in

Wall of Shame Peru, ‘Tembok Berlin’ Jilid II yang Bikin Sebagian Rakyat Sana Menderita

Tidak peduli pandangan dunia [sumber gambar]

Keberadaan Tembok Berlin masa lalu memang sempat jadi sebuah masalah dunia. Pasalnya hal itu dianggap sebuah sikap diskriminatif luar biasa antara si miskin dengan si kaya. Alhasil tembok besar yang memisahkan dua negara itu dihancurkan bersama karena sejatinya penduduk dua kota di Jerman itu sama-sama ingin bersama seperti dulu.

Akan tetapi siapa sangka kalau di masa saat ini masih ada hal yang serupa. Ya ada sebuah dinding panjang dan besar yang memisahkan antara si miskin dengan kaya. Lalu di manakah tembok pemisah itu berada? Simak ulasan berikut.

Sebuah dinding pemisah yang disebut ‘Tembok Berlin’ Peru

Meskipun kisah mengenai tembok Berlin sudah usang dan hanya menjadi cerita sejarah, namun siapa sangka kalau kejadian serupa terulang kembali. Tidak lagi bertempat di Jerman, ternyata dinding pemisah antara dua bagian kota ini berada di Peru. Tepatnya di Las Casuarinas dan wilayah Vista Hermosa terbentang sebuah tembok panjang yang memisahkan keduanya.

Dinding pemisah [sumber gambar]
Bahkan tembok ini sendiri dijuluki sebagai Wall of Shame karena mengingat fungsinya yang sengaja memisahkan penduduk berdasarkan kriteria tertentu. Dibangun sepanjang 10 kilometer tinggi 3 meter dengan kawat berduri, namun entah kenapa sampai sekarang tembok pemisah ini tidak dirobohkan.

Alasan ekonomi jadi hal utama pembangunannya

Jika dulu Tembok Berlin awalnya dibangun karena adanya perbedaan pandangan politik yang mengacu pada perang dingin, maka tidak dengan yang ada di Peru. Pasalnya di sana ternyata pembangunan tembok ini lantaran masalah ekonomi antara kedua wilayah. Ya, La Casuarinas menjadi tempat hidup para orang kaya penuh harta dan jadi perencana pembangunan Wall of Shame di Peru.

Si miskin vs Kaya [sumber gambar]

Sebaliknya penduduk Vista Hermosa adalah masyarakat miskin. Pembuatan tembok awalnya dengan dalih untuk melindungi harta para penduduk kaya dari pencuri, perampok dan tindak kriminal lainnya. Namun lama kelamaan malah jadi sekat pemisah antara kedau daerah di sana.

Pandangan kedua penduduk yang amat berbeda

Bukan tanpa alasan banyak orang memberinya julukan ‘Dinding Rasa Malu’ karena upaya pemisahan ini dianggap hal yang kurang baik. Bagi kebanyakan penduduk dunia serta warga di daerah miskin tentunya menganggap hal ini membebani. Pasalnya adanya tembok ini membatasi mereka berinteraksi dengan kota sebelah. Apalagi mereka kadang harus juga memutar sangat jauh hanya untuk datang ke kota sebarang.

tetap berdiri kokoh [sumber gambar]
Aksi pembuatan tembok ini juga dianggap terlalu berlebihan dan hanya ingin mementingkan kekayaan diri. Nah sebaliknya pihak kaya mengatakan kalau tak ada sama sekali sikap diskriminatif hanya upaya mereka melindungi diri dari kriminalitas.

Banyak sekali tekanan untuk segara merobohkan tembok ini

Tentunya melihat adanya kejadian Tembok Berlin Jilid 2 ini membuat dunia jadi berespon atas yang terjadi di sana. Da tentunya menuntut agar tembok itu sendiri segara dirobohkan karena bisa menimbulkan sikap diskriminatif antara si kaya dengan si miskin.

Tidak peduli pandangan dunia [sumber gambar]
Tak hanya itu, bahkan beberapa negara sudah melakukan petisi baik secara Online maupun secara langsung untuk menyudahi keberadaan tembok yang dianggap sangat merugikan. Akan tetapi yang ada malah balasan yang terduga diterima. Pihak Las Casuarinas sama sekali tidak peduli dengan adanya tekanan itu bahkan jika dan tak takut jika petisi itu untuk merobohkan tembok diajukan oleh banyak negara.

Tentunya keberadaan tembok penghalang di Peru ini jadi sebuah hal miris yang terjadi. Dimana seharusnya antara si kaya dan miskin saling bekerja sama. Yang kaya membagikan hartanya bagi yang tak mampu dan si miskin menyediakan jasa atau tenaga untuk bekerja di si kaya.

Written by Arief

Seng penting yakin.....

Leave a Reply

Rupiah Terus Melemah, 11 Meme Kreatif Ala Netizen Ini Kocaknya Bikin Nampol

Miliki Bau Pesing, Tunas Bambu Ternyata Punya Manfaat yang Luar Biasa