Bagi yang Suka Terlena dengan Puisi, Inilah Para Legenda Sastrawan Indonesia

oleh Febri
16:30 PM on Jul 20, 2015

Jangan dikira yang bisa menjadi legenda kemerdekaan Indonesia hanya para tentara yang berperang merebut kemerdekaan dan mempertahankannya saja, para penyair yang ikut berjuang melalui karya sastranya juga bisa dibilang seorang legenda.

Mereka mendobrak semangat juang rakyat Indonesia untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara yang merdeka, bebas dari kekejaman para penjajah yang merusak negeri ini. Siapa sajakah mereka ? berikut ini ulasannya.

Baca Juga
5 Fakta Gahar Pesawat Buatan Anak Bangsa N219 yang Bakal Bikin Negara Tetangga Iri
Deretan 10 Paskibraka Cantik Pembawa Bendera Pusaka Di Upacara Istana Kepresidenan yang juga Pantas Membawa Hatimu

1. Muhammad Yamin, dari Angkatan Balai Pustaka

Jiwa nasionalismenya yang membara, tak hanya ia curahkan dalam dunia politik saja, tapi juga dalam setiap bait karya-karya puisi ciptaannya yang menularkan rasa cinta terhadap tanah air bagi siapa saja yang membacanya.

Muhammad Yamin, Dari Angkatan Balai Pustaka
Muhammad Yamin, Dari Angkatan Balai Pustaka [ImageSource]
Ia menjadi salah satu orang yang sangat beruntung saat itu, karena memperoleh pendidikan tinggi pada masa kolonial Belanda, ia juga belajar sastra asing, khususnya sastra Belanda. Mohammad Yamin lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903. Dan semasa hidupnya telah menghasilkan karya-karya sastra yang luar biasa, diantaranya pusi berjudul “Indonesia tumpah darahku”.

2. Chairil Anwar, Dari Angkatan 45

Karyanya banyak sekali dimuat dalam buku-buku pelajaran sekolah yang membahas tentang perkembangan sastra Indonesia di masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Nama Chairil Anwar masuk dalam golongan para penyair angkatan 1945, karena hidup di masa perang kemerdekaan. Puisi-puisinya seolah ikut membara seperti semangat para pejuang saat itu.

Chairil Anwar, Dari Angkatan 45
Chairil Anwar, Dari Angkatan 45 [ImageSource]
lewat karyanya yang berjudul “Aku”, ia menjadi terkenal dan mendapatkan julukan “Si Binatang Jalang”. Sastrawan yang lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 itu adalah pelopor penyair angkatan 45 yang lainnya seperti Sitor Situmorang dan Asrul sani.

3. Sutan Takdir Alisjahbana, dari Angkatan Pujangga Baru

Tak hanya sebagai seorang penyair, ia juga ahli dalam tata Bahasa Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 yang lalu. Ia merupakan keturunan bangsawan Kesultanan Indrapura, maka otomatis ia juga punya hubungan kerabat dengan Sutan Sjahrir, Perdana Mentri Pertama Indonesia.

Sutan Takdir Alisjahbana, Dari Angkatan Pujangga Baru
Sutan Takdir Alisjahbana, Dari Angkatan Pujangga Baru [ImageSource]
Semasa Hidupnya ialah yang melakukan modernisasi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa ini. Contoh karyanya adalah Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) yang masih dipakai hingga sekarang. Ia memiliki cita-cita luhur yang belum tercapai hingga saat ini, yaitu menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung negara-negara di Asia Tenggara.

Mirisnya bahasa indonesia saat ini telah banyak mengalami kemunduran. Para generasi masa kini lebih suka memakai bahasa-bahasa yang katanya lebih gaul daripada menggunakan bahasa Indonesia yang benar.

4. Taufik Ismail, Dari Angkatan 66

Siapa yang tak kenal dengan sosok Taufik Ismail, seorang penyair dan sastrawan kondang asal Indonesia. Ia lahir dari pasangan Gaffar Ismail dan Sitti Nur Muhammad Nur di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Sejak kecil ia memang gemar membaca, tak heran, karena Taufik Ismail sendiri tumbuh dalam lingkungan para guru dan wartawan.

Taufik Ismail, Dari Angkatan 66
Taufik Ismail, Dari Angkatan 66 [ImageSource]
Taufik Ismail pernah menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Setelah lulus, ia banyak menciptakan karya sastra yang indah termasuk buku-buku kumpulan puisinya yang berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Karena karyanya tersebut, ia dikategorikan sebagai penyair angkatan 66, dan banyak mendapatkan penghargaan, diantaranya Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994).

Itulah beberapa penyair Indonesia yang berprestasi dengan karya-karya sastranya. Lalu bagaimana nasib sastra Indonesia saat ini? Semoga dengan mengenang para penyair tersebut, kita jadi lebih sadar bagaimana menjaga budaya dan sastra Indonesia khususnya bahasa Indonesia.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
BERITA LAINNYA
BERITA PILIHAN
Seperti Ini Nasib Para Pemain Film Esek-Esek Setelah Pensiun, Dijamin Kaget Kamu Lihatnya 25 Foto Selfie Fail Abis yang Bikin Kamu Ketawa Ngakak Sampe Perut Mules 15 Potret Nona Berlian, Pemeran Ronaldowati yang Kini Cantiknya Tak Kalah dari Gadis Korea Tak Hanya Fenomena Gancet, Ternyata ‘Cupang’ Juga Bisa Membuat Orang Meninggal 7 Fakta Tentang Dunia Esek-Esek Jepang yang Bakal Membuatmu Tercengang Kabar Terbaru Dicky Haryadi, Kontestan AFI 1 yang Dulu Pernah Bikin Para Cewek Meleleh Ternyata Segini Gaji Pemain Film "Dewasa", Penderitaan Tidak Sebanding dengan Penghasilan Cantik dan Soleha, Putri Sulung Almarhum Uje ini Bikin Cowok Rela Ngantri Jadi Imamnya 5 Bercandaan Presiden Soekarno yang Lebih Kocak Dari Stand Up Comedy Wanita Ini Bikin Geger Gara-Gara Mengaku Sebagai Nabi Terakhir dan Punya Kitabnya Sendiri
BERITA TERKAIT
BACA JUGA