Baru-baru ini, publik digegerkan dengan ulah sejumlah petani serta pedagang yang nekat mewarnai cabai dengan pewarna buatan demi meraih keuntungan besar. Hal ini mungkin tak baru, mengingat banyaknya ulah nekat serta curang yang telah dilakukan oleh beberapa orang di dunia perdagangan.

Mulai dari mencampur bahan makanan dengan borax, memberi pewarna pakaian, hingga menjual daging tak segar, bukan lagi merupakan rahasia umum di kalangan pedagang. Membuat resah masyarakat, inilah kumpulan kasus kecurangan yang dilakukan oleh beberapa pedagang di Indonesia.

Mewarnai cabai dengan pilox

Masih segar di ingatan, beberapa hari lalu masyarakat tengah dibuat geram oleh aksi petani serta pedagang cabai. Pasalnya, salah satu petani asal Temanggung telah mengakui aksinya dalam menyemprotkan pewarna pilox pada cabai kuning miliknya. Hal ini ia lakukan demi mengelabui para penjual serta mendapatkan keuntungan yang besar.

Cabai pilox [sumber gambar]
Petani berusia 35 tahun tersebut diketahui telah mengoplos cabai rawit asli dengan cabai pewarna. Namun beruntung, kecurangan ini telah terkuak dan segera diproses di jalur hukum.

Daging sapi yang ternyata babi!

Sebanyak 500 kilogram daging telah diamankan oleh pihak kepolisian Bandung pada bulan Mei 2020 silam. Pasalnya, daging yang memiliki warna dan tekstur seperti sapi ini adalah daging babi yang digunakan untuk mengelabui para pembeli. Sebanyak 4 orang berhasil diamankan dan menyandang status sebagai tersangka.

Ilustrasi daging sapi palsu [sumber gambar]
Para tersangka pun mengakui, bahwa daging babi yang diberi borax hingga menyerupai sapi ini dapat memberikan keuntungan berlipat bagi mereka. Yang lebih parahnya lagi, praktik jual beli daging sapi ‘palsu’ ini sudah berlangsung selama 1 tahun lamanya.

Pedagang menjual ayam tiren

Penjualan ayam yang sudah mati sebelum disembelih atau kerap disebut ayam tiren (mati kemarin), sudah berlangsung sangat lama di dunia perdagangan. Namun para pelaku kecurangan ini nampak tak jera walau beberapa kawanan pedagang lainnya telah diamankan dan bahkan mendekam di penjara. Hal ini dilakukan demi menekan angka kerugian yang terjadi saat ayam milik pedagang sudah mati terlebih dahulu.

Ilustrasi daging ayam tiren [sumber gambar]
Untuk menyiasatinya, beberapa pedagang akan mencampurkan ayam dengan bahan kimia agar bau busuknya menghilang. Tak hanya itu, ayam juga berkali-kali direndam dengan borax agar terlihat lebih segar dan juga kenyal.

Daging tikus untuk pengganti daging sapi pada bakso

Tak bisa dipungkiri jika ada saja pedagang yang selalu mencari keuntungan di setiap barang yang ia jual. Atas hal inilah beberapa pedagang tega mengelabui para pembeli dengan menghalalkan segala cara dalam berjualan. Termasuk menjadikan tikus sebagai pengganti daging sapi/ayam untuk membuat bakso.

Bakso dari daging tikus [sumber gambar]
Beberapa waktu lalu di tahun 2020, polisi menangkap penjual bakso di Madiun yang dicurigai menjadikan daging tikus sebagai bahan utama dalam membuat bakso. Kasus ini lantas menjadi bahan pembicaraan, terlebih dengan adanya berita lain mengenai daging mie ayam yang juga berbahan dasar tikus.

BACA JUGA: Niat Keruk Untung di Masa Pandemi, Petani Ini Memberi Pilox Pada Cabai

Duh, sungguh memprihatinkan ya tingkah pedagang curang yang hanya memikirkan untung belaka. Sebagai pembeli tentu kita harus lebih pintar serta teliti dalam memilih bahan yang akan kita konsumsi nantinya. Selalu berhati-hati ya!