Aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) di Jakarta yang kembali diberlakukan pada Senin (14/9/2020), membuat pengusaha sekaligus salah satu konglomerat terkaya Budi Hartono ikut angkat bicara. Pemilik dari bisnis rokok Djarum itu mengirim surat pada Presiden Joko Widodo dan menyatakan ketidaksetujuannnya soal penerapan PSBB.

Pria bernama asli Robert Budi Hartono dan saudaranya Michael Bambang Hartono, hingga detik ini masih menempati urutan pertama sebagai orang terkaya di Indonesia. Versi Forbes 2019, kekayaan Hartono bersaudara mencapai $37,1 miliar atau setara Rp519,4 triliun (kurs Rp14.000) Lantas, dari mana saja sumber kekayaan tersebut?

Bisnis rokok PT. Djarum

Pabrik rokok PT. Djarum [sumber gambar]
Pabrik rokok PT. Djarum menjadi mesin uang utama yang menghasilkan triliunan rupiah bagi Budi Hartono. Sejak kepemimpinan perusahaan diambil alih dari sang ayah, PT. Djarum berhasil menjual 58.8 miliar batang rokok pada 2017 silam. Sayangnya, pendapatan dan laba perusahaan tidak diketahui karena perusahaan yang didirikan sejak tahun 1951 itu tidak mendaftarkan diri ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

Masuk ke dunia perbankan lewat Bank Central Asia (BCA)

Bank BCA [sumber gambar]
Bank Central Asia (BCA) dibeli oleh Budi Hartono dan saudaranya, Michael Hartono pada saat kondisinya tengah terpuruk akibat krisis Mei 1998. Namun di tangan keduanya, bank tersebut disulap menjadi mesin uang yang menguntungkan. Pada semester I-2020, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp12,24 triliun.

Perusahaan kelapa sawit bernama PT. Hartono Plantation Indonesia (HPI)

Ilustrasi perkebunan sawit [sumber gambar]
Selain rokok dan perbankan, pundi-pundi rupiah juga datang dari perusahaan sawit bernama PT. Hartono Plantation Indonesia (HPI) yang didirikan sejak tahun 2008. Berlokasi di Kalimantan Barat, komoditas yang dikelolanya tak hanya sawit tapi juga mencakup cengkeh, tembakau, tebu, jarak kepyar, dan minyak atsiri. Pada Tahun 2013 penjualan HPI-Agro mencapai Rp90,9 miliar, dan menjadi Rp2,01 triliun di tahun 2017.

Merambah produk elektronik Polytron

Salah satu gerai milik Polytron [sumber gambar]
Bisnis produksi alat-alat elektronik juga dimasuki oleh Hartono bersaudara lewat merek Polytron. Perusahaan tersebut memproduksi berbagai macam kebutuhan rumah tangga seperti kulkas, AC, TV LED, hingga LCD. Baru-baru ini, Polytron juga melebarkan sayap dengan memproduksi smartphone berbasis Android.

Kepemilikan perusahaan bisnis berbasis digital lewat GDP Venture

Salah satu acara GDP Venture [sumber gambar]
Potensi bisnis digital dan internet yang diprediksi kian berkembang di masa depan juga menarik minat Hartono bersaudara. Lewat Grup Djarum, mereka mendirikan PT Global Digital Prima (GDP) Venture pada tahun 2010. Kini, perusahaan tersebut membawahi banyak bisnis digital seperti PT Darta Media Indonesia (Kaskus), PT Global Digital Niaga (Blibli), PT Global Tiket Network (Tiket.com), PT Digital Startup Nusantara (DailySocial.id), dan lainnya.

BACA JUGA: 5 Konglomerat Indonesia yang Kekayaannya Menopang Perekonomian Negara

Salah satu alasan dari ketidaksetujuan Budi Hartono soal PSBB di Jakarta dikarenakan hal tersebut tidak efektif menurunkan tingkat infeksi. Ia juga menyarankan agar pemerintah seharusnya menyiapkan tempat isolasi mandiri. Semua hal tersebut tertulis dalam suratnya yang diunggah di akun Instagram Mantan Duta Besar Polandia, Peter F Gontha, Minggu (13/9/2020). Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?