mereka sering mendapat belas kasih dari para pedagang pasar. Karena anjing-anjing liar sering mencari makanan bekas di pasar atau pusat belanja tradisional, maka saat si anjing meninggal, pedagang akan patungan membantu proses pemakamannya.

BACA JUGA: Sama Seperti Pesta Pernikahan, 4 Upacara Kematian di Indonesia Ini Tak Kalah Mahal

Bangkok didominasi oleh orang-orang beragama Buddha, sehingga kultur taat mereka akan sangat terasa. Memberikan pemakaman layak kepada para peliharaan adalah salah satu dari banyak yang hal agama ajarkan, tentang kasih sayang antar-sesama makhluk. Jadi, ya enggak masalah seberapapun biaya yang dikeluarkan untuk hewan mereka, toh selama hidup hewan ini juga memberikan kebahagiaan kan?

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Kenalan dengan Javier Zanetti, Legenda Sepak Bola yang Disebut-sebut Mirip Wulan Guritno

Berburu Paus di Lembatta, Antara Lestarikan Tradisi dan Lenyapkan Mamalia Laut