Kiamat itu memang mutlak, hanya saja tak ada satu makhluk pun yang mengetahui waktunya, sekalipun ia adalah seorang Nabi. Hal ini ternyata dimanfaatkan oleh sebagai oknum untuk menyebarkan pemahaman sesat dan mengatakan bahwa ‘kiamat sudah dekat’.

Belum lama ini, warganet kembali dihebohkan dengan pemberitaan sejumlah penduduk Ponorogo yang rela meninggalkan rumah mereka karena terpapar doktrin sesat ini. Usut punya usut ternyata mereka memang didoktrin oleh sebuah thoriqoh yang bernama Thoriqoh Muso dan bermarkas di sebuah ponpes di Malang. Bagaimana fakta kebenaran di baliknya? Simak ulasannya berikut ya!

Pertama kali disebarkan oleh warga bernama Katimun

Gazebo tempat Katimun sebarkan ajaran sesat [Sumber gambar]
Berdasar laporan Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, ada sekitar 52 warganya yang pindah ke Malang karena takut pada kiamat yang akan terjadi. Sebabnya, warga Dukuh Rrajan, Desa Watubonang yang bernama Katimun (48) memengaruhi penduduk lain untuk masuk thoriqoh ini. Alhasil, mereka yang pikirannya telah dicuci oleh ceramah-ceramah Katimun tunduk dan rela meninggalkan rumah untuk kemudian mengungsi ke Malang untuk mondok di Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin.

Fatwa-fatwa sesat yang diajarkan oleh Thoriqoh Muso

Rumah warga yang dijual dan foto kiai anti-gempa [Sumber gambar]
Entah bagaimana Katimun menyihir para warga hingga mereka percaya dengan ajaran sesat yang ia bicarakan. Melansir laman detik.com, ada 7 fatwa yang dikeluarkan sebagai persiapan menyongsong kiamat yang akan datang. Fatwa itu di antaranya: 1) Warga diminta menjual asset berharga mereka sebagai bekal di akhirat, 2) Akan ada perang huru-hara sehingga mereka harus membeli pedang seharga 1 juta rupiah, 3) Setor gabah 500 kg per orang sebagai upaya hadapi paceklik di tahun 2019-2021, 4) Mengibarkan bendera tauhid, 5) Anak-anak tidak boleh sekolah, 6) Bersumpah untuk mengamalkan Thoriqoh Muso, serta 7) memasang foto pengasuh Ponpes sebagai anti-gempa.

Kasus ini akhirnya diusut oleh pihak berwajib

Pertemuan polisi, wakil dari NU dan beberapa lembaga lain [Sumber gambar]
Karena sudah heboh di berbagai media, polisi akhirnya turun tangan. Menggandeng perwakilan dari MUI, NU dan Muspika, Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto bergerak cepat mengadakan pertemuan langsung dengan pimpinan Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin, Kiai Agus Muhammad Romli Sholeh. Pertemuan ini ternyata sudah berlangsung ketiga kalinya, mereka membahas seputar keresahan yang sudah dialami oleh banyak warga, bahkan membuat penduduk Ponorogo ingin pindah ke lembaga pendidikan yang ada di Kasembon ini.

Pengakuan dari pimpinan ponpes Miftahul Falahil Mubtadin, Malang

Tentang thoriqoh dan pembelaan pimpinan ponpes, Gus Romli [Sumber gambar]
Dari pertemuan tersebut, sang pimpinan pondok mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Katimun tidaklah sama dengan yang ia sampaikan terhadap jamaahnya. Kiai yang kerap disapa Gus Romli ini membantah bahwa adanya ungkapan kiamat sudah dekat serta imbauan untuk membeli foto, pedang, serta menjual asset berharga penduduk. Ia hanya mengatakan jika di tahun ini akan ada meteor yang jatuh mendekati bulan Ramadan, maka dari itu warga harus mempersiapkan segala sesuatu. Karena, jatuhnya meteor adalah salah satu dari tanda akan datangnya kiamat.

BACA JUGA: 5 Ajaran Sekte Sesat yang Bisa Membuatmu Kaget dan Tak Bisa Berkata Apa-apa

Masih melansir detik.com, Gus Romli mengakui jika pondok memang mengajarkan Thoriqoh Musa atau Thoriqoh Akmaliyah As- Sholihiyah di mana pengikut atau jemaahnya disebut MUSA AS. Hanya saja, mengenai 7 fatwa yang disebarkan oleh Katimun adalah tidak benar. Pejarannya, Sahabat, jika ada orang yang tiba-tiba datang dengan membawa fatwa atau ajaran yang dianggap aneh, jangan percaya begitu saja ya. karena boleh jadi hal tersebut adalah faham sesat dan menyimpang.