Keberadaan lapangan di sebuah daerah biasanya banyak memberikan manfaat. Selain membuat banyak orang jadi semangat berolah raga, juga bisa juga jadi penghasilan bagi si pengelola. Sayangnya, keterbatasan tempat dan tenaga membuat orang tidak bisa membuat lapangan sendiri.

Tapi, apa yang dilakukan Supomo belakangan ini menarik perhatian banyak orang. Pasalnya, pria tengah baya tersebut berhasil menyulap rawa dan bekas kebun tebu menjadi sebuah lapangan yang megah banget. Wah, kok bisa? Berikut ulasannya.

Kualitas lapangan nggak kalah dari stadion-stadion besar di Indonesia

Supomo [sumber gambar]
Selama ini, kalian yang gemar nonton bola pasti tau kayak gimana megahnya lapangan di stadion-stadion yang ada di Indonesia. Intip saja stadion Gelora Bung Karno atau Gelora Bung Tomo. Nah, hasil kerja keras Supomo ternyata juga nggak kalah megah. Meski belum memiliki ruang ganti, bench pemain, dan tribun penonton ini tetap jadi rujukan bagi para pemain bola papan atas seperti Persebaya Surabaya, Madura United bahkan pemain bola asal Malaysia. Keren banget kan? Seenggaknya, Supomo membuktikan bahwa kerja kerasnya selama ini untuk mengolah rawa menjadi lapangan sepak bola sudah berhasil.

Butuh waktu sampai dua tahun loh buat mengolah lapangan ini

lapangan [sumber gambar]
Bukan cuma kerja keras, ternyata menyulap rawa jadi lapangan megah bukan hasil sim salabim. Ternyata butuh waktu setidaknya dua tahun hingga lapangan yang berlokasi di komplek Yogyakarta Independent School tersebut (YIS) ini resmi dibuka untuk umum. Lahan yang memiliki luas sekitar tujuh hekmar itu, Supomo membuat perencanaan hingga menggarap lapangan. Katanya, nantinya bakal ada fasilitas penunjang juga kok. Karena dulunya lahan tersebut adalah rawa dan kebun tebu, tempat buangan air dari lokasi yang lebih tinggi. Supomo pun membuat waduk waduk kecil untuk menampung air pas musim hujan.

Supomo sudah terbiasa ngurus lapangan

Jadi rujukan atlet [sumber gambar]
Nggak cuma lapangan bola, ternyata di lahan seluas tujuh hektar tersebut juga ada lapangan golf mini dan lapangan hoki. Katanya sih, ke depannya bakal ada lapangan tenis juga. Wah, makin seru ya kalau ada banyak lapangan olahraga. Semua lapisan masyarakat dengan hobi yang beragam bisa datang. Saat diminta untuk mengelola lapangan sepak bola, Supomo mengaku tertantang. Padahal, selama ini Supomo sudah terbiasa mengurus lapangan golf. Dan ternyata, mengurus lapangan bola dan lapangan golf cukup berbeda, seperti karakteristk rumput yang digunakan.

Nggak segan kasih perawatan ekstra buat rumput lapangan

Lapangan [sumber gambar]
Selama ini Supomo menggunakan rumput evergreen untuk lapangan yang ia kelola. Dibandingkan dengan rumput zoysia matrella yang biasanya digunakan untuk lapangan bola, perawatan evergreen lebih berat loh. Namun menurut Supomo di sana letak tantangannya. Namun, kelebihan rumput evergreen, ia lebih cepat recovery-nya. Supomo dan para team melakukan perawatan dan penyiraman rutin agar rumput tumbuh subur. Harapannya sih, dengan lapangan bagus yang selama ini dirawat, persepakbolaan Indonesia, khususnya daerah DIY makin berkualitas.

BACA JUGA: Lodaya Sakti, Lapangan Desa yang Membuat Markas Klub Indonesia Terlihat ‘Cupu’

Apa pun yang dirawat dengan hati pasti akan menghasilkan karya yang berkesan di hati. Begitu juga dengan aksi pak Supomo yang menyulap rawa dan bekas kebun tebu jadi lapangan olahraga. Setelah perjuangan selama dua tahun, akhirnya sudah banyak masyarakat yang bisa menikmati hasilnya, termasuk para atlet sepak bola berkelas di Indonesia.