Beberapa waktu lalu, sempat viral seorang anak pengayuh becak yang berhasil lulus menjadi sarjana. Tak sekedar lulus, wanita bernama Herayati itu bahkan diangkat menjadi seorang dosen luar biasa di sebuah universitas. Kini, kisah serupa seolah terulang kembali lewat perjuangan keras dari sosok bernama Muhammad Hamzah Amirullah.

Berprofesi sebagai pengayuh becak, pria asal Tanjung Batu, Majene, Sulawesi Barat itu berhasil diwisuda sebagai sarjana. Dilansir dari News.detik.com, namanya mendadak viral setelah sebuah video memperlihatkan dirinya datang ke acara wisuda dengan mengayuh becak. Tak sendirian, Hamzah ditemani seorang penumpang yang tak lain adalah sang ibu. Dengan raut wajah yang sumringah dan semangat, ia seakan hendak menunjukkan bahwa meski hanya berprofesi sebagai pengayuh becak, hal tersebut bukanlah penghalang untuk menggapai cita-cita setinggi langit.

Sosok cerdas Bekerja serabutan sejak kecil

Jika ditarik ke belakang, kisah hidup Hamzah semenjak kecil memang akrab dengan kerja keras. Terlebih, latar belakang keluarganya yang berprofesi sebagai nelayan sederhana yang serba kekurangan, menempa dirinya untuk mandiri sejak belia. Tak heran jika sempat bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhannya. Asal halal dan bisa menghasilkan uang.

Bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan [sumber gambar]
Dilansir dari Edukasi.rakyatku.com, Hamzah sempat merasakan susahnya membantu pekerjaan nelayan, memulung, tukang batu, hingga menjajal sebagai tukang jahit sandal sepatu. Hebatnya, Hamzah kecil pada saat itu seolah mengerti dengan kondisi orang tua sehingga tak ingin membebani mereka dengan meminta uang. Dari sinilah ia berpikir untuk mencari nafkah sembari meneruskan pendidikannya. Karena berprestasi, Hamzah bahkan sering mendapat beasiswa.

Berhasil diwisuda dan hadir bersama sang ibu dengan mengayuh becak

Dari lingkungan pula, Hamzah yang berpikiran kritis ternyata membaca dengan cermat penyebab saudara-saudaranya yang memilih tidak mengenyam pendidikan karena faktor biaya. Maka dari itu, ia senantiasa bekerja keras untuk mematahkan hal tersebut. Tak ingin terpengaruh dari lingkungan yang tidak memprioritaskan pendidikan, Hamzah melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang sarjana. Meski pada saat itu dirinya menggeluti profesi sebagai tukang becak.

Sukses diwisuda menjadi sarjana [sumber gambar]
Kerja keras pria 26 tahun itu pun akhirnya terbayar lunas. Semangat dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Hamzah akhirnya berhasil meraih gelar S1 di Universitas Terbuka Majene. Bahkan, mahasiswa program studi manajemen S1 itu berhasil meraih IPK 3,5. Saat menghadiri acara wisuda, Hamzah mengayuh becaknya dengan sang ibu yang menjadi penumpang. Tak ada rasa lelah yang dirasakan oleh dirinya, meski jarak dari rumahnya dengan tempat wisuda berjarak 6 kilometer.

Perjuangan keras yang akhirnya berbuah manis

Selain mengayuh becaknya, kedatangan Hamzah juga dihadiri puluhan siswa-siwi SMKN 2 Majene yang setia mengawal dirinya. Usut punya usut, mahasiswa program studi manajemen itu merupakan pendiri organisasi dan pembina Pramuka sekaligus alumnni SMKN 2 Majene. Tak heran jika sosoknya yang inspiratif tersebut mendapat apresiasi dari mereka.

Hamzah akhirnya diangkat menjadi pegawai [sumber gambar]
Perjuangan keras Hamzah meraih gelar sarjana ternyata mengantarkannya pada kesuksesan. Direktur UT Majene, Drs Arifin Tahir,S.Pd, M. Pd, menuturkan, salah seorang alumnusnya itu langsung diangkat sebagai pegawai pada tahun ajaran 2019. “Pak Rektor (Rektor UT, Drs. Ojat Darojat, M. Bus, P.hd, Red) begitu peduli. Beliau langsung meminta agar Hamzah diangkat sebagai pegawai. Ini juga sebagai komitmen UT dalam memperhatikan setiap alumninya,” tandas Arifin yang dikutip dari Edukasi.rakyatku.com.

BACA JUGA: Perjuangan Anak Pengayuh Becak yang Kini Sukses Diangkat Jadi Dosen Luar Biasa

Usaha memang tidak mengkhianati hasil. Mungkin, ungkapan itulah yang pantas untuk menggambarkan perjuangan keras seorang Muhammad Hamzah Amirullah. Meski menjadi pengayuh becak, hal tersebut bukan menjadi penghalang bagi dirinya untuk meraih pendidikan hingga ke jenjang tertinggi. Sebuah semangat yang layak untuk dijadikan teladan bagi generasi muda.