Seperti yang diketahui, Tiongkok kini semakin dikenal masyarakat dunia lantaran kemajuan teknologi yang semakin pesat. Tak hanya berjaya di bidang ekonomi, Tiongkok juga mengembangkan teknologi di sektor militer, luar angkasa dan sains. Kemajuan pesat tersebut, membuat negara barat seperti Amerika Serikat, mulai was-was. Tiongkok dinilai bisa menjadi pesaing berat negeri Paman Sam pada percaturan global.

Di sisi lain, Indonesia pun dapat mengambil manfaat dari kemajuan tersebut. Dengan mengadakan kerjasama strategis di bidang-bidang tertentu, Indonesia bisa menyempurnakan teknologi miliknya yang diperoleh dari Tiongkok. Peluang untuk mandiri pun lebih besar karena penguasaan teknologi yang telah didapat. Seperti apa kecanggihan teknologi milik Tiongkok yang cocok bagi Indonesia? Simak ulasan berikut.

Teknologi satelit yang dapat ditarik kembali

Pada tahun 2019 dan 2020 mendatang, Tiongkok akan mengembangkan sebuah teknologi satelit yang dapat ditarik kembali. Wacana tersebut mengemuka setelah pihaknya berhasil menarik 20 satelit di angkasa yang telah betugas sejak 1975. Teknologi canggih itu rencananya akan dikembangkan oleh China Academi of Space Technology (CAST). Nantinya, satelit tersebut bisa digunakan oleh negara pemakai yang disesuaikan dengan kebutuhannya.

Ilustrasi satelit Tiongkok [sumber gambar]
Jika memang terealisasi, Indonesia bisa mengambil keuntungan dengan mengajak kerjasama di bidang pengembangan. Diharapkan, Indonesia dapat membuat satelitnya secara mandiri di masa depan dan mengurangi ketergantungan pada negara lain. Sekedar info, satelit Palapa yang digunakan saat ini merupakan buatan Amerika Serikat.

Pengembangan kapal induk militer

Diam-diam, negeri tirai bambu telah meresmikan sebuah kapal induk yang diproduksi secara keseluruhan oleh teknologi lokal. Keberhasian tersebut membuat Tiongkok kian disegani di mata dunia, terutama kekuatan militer lautnya. Kapal induk baru tersebut sanggup memuat 24 jet tempur Shenyang J-15 dan 12 helikopter serbu anti-kapal selam serta peringatan dini serangan udara. Kapal induk ini juga dirancang untuk operasi penyelamatan.

Kapal induk Tiongkok yang bisa ditiru Indonesia [sumber gambar]
Indonesia yang kini tengah gencar-gencarnya memproduksi kapal laut sipil dan militer, bisa mengambil bagian pada proyek ini. Jika terjadi kesepakatan kerjasama, bukan tak mungkin Indonesia bisa mengambil contoh dari teknologi kapal induk milik Tiongkok. Selain teknologi alutsista Indonesia yang semakin berjaya, peluang ini bisa melepas ketergantungan pengadaan arsenal militer pada negara lain.

Misil hipersonik

Di tengah kemelut hubungannya dengan negara-negara barat, Tiongkok telah menyelesaikan sebuah senjata hipersonik berteknologi tinggi. Teknologi yang juga dibuat oleh China Academi of Space Technology Corpo (CASC) tersebut, merupakan tahap peningkatan mesin ramjet yang menjadi pendorong rudal. Dengan teknologi tersebut, rudal hipersonik Tiongkok dapat melesat dengan kecepatan 4.000 mph (6.400 kilometer per jam) untuk menghantam pesawat musuh.

Kemajuan misil hipersonik yang bisa ditiru Indonesia [sumber gambar]
Pengembangan teknologi rudal tersebut, juga bisa diambil sebagai contoh oleh anak negeri. Seperti yang telah diketahui, Indonesia telah berhasil menciptakan rudal sendiri yang dinamakan Petir. Dengan adanya pengembangan teknologi dari Tiongkok, bukan tak mungkin ilmuwan Indonesia bisa membuat sebuah kerjasama di bidang pengembangan. Dengan begitu, rudal buatan Nusantara juga tak kalah canggihnya dengan teknologi asing.

Teknologi pesawat tanpa awak

Tiongkok rupanya telah berhasil menyamai AS dalam perlombaan drone militer. Hal tersebut dibuktikan dengan kehadiran Caihong 5 (CH-5) dalam jajaran alutsista Tiongkok. Drone yang meruapakan jenis Medium-Attitude Long Endurance (MALE) tersebut, sangup menggotong beban seberat 1.200 Kg. Dengan muatan sebesar itu, CH-5 sanggup membawa 16 rudal udara ke darat, termasuk rudal udara ke darat berpemandu laser Lan Jian 7 (Blue Arrow7), bom berpemandu laser TG 100 laser/INS/GPS, dan rudal antitank AR-1/HJ-10.

Drone Caihong 5 yang tak kalah dengan buatan AS [sumber gambar]
Di Indonesia sendiri, teknologi pengembangan drone juga tak kalah pesatnya. Bahkan beberapa sudah bisa dirakit oleh perusahaan milik negara dan swasta. Momentum inilah yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Jika bisa bekerjasama dengan Tiongkok, Indonesia juga tak menutup kemungkinan bisa membuat sendiri drone militer mereka. Saat ini, drone terbaik yang asli buatan Indonesia adalah Rajawali 720. Sayang, pesawat tanpa awak tersebut masih digunakan sebatas pengintaian saja.

Meski merk Tiongkok sering mendapat stigma negatif di Indonesia, setidaknya teknologi di atas dapat membantu untuk memajukan industri strategis di tanah air. Tak hanya soal kemandirian, kerjasama tersebut juga bisa membuat Indonesia mengurangi anggaran biaya penelitian dan pengembangan teknologi miliknya.