Sebagai satu hal yang sakral dalam kehidupan, setiap orang yang menikah tentu hanya ingin mengikat janji suci satu kali saja, dengan orang yang mereka cintai. Tetapi, hidup di negara Indonesia yang punya segudang budaya dan tradisi membuat cinta kadang tak bisa berbicara. Dalam beberapa adat, ada suku-suku yang tidak boleh menikah, jika hal tersebut dilanggar maka siap-siap dengan konsekuensinya.

Selama ini mungkin yang banyak kita tau, larangan menikah hanya ada dalam suku Sunda dan Jawa saja. Akan tetapi, ternyata selain dua suku tersebut ada beberapa mitos yang juga dipercayai oleh suku lain. Apa saja sih? yuk, kita bahas tuntas dalam ulasan berikut ini.

Mitos larangan menikah antara orang Jawa dan Sunda, ternyata ada penyebabnya loh

Alkisah di zaman kerajaan dahulu kala, Raja Majapahit yang berkuasa ketika itu, Hayam Wuruk akan menikahi putri kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka. Namun, patih Gadjah Mada ketika itu sudah punya maksud untuk menaklukkan kerajaan Dyah Pitaloka. Sehingga saat rombongan datang dan singgah di Bubat, sang patih malah meminta Dyah Pitaloka menjadi persembahan.

Pernikahan adat [sumber gambar]
Sayang, bukannya pernikahan, yang terjadi malah perang yang membuat Dyah Pitaloka terbunuh. Sejak saat itulah muncul kepercayaan bahwa kedua suku –Sunda dan Jawa—tak boleh menikah. Jika hal tersebut terjadi, maka mereka tidak akan langgeng. Bagaimana pasangan Sunda-Jawa, apa memang begitu?

Batak dan Jawa yang punya watak berseberangan

Kita tau kalau orang Batak terkenal dengan watak dan nada bicara mereka yang keras. Sedangkan suku Jawa, bukan rahasia lagi jika banyak sekali orang di dalamnya yang berbicara dengan nada lemah lembut. Bukan hanya itu saja sebenarnya, ada banyak sekali perbedaan selain hal di atas. Dalam suku Batak, menikah dengan marga yang sama-sama Batak adalah hal yang sangat penting.

Pernikahan suku Batak-Jawa [sumber gambar]
Hal tersebut sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang mereka dulu. Belum lagi, dari segi agama. Orang-orang Batak banyak menganut keyakinan sebagai Kristen, sedangkan Jawa mayoritas muslim. Di Indonesia sendiri, perbedaan keyakinan kadang menjadi masalah tersendiri bagi pasangan, meski saling mencintai. Hal inilah yang kemudian membuat Batak-Jawa konon tidak cocok membina rumah tangga bersama.

Orang Sunda dan suku Minang, benarkah tak bagus bersama?

Bagi orang Minang, masih banyak yang menganut sistem matrilineal di mana tata kehidupannya diatur oleh ibu sebagai pengambil keputusan dalam keluarga termasuk dalam ranah ekonomi. Hal ini jelas berbeda sekali dengan orang-orang yang lahir dan berdarah Sunda.

Pernikahan minang [sumber gambar]
Jika ada wanita Sunda yang menikah dengan lelaki minang, atau sebaliknya, hal tersebut dipercaya bisa mendatangkan masalah. Terutama, karena perempuan Sunda terkenal loyal dan tidak eman dalam membeli sesuatu, sedangkan Minang terkenal lebih pelit dan hemat.

BACA JUGA: Siap-siap Bagi yang Mau Melamar, 5 Mahar di Daerah Ini Mahalnya Tak Kalah dari Uang Panai

Terlepas dari banyaknya mitos dan kepercayaan yang sudah dianut lama oleh nenek moyang kita di atas, sebenarnya keputusan untuk menikah atau tidak itu kembali lagi ke masing-masing orang. Ada kok yang sudah berumah tangga hingga kakek-nenek dari suku berbeda tetapi masih langgeng sampai kini. Sebaliknya, ada pula yang berasal dari suku yang sama, namun tidak sukses membangun rumah tangga hingga akhirnya berpisah. Kehidupan rumah tangga itu dibangun oleh dua orang, maka seharusnya, pengertian, kasih sayang, dan cinta satu sama lain bisa menguatkan pondasi rumah tangga tersebut.